Kamis, 02 Juli 2009

Banyak Hal yang Harus Diketahui Perempuan

Peserta Praprogram dan kursus Kajian Wanita berpartisipasi dalam kunjungan lapangan pada Jumat, 29 Agustus 2008. Pertama, kami mengunjungi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Dari hasil diskusi di tempat ini, saya belajar tentang bagaimana KPI membela hak asasi perempuan yang dilacurkan. Pandangan mengenai mereka cenderung masih berkonotasi negatif di mata masyarakat. Masyarakat cenderung tidak memperhatikan faktor keterpaksaan yang dialami mereka dan sempitnya kesempatan untuk mengakses informasi bagi mereka. Terus terang, saya merasa kagum atas usaha KPI yang tidak membuat program untuk membuat mereka berhenti dari profesinya, tetapi lebih menyadarkan mereka tentang kesehatan reproduksi—dalam hal ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan informasi.

KPI mempunyai kebijakan yang unik dalam pengelompokan kaum yang dibela. KPI membela kaum lesbian, biseksual, dan transgender. Bagi saya, ini adalah topik yang sangat menarik mengingat kaum tersebut cukup dekat dengan lingkungan saya. Sayang sekali, anggota KPI tidak membahas secara detil mengenai topik ini. Saya masih bertanya-tanya penyadaran apa yang dilakukan KPI terhadap mereka—apakah masih seputar kesehatan reproduksi atau penyadaran lainnya—dan juga segala lika-liku masalah yang mereka alami. Sejauh pengamatan saya, kaum lesbian ataupun biseksual sendiri pun masih enggan untuk mengakuinya.

Setelah dari KPI, kami melanjutkan kunjungan lapangan ke Komnas Perempuan. Sepanjang diskusi, saya menarik garis besar bahwa Komnas Perempuan banyak bergerak di bidang pemerintahan, seperti memberi pelatihan sensitivitas gender pada aparat hukum maupun mengambil andil dalam perevisian dan pengamatan kebijakan agar berperspektif gender. Setelah itu, saya sadar, sedari mulai sekolah di Sekolah Dasar sampai tamat Sekolah Menengah Utama, saya tidak pernah mendapat pengetahuan, pelajaran, ataupun pelatihan yang membuka mata saya terhadap gender. Bahkan, ketika saya duduk di bangku kuliah, hanya ada segelintir mata kuliah saja yang membahas mengenai gender. Dari sini, saya ingin sekali menjadi seseorang yang bisa mengantarkan pengetahuan mengenai kesetaraan gender kepada orang lain. Apalagi, seorang pembicara dari Komnas Perempuan sangat memotivasi saya untuk turut serta bergabung memperjuangkan kesetaraan gender yang terjadi dengan tulus.

Dalam perjalanan menuju tempat berikutnya, ada satu pikiran yang terlintas. Ketika sekelompok orang sibuk membenahi aturan di negara ini yang membela perempuan, apakah mereka yang diperjuangkan tahu akan kebijakan-kebijakan yang melindungi mereka? Karena dari beberapa kebijakan yang dinyatakan dalam diskusi tadi, jujur saja, beberapa di antaranya baru pertama kali saya dengar. Bagaimana dengan perempuan lainnya?

Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan menuju LBH APIK. Pembicara-pembicara dari LBH APIK sangat informatif. Mereka banyak bercerita tentang contoh kasus yang terjadi, terlebih mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Cerita-cerita ini membuat saya sadar kembali bahwa informasi yang masyarakat punya sangat minim. Bahkan, penjabaran mengenai kekerasan dalam rumah tangga sangat luas, tidak terbatas pada kekerasan fisik. Banyak perempuan di lingkungan saya, bahkan saya sendiri, yang tidak tahu bahwa mereka dilindungi secara hukum jika terjadi kekerasan psikis atau ekonomi dalam rumah tangga mereka. Tidak sekali atau dua kali saya terkejut dengan contoh kasus yang diberikan pembicara, betapa banyak perempuan yang tersiksa dalam lingkungan terdekatnya sendiri, yaitu keluarga. Lagi-lagi, saya merasa harus banyak agen yang menyampaikan informasi ini kepada masyarakat umum, baik perempuan maupun laki-laki.

Sepulang dari sini, ada satu pertanyaan yang masih melekat mengenai kekerasan dalam ekonomi, yaitu mengenai definisi kekerasan ekonomi dalam rumah tangga. Selama beberapa hari saya mendalami masalah gender, saya justru melihat adanya dorongan yang kuat bagi seorang perempuan untuk tetap bekerja tanpa dihantui stereotip masyarakat yang mengharuskan perempuan hanya di rumah. Saya melihat kedua hal ini bertolak belakang. Namun, saya sadar, mungkin saya belum mendalami kembali definisi kekerasan ekonomi tersebut seperti apa.

Kesempatan untuk melakukan kunjungan lapangan seperti ini mendorong keinginan saya untuk terjun langsung di lapangan. Saya ingin mengetahui segala permasalahan perempuan yang mengadu dan bagaimana membantu memecahkannya. Pada akhirnya nanti, saya ingin mengambil peran untuk menyebarluaskan isu gender dan memberikan pengetahuan kesetaraan gender.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar