Kamis, 02 Juli 2009

Celah untuk Perempuan dalam Kapitalisme Global

Globalisasi membuka ruang-ruang yang dulunya tertutup. Segala celah yangtadinya tertutup rapat dapat diterobos dengan adanya globalisasi. Dunia tidak lagi dibatasi oleh urusan dalam negara. Segala macam urusan dapat berkembang pesat dengan penerobosan dari satu negara ke negara lainnya.

Menurut Gadis Arivia, globalisasi telah membuka akses dan pengetahuan yang membuat negara berkembang bisa belajar dari negara maju (2006, 369). Warga dunia pun berebut memanfaatkan globalisasi ini. Mereka semua haus akan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan seperti yang dijanjikan dari efek globalisasi.

Akan tetapi, globalisasi itu sendiri tidak luput dari konsep patriarkal dan kapitalisme. Tentu saja, seperti yang telah dibahas sebelumnya, kedua hal ini merupakan sumbu utama dari keterpurukan perempuan sebagai warga dunia. Oleh karena itu, pertanyaan yang muncul adalah apakah dalam era globalisasi ini perempuan boleh mempunyai harapan yang sama akan kesetaraan kesehatan, pendidikan, dan kesehahteraan seperti yang dielu-elukan?

Globalisasi membuka ruang kerja bagi warga dunia untuk tinggal dan mencari penghasilan di negara yang bukan asalnya. Indonesia termasuk salah satu negara yang dijadikan sebagai tempat untuk bernaung perusahaan-perusahaan multinasional. Oleh karena itu, banyak warga negara asing yang menetap di Indonesia selama beberapa tahun. Mereka harus beradaptasi dengan budaya Indonesia untuk dapat bertahan hidup di sini. Salah satu caranya adalah dengan belajar bahasa dan budaya Indonesia untuk mempermudah komunikasi mereka.

Dalam hal ini, saya mencoba merefleksikan diri saya sendiri. Selama empat tahun terakhir, saya mengajar bahasa Indoensia untuk orang asing yang bekerja dan tinggal di Indonesia. Pada awalnya, saya tergabung dalam salah satu lembaga pengajaran bahasa Indonesia. Dalam lembaga itu, ada satu peraturan tidak tertulis yang mengharuskan pengajar yang bekerja di sana adalah perempuan. Tentu saja, saya merasa beruntung sebagai perempuan yang mempunyai kesempatan lebih daripada laki-laki. Saya merasa mampu memanfaatkan kapitalisme global untuk membantu saya mendapatkan pendidikan dan kesejahteraan.

Perempuan dianggap mempunyai etika perhatian yang lebih daripada laki-laki sehingga lebih mampu mengajar bahasa dengan sabar dan telaten. Selain itu, ada pula pandangan yang mengatakan bahwa perempuan mempunyai keunggulan daripda laki-laki dalam bidang bahasa. Ada pula yang mengatakan bahwa perempuan lebih berpenampilan menarik sehingga dapat dapat diperhatikan secara lebih serius oleh orang lain. Semua faktor tersebut adalah alasan lembaga saya hanya membatasi pengajarnya yang berjenis kelamin perempuan.

Saya tahu, pandangan lembaga tersebut memang terbentuk oleh konstruksi sosial, bahkan tidak terlepas dari menempatkan perempuan hanya sebatas objek. Akan tetapi, saya mencoba menarik sudut pandang yang berbeda. Di dalam kegelisahan perempuan warga dunia akan posisinya pada era globalisasi, saya dapat mendapat posisi yang menguntungkan. Mungkin, hal ini dapat dijadikan suatu contoh bagaimana perempuan mampu mengambil satu celah dalam kesempatan yang ditawarkan kapitalisme globalisasi untuk laki-laki dengan ilmu yang dimilikinya.

Sementara itu, masalah stereotipe yang ada dalam masyarakat, terutama oleh lembaga bahasa tersebut, dapat dipatahkan oleh keinginan permepuan itu sendiri. Memang, sebagian pengajar memanfaatkan hal itu dengan melakukan pekerjaannya tanpa pembuktian akan ilmu yang dimilikinya. Akan tetapi, sangat baik jika perempuan mampu menunjukkan bahwa perempuan memang sanggup diberikan kesempatan tersebut. Perempuan terpilih tidak semata-mata karena faktor-faktor yang disebutkan tadi. Mereka terpilih karena kemampuannya. Hal itulah yang seharusnya ditunjukkan oleh perempuan untuk mengubah paradigma itu.

Paradigma tersebut memang merugikan perempuan di sisi lain. Akan tetapi, perempuan juga harus mencari celah untuk memanfaatkan paradigma tersebut—bahkan secara ekstrim—menjadi sesuatu yang menguntungkan posisi perempuan. Sebagian perempuan sudah memanfaatkan keadaan ini. Sebagai contoh, dalam berita yang diambil dari vivanews.com, “Perempuan Mendominasi UKM”, persentase perempuan dalam bidang usaha menengah meningkat secara signifikan. Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, perempuan berpotensi untuk memperbaiki sosial ekonomi Indonesia, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan penerimaan negara. Kesadaran dan pengakuan pemerintah merupakan langkah awal bagi posisi perempuan di Indonesia dalam menghadapi kapitalisme global. Ini adalah salah satu bentuk perempuan yang mampu mengambil celah dalam kapitalisme global yang ditakutkan pejuang pembela hak perempuan.

Sumber

Arivia, Gadis. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Kompas (2006).

Saputro, Tri. “Perempuan Mendominasi UKM” vivanews.com. 22 Desember 2008. 22 Desember 2008.

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra (2006).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar