Kamis, 02 Juli 2009

Gender, Cara Berkomunikasi, dan Posisi Tawar

a. Latar Belakang

Manusia berusaha menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Manusia mengutarakan konsep yang dipelajarinya dari kehidupan sosialnya melalui bahasa. Kehidupan sosialnya seolah-olah sudah menciptakan bahasa terlebih dahulu dan manusia hanya tinggal menyerap apa yang ada, mengikuti alur yang sudah berjalan di masyarakat. Bahasa itu seperti sudah dibakukan dan masyarakat sudah ajeg dengan bahasa tersebut. Di sisi lain, bahasa seharusnya bergerak dinamis, mengikuti perkembangan zaman untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan manusia yang tentu saja selalu berubah.

Pikiran yang sudah ajeg tersebut dapat terlihat ketika manusia menggunakan bahasa untuk memberikan identitas dirinya. Seperti yang dikatakan oleh Harimurti Kridalaksana, bahasa digunakan anggota kelompok masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi, memberikan identitas sosial, dan bekerja sama (2002, 2). Identitas diri merupakan bentuk dari hasil konstruksi masyarakat. Berdasarkan konstruksi masyarakat yang masih menganut sistem patriarkal, masyarakat percaya bahwa laki-laki mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada perempuan. Laki-laki dianggap patut mempunyai pengetahuan yang lebih luas daripada perempuan. Dengan demikian, laki-laki selalu dianggap dan diterima oleh masyarakat. Laki-laki diperlakukan sebagai pengatur dan penguasa. Mereka pun berbahasa sesuai dengan konsep yang ada di mayarakat itu.

Di sisi lain, perempuan juga menerima konsep itu. Perempuan seolah-olah membantu proses pembentukan laki-laki sebagai pengatur dan penguasa. Kemudian, perempuan merendahkan dirinya—sadar atau tidak sadar—melalui bahasanya. Konsep tersebut menyebabkan perempuan menjadi tidak percaya akan kemampuan dirinya sendiri. Perempuan juga menempatkan dirinya sebagai kaum yang tidak bisa mengatur dan menguasai. Hal itu terlihat dari bahasa yang digunakan sebagai identitas sosial. Perempuan mengidentifikasi dirinya melalui bahasa sebagai kaum yang menjadi subordinat, berada di bawah laki-laki. Mereka melakukan hal itu agar diterima menjadi bagian dari masyarakat, walaupun mereka tahu bahwa mereka berada di bawah dominasi laki-laki.

Dari penjelesan tersebut dapat terlihat bahwa posisi tawar perempuan dalam kehidupan bermasyarakat berada di bawah laki-laki. Memang, dalam perjalanan kehidupannya, perempuan dapat meminimalkan posisi tawar perempuan yang ada di bawah laki-laki sehingga sejajar dengan mereka. Usaha ini dapat diusahakan dengan berbagai cara. Misalnya, apa yang diperjuangkan oleh kaum feminis liberal yang menjunjung tinggi kesetaraan hak politik, pendidikan, ekonomi, dan hukum. Cara tersebut juga dapat dilihat dari bahasa yang digunakan perempuan.

Wodak (2000: 132) menjelaskan bahwa penelitian variasi bahasa berdasarkan gender telah dimulai pada 1960-an oleh William Labov. Pada penelitiannya, Labov menyadari adanya pengaruh jenis kelamin sebagai salah satu faktor di antara sekian banyak hal yang mempengaruhi variasi bahasa. Kemudian, Coates (1998: 2) menjelaskan bahwa ketertarikan penelitian sosiolinguistik berdasarkan gender mulai berkembang pada 1970-an. Penelitian ini mulai menggantikan mitos folklinguistik menjadi fakta. Misalnya, ada mitos linguistik yang mengatakan bahwa perempuan lebih banyak bicara daripada laki-laki, tetapi mitos folklinguistik tersebut terbukti salah setelah dilakukan penelitian selanjutnya mengenai hal tersebut.

Di Indonesia, penelitian gender yang dikaji melalui bahasa masih jarang dilakukan. Memang, terdapat beberapa artikel yang membahas perbedaan sikap atau cara berbahasa yang digunakan perempuan dan laki-laki, seperti yang dilakukan Rahayu Surtiati Hidayat dalam “Penulisan dan Gender” (2004); Setiawati Darmojuwono dalam “Pemilihan Kata dalam Iklan Kontak Jodoh sebagai Cerminan Citra Wanita Indonesia” (2000); Suroso dalam “Jender dalam Bahasa Pria dan Wanita” (2004); dan Kris Budiman dalam “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia” (2001). Namun, kajian itu belum diteliti lebih lanjut. Ada satu tesis yang menarik mengenai bahasa dan gender, yaitu Katubi dalam “Tindak Tutur Meminta Maaf di Kalangan Minangkabau: Kajian Bahasa dalam Perspektif Gender” (2001). Akan tetapi, pembahasannya lebih ditekankan pada aspek bahasa, bukan gender sebagai hasil konstruksi sosial. Esther Kuntjara pun turut andil mengembangkan wacana ini dalam Gender: Bahasa dan Kekuasaan (2003). Sayangnya, kajian beliau tidak didukung dengan penelitian yang mendalam pada tiap topiknya.

Konstruksi gender tersebut dapat dilihat dari relasi romantis antara perempuan dan laki-laki. Relasi itu merupakan salah satu wadah antara perempuan dan laki-laki untuk mengemukakakan eksistensinya dan menyampaikan hasil dari konstruksi sosial yang diterimanya dari waktu ke waktu. Pada kenyataannya, relasi romantis itu memang tidak hanya terjadi antara perempuan dan laki-laki. Banyak etika lain yang bisa terjadi, seperti hubungan sesama jenis. Akan tetapi, hubungan heteroseksual—sebagai hubungan mayoritas—dapat dijadikan sebagai langkah awal dari penelitian sejenis; tanpa mendeskreditkan hubungan minoritas.

Memang, konstruksi sosial yang terbentuk dalam diri tiap individu dapat dilihat dalam banyak hal. Salah satunya dapat terlihat pada cara mempengaruhi dalam hubungan romantis itu sendiri. Ketika seseorang berusaha mempengaruhi lainnya, ia cenderung memperlihatkan cara untuk mengganggu eksistensi orang lain dengan sadar atau tanpa sadar. Ia akan berusaha mengontrol—sedikit ataupun banyak—orang lain untuk mengikuti jalan pikirannya atau dengan kata lain keinginannya.

Cara itu ditunjukkan melalui bahasa yang digunakan. Kalimat-kalimat diproduksi untuk mengekspresikan emosi-emosi. Kalimat-kalimat yang biasa digunakan dalam relasi romantis itu bisa memperlihatkan kita kecenderungan pemikiran individu tersebut. Kemudian, dapat terlihat kecenderungan cara yang digunakan oleh perempuan maupun laki-laki untuk mempengaruhi pasangannya.

Sebuah penelitian dilakukan di Swedia memaparkan bahwa kekerasan—sebagai penanda dominasi—cenderung dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan dekat, seperti keluarga, teman, atau pacar (Margareta Hydén, 1994, 3). Berdasarkan hal ini, saya tertarik mengetahui lebih lanjut mengenai dominasi yang terjadi pada hubungan romantis antara perempuan dan laki-laki. Akan tetapi, jika penelitian tersebut cenderung membicarakan kekerasan dengan bahasa nonverbal (kekerasan fisik), dalam hal ini saya lebih memperhatikan bahasa verbal, khususnya pilihan kata. Pilihan kata merupakan komponen kecil, tetapi mempunyai simbol semantik yang begitu berpengaruh.

Jika bahasa disadari sebagai sesuatu elemen yang penting dalam pembentukan konstruksi sosial, perempuan akan dipermudah dalam pergerakannya. Perempuan akan mampu mengidentitaskan dirinya sejajar dengan posisi laki-laki dan menyampaikan konsep itu kepada masyarakat. Jika bahasa dianggap sebagai sesuatu yang tidak memegang peranan penting, konsep stereotipe yang ada di masyarakat akan terus berlangsung.

Segala bentuk perjuangan perempuan untuk memperoleh haknya disampaikan melalui bahasa, entah itu melalui ekonomi, hukum, politik, budaya, maupun seksualitas. Jika bahasa yang digunakan dalam penyampaiannya tidak dapat meyakinkan keberadaan perempuan sejajar dengan laki-laki, konsep patriarki yang ada di masyarakat pun justru semakin kuat. Bahasa yang digunakan perempuan tanpa sadar bisa jadi justru melemahkan posisinya dan menguatkan peran patriarki. Akan tetapi, jika bahasa yang digunakan justru mencerminkan kemampuan perempuan untuk berada, masyarakat akan percaya dan memposisikannya sejajar dengan laki-laki.

b. Pertanyaan Penelitian

Manusia seringkali tidak menyadari bagaimana bahasa dan konsep yang ada di masyarakat mempunyai hubungan yang saling bergantung. Keduanya dapat saling mempengaruhi. Dengan demikian, bahasa yang digunakan perempuan dapat memberikan identitas perempuan sebagai dirinya sendiri atau juga bisa menjadikan senjata yang akan membuat perempuan menjadi teropresi.

Latar belakang penelitian tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan yang akan berpotensi untuk diteliti.

Bagaimana perempuan dan laki-laki berkomunikasi dalam relasi romantis heteroseksual dan kaitannya dengan posisi tawar?

Berikut beberapa pertanyaan turunan untuk membantu menjawab pertanyaan di atas.

- Bagaimana perempuan berkomunikasi dalam hubungan romantis heteroseksual?

- Bagaimana laki-laki berkomunikasi dalam hubungan romantis heteroseksual?

- Apa persamaan dan perbedaan antara cara berkomunikasi perempuan dan laki-laki dalam hubungan romantis heteroseksual?

- Mengapa persamaan dan perbedaan itu dapat terjadi?

- Bagaimana kondisi objektif dan penghayatan subjektif perempuan dan laki-laki mengenai posisi tawar dalam hubungan romantis?

- Apa kelebihan dan kekurangan dari cara berkomunikasi perempuan dan laki-laki?

c. Tujuan dan Signifikansi penelitian

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan guna mencapai tujuan umum, yaitu menunjukkan cara berkomunikasi pasangan heteroseksual dalam hubungan romantis dan relasinya dengan gender.

Sementara itu, tujuan khusus dari penelitian ini sebagai berikut.

- Menunjukkan cara perempuan berkomunikasi dengan pasangannya dalam hubungan romantis heteroseksual.

- Menunjukkan cara laki-laki berkomunikasi dengan pasangannya dalam hubungan romantis heteroseksual.

- Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara cara berkomunikasi perempuan dan laki-laki dalam hubungan romantis heteroseksual beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

- Menunjukkan kondisi objektif dan penghayatan subjektif perempuan dan laki-laki mengenai posisi tawar dalam hubungan romantis.

- Menunjukkan kelebihan dan kekurangan cara-cara berkomunikasi perempuan dan laki-laki dalam hubungan romantis

Mengingat penelitian mengenai subordinasi perempuan yang dilihat dari bahasa belum dilakukan di lingkup Program Kajian Wanita, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia, penelitian ini dapat menjadi salah satu referensi pada penelitian lainnya yang sebidang di kemudian hari. Selain itu, penelitian ini juga dapat menunjukkan benar atau salahnya anggapan masyarakat mengenai standar cara berkomunikasi perempuan dan laki-laki dalam relasi romantis. Secara keseluruhan, penelitian ini membantu memahami hal-hal yang berkaitan dengan perempuan dilihat dari cara berbahasa. Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan pandangan lain untuk berhubungan romantis pasangan heteroseksual.

c. Tinjauan teori

Bahasa merupakan masalah yang sudah dibicarakan oleh kaum feminis. Bahasa dianggap berasal dari laki-laki, dibuat oleh laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh James Britton, objek dan kejadian dalam dunia ini tidak hadir begitu saja dan sudah terklasifikasi. Klasifikasi yang terbagi adalah klasifikasi yang kita buat sendiri (Spender, 1998, 93). Dale Spender sendiri mempertanyakan kita—dalam pernyataan Britton—merujuk kepada siapa. Menurutnya, tanpa dikatakan langsung, Britton jelas merujuk kepada laki-laki. Laki-laki mengklasifikasikan bahasa dan menjadikan mereka sebagai pencipta bahasa. Kemudian, bahasa tersebut disebarkan dan digunakan oleh manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Dari pemikiran tersebut, perempuan dianggap tidak mempunyai bahasa. Bahasa yang digunakannya tidak dapat mewakili feminitasnya karena laki-laki sebagai penciptanya tidak mengenal itu. Pernyataan bahwa perempuan bisu atau dibisukan tidak dapat dikatakan bahwa mereka selalu bisu di mana-mana. Bukan pula karena mereka mempunyai kemampuan yang kurang terhadap bahasa, seperti yang dikatakan Deborah Cameron (1998, 3). Namun, perempuan menjadi marjinal dalam bahasa yang digunakan sehari-hari.

Luce Irigaray, seorang feminis yang digolongkan dalam feminis posmodernisme, mengemukakan pendapatnya mengenai bahasa. Deborah Cameron menjelaskan bahwa Irigaray banyak menentang pemikiran Lacan yang menempatkan perempuan dan feminin merupakan kebalikan dari laki-laki dan maskulin (1994, 170). Dengan demikian, Irigaray menentang konsep biner. Lacan juga mengatakan bahwa ketidaksadaran terstuktur seperti bahasa. Pertanyaan dari Irigaray adalah bahasa siapa.

Kembali kepada masalah seksualitas, laki-laki dianggap hanya mempunyai satu organ seksual, yaitu penis, sedangkan perempuan mempunyai organ seksual yang lebih dari satu. Perempuan mempunyai labia yang terdiri dari dua bibir. Hal itu dikaitkan dengan bahasa perempuan dan laki-laki. Bahasa yang digunakan laki-laki cenderung mempunyai satu makna, seperti organ seksualnya. Sementara itu, bahasa yang digunakan perempuan cenderung mempunyai makna lebih dari satu; satu seperti yang dikatakannya secara literal (eksplisit), yang lainnya merupakan makna implisit (Cameron, 1994, 171—172).

Selain itu, hasil kerja eksperimental Irigaray juga menunjukkan bahwa laki-laki cenderung menjadikan dirinya sebagai subjek pada setiap wacana yang diucapkan atau ditulis. Hal itu terlihat dari penggunaan ‘saya’ pada awal wacana. Sementara itu, perempuan cenderung tidak menjadikan dirinya subjek. Perempuan lebih banyak menggunakan subjek yang sudah digeneralisasi, seperti ‘laki-laki’ atau ‘orang’.

Oleh karena itu, Irigaray memberikan saran bagi perempuan dalam berbahasa, seperti yang dikatakan Rosemarie Putnam Tong (2006, 297—299). Irigaray menganggap perempuan sanggup menciptakan bahasanya sendiri, tanpa menyangkutpautkan bahasa yang netral gender dan bahasa laki-laki. Ia menekankan bahwa perempuan harus menunjukkan identitasnya dan bangga di dalamnya, bukan menjadi pengecut dengan menutupi identitasnya melalui bahasa yang digunakannya. Dalam praktiknya, Irigaray menyarankan perempuan untuk berani mengungkapkan pendapatnya dengan menggunakan kalimat aktif, tidak lagi menyembunyikan pembicara atau penulis. Salah satu contohnya dikatakan dalam penulisan ilmiah. Ilmu pengetahuan yang begitu kental dengan budaya patriarkal menghilangkan subjektivitas. Di sinilah celah perempuan untuk berani tampil dengan identitasnya, memunculkan subjektivitasnya dengan menghindari kalimat-kalimat pasif.

Dalam Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda, Irigaray menyatakan bahwa wacana perempuan tidak menjadikan lawan bicaranya—laki-laki—sebagai objek. Perempuan tetap menjalin hubungan dengan dunia nyata dengan menjadikan laki-laki sebagai subjek. Meskipun demikian, Irigaray juga berharap bahwa perempuan tetap dapat menjadi subjek dalam wacana yang diajukannya itu (2005, 41—44).

Selain itu, Irigaray juga memberikan jalan keluar untuk perempuan dengan menirukan harapan yang diemban laki-laki terhadap perempuan dengan cara yang melebih-lebihkan. Irigaray memberikan ilustrasi perempuan yang datang ke gereja tanpa pakaian atas dan payudara yang dibesarkan. Hal itu meniru harapan laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objek seks dilebih-lebihkan. Akan tetapi, solusi ini dapat menjebak perempuan kembali kepada definisi tersebut.

Selain Irigaray, ada beberapa teori yang mungkin dapat diaplikasikan dalam penelitian ini. Berikut beberapa buku yang patut dibaca selama penelitian.

- Dow, Bonnie J., Ed.. The SAGE Handbook of Gender and Communication. California: SAGE Publications (2006).

- Unger, Rhoda K., Ed.. Handbook of the Psychology of Women and Gender. New Jersey: Wiley (2001).

- Eckert, Penelope dan Sally McConnell-Ginet. Language and Gender. Cambridge: Cambridge University Press (2003).

- Tannen, Deborah. You Just Don’t Understand. New York: William Morrow and Company, Inc. (1990).

d. Metodologi

Penelitian ini akan membahas masalah gender, bahasa, dan psikologi—terlebih relasi romantis heteroseksual. Sehubungan dengan tujuan penelitian untuk melihat gambaran umum cara berkomunikasi apsangan heteroseksual dalam relasi romantis, penelitian ini akan menggunakan metode kuantitatif.

Metode kuantitatif digunakan untuk melihat gambaran umum mengenai cara berkomunikasi perempuan dan laki-laki dalam hubungan romantis heteroseksual di Jakarta. Hal ini dilakukan karena rujukan untuk memberikan pandangan umum tersebut jarang sekali. Selain itu, metode kualitatif tidak digunakan karena dapat mengurangi unsur keumuman atau pandangan umum mengenai masalah yang dikaji.

Metode kuantitatif dalam penelitian ini akan menggunakan kuesioner. Kuesioner tersebut akan mengajukan beberapa pertanyaan yang akan memberi tahu latar belakang subjek penelitian dan pasangannya. Misalnya, usia, pendidikan, suku, letak geografis, ekonomi, pekerjaan, dan status. Latar belakang hubungan subjek penelitian dengan pasangannya pun akan dicari tahu melalui beberapa pertanyaan, seperti berapa lama mereka telah menjalin hubungan. Selain itu, kondisi objektif dan penghayatan subjektif subjek penelitian akan diungkap. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untk menjawab pertanyaan ini adalah perasaan positif maupun negatif yang cenderung muncul selama berhubungan. Dari segi bahasa, subjek penelitian akan diminta untuk menuliskan satu kalimat yang sering digunakan pada beberapa kesempatan, seperti merayu, minta maaf, cemburu, marah, rindu, dan menyatakan rasa sayang.

Kuesioner tersebut akan memberikan jawaban akan posisi tawar perempuan dan laki-laki ketika memulai hubungan romantis. Selain itu, kuesioner itu juga dapat memberikan gambaran umum mengenai cara berkomunikasi—termasuk bahasa yang digunakan—beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah itu, dari hasil kuesioner diharapkan dapat melihat dampak dari cara berkomunikasi seperti itu.

Kuesioner akan disebarkan kepada 30 perempuan dan 30 laki-laki yang berusia 20 tahun hingga 40 tahun. Pemilihan subjek penelitian akan dilakukan secara acak, tetapi diberikan kepada orang-orang yang tinggal di Jakarta. Jika subjek penelitian sudah menikah, maksimal usia pernikahannya adalah 10 tahun. Hal tersebut dilakukan untuk mempersempit wilayah penelitian sehingga mendapat gambaran sosial yang lebih terpercaya.

Data yang akan didapat dari kuesioner itu akan diklasifikasikan terlebih dahulu berdasarkan jenis kelamin. Hal ini dilakukan untuk mengetahui cara berkomunikasi dilihat dari sudut pandang perempuan, kemudian dari sudut pandang laki-laki. Setelah itu, data juga akan diklasifikan berdasarkan usia, ekonomi, dan pendidikan. Dengan demikian, saya akan mendapat gambaran umum mengenai cara berkomunikasi—termasuk faktor bahasa yang digunakan—pasangan heteroseksual dalam hubungan romantis berdasarkan klasifikasi-klasifikasi tersebut.

Penelitian ini termasuk penelitian yang sensitif karena hubungan romantis pasangan dianggap sangat pribadi. Apalagi, jika dalam hubungan tersebut terjadi sesuatu hal yang tidak umum, seperti kekerasan, mereka akan cenderung menutupi. Di sisi lain, ada kemungkinan juga bahwa mereka tidak menyadari kalau dirinya adalah korban kekerasan dalam hubungannya itu. Dengan mengisi kuesioner ini, subjek penelitian dapat berpikir ulang mengenai hubungan dengan pasangannya. Oleh karena itu, peneliti tidak dapat memaksakan subjek penelitian yang tidak mau mengisi kuesioner.

Selain itu, ketika terjadi penyadaran terhadap subjek penelitian, peneliti sebaiknya mempersiapkan diri untuk mendampingi subjek penelitian. Kemungkinan lain yang dilakukan adalah memberikan rujukan untuk melakukan konseling dengan pihak yang ahli, seperti psikolog. Salah satu cara mengantisipasi hal itu adalah dengan memberikan artikel mendalam mengenai relasi romantis pasangan heteroseksual setelah subjek penelitian mengisi kuesioner. Jadi, pengisian kuesioner pun tidak terpengaruh dengan apa yang dibaca sebelumnya.

Dalam artikel itu, subjek penelitian dapat mengetahui ciri-ciri kekerasan, hukum-hukum yang terkait, serta tempat rujukan untuk konseling. Hal ini juga dilakukan untuk menghargai subjek penelitian sehingga memposisikan mereka sebagai subjek, sesuai dengan ciri utama penelitian berspektif feminis.

e. Daftar Bacaan

Budiman, Kris. "Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia". Citra Wanita dalam Kekuasaan (Jawa). Yogyakarta: Kanisius (1992): 72—80.

Cameron, Deborah. Feminism & Linguistic Theory. London: Macmillan (1994).

Cameron, Deborah. The Feminist Critique of Language. London dan New York: Routledge (1998).

Coates, J. Language and Gender: A Reader. Oxford: Blackwell Publishing (1998).

Darmojuwono, Setiawati. "Pemilihan Kata dalam Iklan Kontak Jodoh Sebagai Cerminan Citra Wanita Indonesia". Kajian Serba Linguistik: untuk Anton Moeliono Pereksa Bahasa. Ed. Bambang Kaswanti Purwo. Jakarta: BPK Gunung Mulia (2000): 146—164.

Hidayat, Rahayu Surtiati. "Penulisan dan Gender". Makara, Sosial Humaniora : 1 (2001): 9—15.

Irigaray, Luce. Terj. Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda. Oleh Rahayu S. Hidayat. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia Forum Jakarta-Paris (2005).

Margareta Hydén. Woman Battering as Marital Act. Oxford: Scandinavian University Press (1994).

Katubi. 2001. "Tindak Tutur Meminta Maaf dalam Bahasa Indonesia di Kalangan Kelompok Etnis Minangkabau: Kajian Bahasa dari Perspektif Jender". Tesis, Linguistik, Universitas Indonesia (2001).

Kridalaksana, Harimukti. 2002. “Pendahuluan”. Dasar-dasar Linguistik Umum. Ed. Djoko Kentjono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia (2002): 1—20.

Kuntjara, Esther. Gender: Bahasa dan Kekuasaan. Jakarta: BPK Gunung Mulia (2003).

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra (2006).

Spender, Dale. “Extracts from Man Made Language”. The Feminist Critique of Language. Ed. Deborah Cameron. London dan New York: Routledge (1998).

Wodak, Ruth dan Gertraund Benke. "Gender as a Sociolinguistic Variable: New Perspectives on Variation Studies". The Handbook of Sociolinguistic. Ed. Florian Coulmas. Ox ford: Blackwell (2000): 127—149.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar