Kamis, 02 Juli 2009

Gender dan Emosi


Di dalam masyarakat terdapat stereotipe yang membedakan antara perempuan dan laki-laki. Stereotipe itu terus berlanjut karena diajarkan terus-menerus dari satu generasi ke generasi lainnya secara sadar maupun tidak sadar. Salah satu contoh dari stereotipe itu adalah emosi yang dipercaya masyarakat sebagai hal yang umum untuk diekspresikan oleh perempuan atau laki-laki.

Perempuan dianggap wajar untuk mengekspresikan perasaannya. Mereka dianggap wajar jika lebih banyak berbicara atau mengungkapkan isi hatinya. Dengan demikian, mereka seringkali dianggap rapuh atau lemah karena sering mengeluh. Sebaliknya, dalam masyarakat, laki-laki dikenal sebagai gender yang—dapat dikatakan—tabu untuk mengekspresikan perasaannya, seperti menangis atau sedih. Jika mereka berani mengekspresikannya, mereka justru juga dianggap lemah.

Stereotipe tersebut merugikan perempuan pada beberapa konteks. Misalnya, perempuan dianggap tidak kompeten dalam menjadi pemimpin karena dianggap dikontrol oleh emosinya. Walaupun pada konteks lainnya, perempuan juga dianggap lebih kompeten menjadi guru atau pengajar karena dianggap lebih mempunyai etika perhatian berdasarkan emosi daripada laki-laki. Dalam hal ini terlihat bahwa pekerjaan yang dianggap wajar dilakukan oleh perempuan dikenal sebagai pekerjaan yang berpenghasilan lebih rendah karena pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ikatan emosi yang lebih tinggi dianggap tidak membutuhkan keterampilan. Perempuan dikenal sebagai gender yang sudah lahir dengan kemampuan seperti itu.

Pada awalnya, saya pun mempercayai hal tersebut. Akan tetapi, setelah mengikuti mata kuliah psikologi perempuan ini, saya belajar mengenai dampak yang lebih jauh dari stereotipe mengenai emosi perempuan ini. Saya menjadi memahami mengapa perempuan merasa bertanggung jawab atas masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungan pacaran ataupun pernikahan seperti yang saya amati, walaupun masalah itu sebenarnya merugikan perempuan itu sendiri. Stereotipe emosi ini begitu lekat hingga tidak disadari, bahkan dianggap sebagai sesuatu yang sudah ada dalam darah perempuan.

Selain itu, saya juga menjadi memahami bahwa stereotipe itu bahkan sudah diajarkan sedari kecil. Apa yang diterima anak kecil dan bagaimana mereka diperlakukan dapat mempengaruhi pandangannya terhadap stereotipe tersebut. Sebagai contoh, anggapan bahwa laki-laki tidak boleh menangis sudah diajarkan sedari bayi, bahkan di dalam keluarga saya sendiri.

Keponakan laki-laki saya sedari kecil sudah diberikan dogma bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis karena harus melindungi saudara perempuan dan ibunya. Apakah jika ia menangis, ia tidak bisa melindungi saudara perempuan ataupun ibunya? Menurut saya, hal itu tidak ada hubungannya. Dulu, saya merasa ungkapan itu adalah ungkapan yang wajar. Akan tetapi, ketika saya tahu bahwa manusia sebaiknya mengembangkan logos dan eros secara optimal, baik perempuan maupun laki-laki, saya sadar bahwa apa yang selama ini diterima kebanyakan anak kecil laki-laki dapat mengganggu perkembangan erosnsya.

Menanggapi hal tersebut, saya berbicara dengan kakak saya yang merupakan orangtua dari keponakan saya tersebut. Ketika saya mencoba menjelaskan bahwa setiap manusia sedari kecil harus mengembangkan logos dan eros secara optimal dan seimbang, ia menyadari bahwa itu adalah hal yang baru diketahuinya. Ia merasa bahwa apa yang ia ajarkan kepada anaknya merupakan hal yang benar karena itulah hal yang selalu ia terima dari masyarakat, bahkan dari orangtua kami. Setelah itu, saya merasa stereotipe yang terus berkembang ini merupakan hasil dari ketidaktahuan masyarakat akan logos dan eros yang dikembangan antara anak perempuan dan laki-laki sama.

Saya percaya jika semakin banyak orang tahu akan hal itu, mereka akan mendidik anak mereka dengan mengembangkan logos dan eros secara seimbang, baik perempuan maupun laki-laki. Ada optimisme bahwa perempuan dan laki-laki bisa bebas dari belenggu stereotipe emosi yang ada di masyarakat. Dengan demikian, perempuan tidak merasa dirugikan dalam kehidupan sehari-harinya karena dianggap terlalu rapuh akibat sensitif terhadap hal-hal yang berhubungan dengan emosi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar