Kamis, 02 Juli 2009

Hidup Sendiri di Mata Katolik

Ketika lahir, manusia langsung diperkenalkan kepada hal yang baik dan buruk. Semua hal dalam kehidupan dibagi menjadi dua. Ada satu hal yang lebih tinggi daripada hal lainnya. Misalnya, roh lebih baik daripada tubuh; logika lebih baik daripada perasaan; dan laki-laki lebih baik daripada perempuan. Manusia sering kali terjebak dalam kerangka pikiran dualistik. Tanpa pemikiran lebih lanjut, mereka sudah menerima itu karena menganggap memang sudah begitu adanya. Pemikiran itu seolah-olah menentang pluralitas yang ada dalam masyarakat. Mereka sudah mengelompokkan dan atau dikelompokkan dengan sendirinya berdasarkan pembagian itu. Konsep seperti ini disebut dengan dualistik.

Dalam makalah ini, saya tertarik untuk menarik salah satu hasil konsep dualistik tersebut, yaitu roh dan tubuh. Roh dianggap lebih suci atau mulia daripada tubuh manusia. Kita diajarkan sejak awal bahwa mengenal lebih dalam akan tubuh kita seolah-olah merupakan kesalahan. Kita selalu dituntut untuk mengenal lebih dalam roh kita. Menurut saya, pembagian ini seolah-olah memisahkan jiwa dari roh itu sendiri. Padahal, tubuh adalah tempat bersemayam roh dalam kehidupan sehari-hari ketika manusia hidup. Sementara itu, tubuh pun akan beresensi ketika ada jiwa di dalamnya. Hal itu juga diutarakan Anne K. Hershberger (2008, 4).

Pemikiran yang memisahkan antara roh dan tubuh menimbulkan konflik tersendiri. Ketika tubuh melakukan sesuatu yang salah di mata masyarakat, ia dapat berdelik bahwa yang melakukannya adalah tubuh, sedangkan roh tidak turut andil di dalamnya. Dengan demikian, aku—dalam hal ini adalah manusia itu sendiri—dapat meninggalkan tanggung jawabnya atas perbuatannya. Konflik selanjutnya, manusia itu dapat menggunakan tubuhnya dan menyalahgunakannya.

Selanjutnya, pembicaraan akan tubuh dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Tentu saja, hal ini membuat kita tidak mengenal diri kita sendiri. Bicara tentang tubuh secara otomatis kita juga menyentuh wilayah seksualitas. Ketika ketabuan itu berlangsung dari generasi ke generasi, pembicaraan akan seksualitas juga terkungkung. Kita tidak bebas membicarakannya karena dianggap tidak sesuai dengan norma yang ada. Kembali lagi kepada konsep dualistik yang menganggap tubuh identik dengan kesalahan.

Pada era gereja awal, Paul berkata kepada umatnya di Galatia bahwa setiap orang yang telah dibaptis adalah umat Yesus Kristus—tanpa memandang perbedaan jenis kelamin dan asal—yang telah dipersatukan dengan-Nya (Küng, 2001, 10). Dengan demikian, untuk mengenal Allah, manusia sebaiknya mengenal pula dirinya sendiri. Ada bagian dari Allah—mungkin berupa Roh Kudus—yang bersemayam dalam setiap umat-Nya. Jika ditelusuri lebih lanjut, seksualitas sebenarnya merupakan pemberian dari Allah. Dalam Injil pun diperjelas bahwa perbedaan gender dan jenis kelamin merupakan berkat dari Allah saat kita meresapi hubungan kita dan pengertian bahwa setiap individu berharga—sebagai pribadi seksual (Hershberger, 2008, 7).

Seperti yang ditulis Hershberger, dalam Perjanjian Lama juga dikatakan bahwa seks dan seksualitas dipandang baik (kisah Penciptaan, Kejadian ayat 1 dan 2). Hubungan seks antara perempuan dan laki-laki akan mendatangkan kebaikan. Salah satu alasannya adalah sarana untuk bereproduksi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia. (2008, 24). Selain itu, dalam Kej. 22—24 dituliskan bahwa laki-laki dan perempuan harus meninggalkan orangtua mereka dan bersatu dengan pasangan hidup mereka, menjadi satu daging.

Di sisi lain, Katolik juga menganggap bahwa hidup sendiri merupakan sebuah kehormatan. Walaupun Yesus melihat bahwa pernikahan adalah rencana Allah untuk manusia, tetapi Dia juga menyadari bahwa pernikahan dapat menghalangi kehendak Allah (Luk. 14:20). Beberapa orang mungkin menerima karunia untuk hidup sendiri demi kerajaan Allah (Mat. 19:12). Oleh karena itu, bagi Katolik, seorang pemimpin umat diharuskan untuk hidup selibat. Selibat di sini diartikan dengan hidup sendiri dengan sukarela. Pemimpin-pemimpin umat ini tidak diperkenankan untuk menikah dan berhubungan seksual.

Ketentuan tersebut tentu saja mempunyai maksud tersendiri. Seseorang yang tidak terlibat dalam hubungan seksual maupun pernikahan dapat lebih berkonsentrasi dalam memimpin jemaatnya. Orang yang hidup sendiri dapat lebih bebas menjadi kawan pencipta Allah dalam cara yang lebih terfokus dan aktif. Mereka tidak perlu memikirkan keluarga maupun kehidupan seksualnya. Mereka menyerahkan seluruh hidupnya untuk memimpin umat dan mewartakan kebenaran.

Paulus juga memilih untuk hidup selibat. Ia menganjurkan mereka yang “mampu” untuk melakukan hal yang sama (Utama, 2008, 16). Bagi mereka, hidup selibat merupakan salah satu pemberian dari Allah, rahmat khusus. Dengan demikian, hidup sendiri dengan sukarela dianggap sebagai posisi yang terhormat dalam Katolik. Akan tetapi, apakah penghormatan ini hanya diberikan kepada pemimpin umat atau masyarakat awam juga bisa menerima penghormatan tersebut?

Masyarakat sejak dulu telah diajarkan untuk menikah sebagai salah satu cara yang masuk akal untuk menjalani kehidupan sebagai seseorang yang dewasa. Bahkan, kadang, pernikahan sering kali dijadikan tujuan hidup seseorang. Masyarakat seperti tidak diberikan pilihan lain selain menikah. Masyarakat awam yang tidak menikah akan dipertanyakan oleh orang-orang di sekelilingnya.

Apalagi, dalam budaya Indonesia, persoalan saling menjodohkan juga memperkuat pandangan ini. Selain itu, budaya perayaan atau upacara pernikahan juga merupakan sesuatu yang dibesar-besarkan dalam masyarakat Indonesia. Para tamu akan datang beramai-ramai dengan memberikan hadiah serta pemberkatan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penerimaan masyarakat terhadap mereka sebagai anggota masyarakat lainnya dan mengakui pernikahan itu sendiri sebagai sesuatu yang mewah.

Sementara itu, orang-orang yang memilih untuk tidak menikah tidak bis amerasakan itu. Mereka akan merasa tidak diterima karena mereka tidak pernah melaksanakan perayaan atau upacara tersebut. Jadi, masyarakat tidak tahu di mana meletakkan posisi mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Posisi yang ada di masyarakat hanyalah sebatas pada orang-orang yang sudah menikah dan orang-orang yang belum menikah. Ketiadaan posisi bagi mereka yang tidak menikah menjadi samar. Tanda penerimaan masyarakat menjadi tidak ada.

Hidup sendiri selalu diidentikkan dengan kehidupan gereja. Jika seseorang memiih untuk hidup sendiri tapi mengabdikan hidupnya untuk umat di luar gereja, ia akan tetap mendapat cemooh dari masyarakat. Pernikahan menjadi sesuatu yang sangat lazim, hampir menyentuh keharusan.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang akan terjadi perempuan dari masyarakat awam memutuskan untuk tidak menikah? Hidup melajang, terlebih pada perempuan, akan menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri di masyarakat. Bahkan, perempuan lainnya akan menjaga perempuan itu untuk berada pada jarak tertentu dengan suami mereka karena dianggap sebagai penggoda. Hal itu terjadi karena mereka percaya bahwa suatu saat nanti perempuan tersebut akan menikah dan sekarang masih dalam tahap pencarian.

Padahal, mereka memilih untuk hidup melajang karena ingin mengabdikan hidupnya kepada umat. Mungkin mereka tidak mengabdi di gereja secara total. Akan tetapi, mereka mengabdi melalui karier atau pekerjaan yang berperan penting untuk orang banyak. Hal itu sesuai dengan pesan Yesus pada era gereja awal yang menyebutkan bahwa seseorang yang telah dibaptis menjadi bagian dari Yesus dan siap mewartakan kebenaran pada dunia dalam bentuk apa pun.

Posisi perempuan menjadi tidak sejajar dengan laki-laki. Ketika perempuan memutuskan untuk tidak menikah, ia akan lebih dipertanyakan oleh orang-orang sekitar. Kemudian, ada anggapan bahwa mereka tidak menghargai karunia Allah berupa rahim. Selain itu, mereka juga akan dianggap sebagai penggoda laki-laki karena tetap dianggap akan menikah.

Beda halnya dengan laki-laki. Mereka cenderung dianggap wajar karena mereka harus mengejar karier terlebih dahulu sebagai pencari nafkah utama. Hal itu sebenarna juga merupakan konstruksi sosial yang masih melekat dalam masyarakat. Pilihan utnuk tidak menikah yang dilakukan laki-laki masih dianggap sebagai hal yang lebih wajar daripada perempuan.

Dalam tatanan gereja, perempuan yang tidak menikah pun tetap menjadi posisi nomor dua setelah laki-laki. Dalam Katolik, perempuan—walaupun sudah hidup selibat—tetap tidak dapat memimpin perayaan Ekaristi misalnya. Mereka tetap menjadi hamba Allah di kerajaan-Nya, tetapi tidak bisa menjadi pemimpinnya. Memang, perempuan yang hidup selibat dan tinggal di biara juga dihormati. Akan tetapi, laki-laki lebih dihormati lagi.

Kesetaraan perempuan dan laki-laki ada baiknya dimulai dari gereja. Gereja sebagai salah satu pedoman kehidupan dalam masyarakat Kristiani dapat memberikan pemikiran baru mengenai kesejajaran ini. Bisa saja, prosesnya dimulai dengan memberikan peran lebih dalam perayaan-perayaan di gereja kepada perempuan. Selain itu, khotbah-khotbah dari pemimpin umat juga dapat memberikan masukan bagi jemaatnya untuk menghargai pluralitas masyarakat serta pilihan-pilihan yang diambil oleh tiap individu, termasuk pilihan untuk tidak menikah bagi masyarakat awam.

Memang, pada akhirnya, gereja di Indonesia sendiri akan terbentur pada masalah hierarkis gereja di Vatikan. Segala keputusan yang diambil harus dibicarakan oleh perkumpulan gereja secara internasional. Tentu saja, hal ini tidak memakan waktu yang sedikit. Akan tetapi, pewartaan akan kebenaran kepada jemaat mengenai hal tersebut dapat dimulai terlbih dahulu. Ini memang bukan langkah besar, tetapi merupakan langkah awal untuk mencapai gereja yang dinamis, mengikuti kebutuhan jemaatnya tanpa menghilangkan keimanannya.

Sumber

Hershberger, Anne K.. Seksualitas Pemberian Allah. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia (2008).

Küng, Hans. Terj. Women in Christianity. Oleh John Bowden. London dan New York: Continuum (2001).

Utama, Ignatius L. Madya. “Bukan Lagi Tamu atau Pembantu di Rumah Sendiri” Diktat Matakuliah Perempuan dan Agama: Sudut Pandang Kristiani. Jakarta (2008).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar