Kamis, 02 Juli 2009

Hubungan Seksual Perempuan yang Pertama Sebelum Menikah


Latar Belakang

Baik perempuan maupun laki-laki mempelajari nilai-nilai yang sudah ada dalam masyarakat. Nilai itu sudah terbentuk sebelum seorang bayi dilahirkan di dunia. Kemudian, mereka harus menyesuaikan diri dengan mengikuti nilai-nilai yang sudah ada. Nilai-nilai tersebut pun tidak lepas dari sudut pandang laki-laki, mengingat budaya patriarki diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Pada awalnya, nilai-nilai itu diajari pada lingkungan keluarga sebagai lingkungan primer. Kemudian, area pengajaran meluas sehingga anak-anak belajar di sekolah sampai akhirnya mereka belajar dari masyarakat luas.

Nilai-nilai itu beredar berupa legenda-legenda atau cerita rakyat yang mewakili masyarakat tertentu dan kemudian disebut juga dengan mitos. Selain itu, nilai-nilai itu juga dapat terlihat dari stereotip yang melekat dalam diri setiap individu dan dipercaya oleh masyarakat umum. Nilai-nilai itu mempengaruhi perilaku kita untuk mempertimbangkan pantas atau tidaknya sesuatu dilakukan. Tanpa pembuktian apa-apa, nilai-nilai itu diterima begitu saja dan dipercaya.

Salah satu contoh nilai yang diajarkan adalah seksualitas. Seksualitas diajarkan bahwa hal itu merupakan milik laki-laki. Perempuan hanya bersifat pasif, sebagai penerima saja. Seksualitas itu sendiri dianggap sebagai suatu hal yang tabu, bahkan untuk dibicarakan, apalagi oleh perempuan. Ketertutupan itu membuat makna seksualitas itu sendiri tidak diketahui dengan pasti. Sedikitnya informasi yang diterima perempuan juga membuat perempuan mencari tahu sendiri mengenai seksualitas, terlepas dari valid atau tidaknya sumber informasi itu.

Salah satu sumber informasi pada masa remaja atau dewasa awal adalah pacar. Hubungan intim dengan melibatkan afeksi emosional dan dorongan seksual yang paling memungkinkan adalah pacar. Dalam hubungan heteroseksual, perempuan diajarkan secara langsung atau tidak langsung oleh pacarnya yang tentu saja mempunyai sudut pandang laki-laki. Ajaran itu tentu saja juga dipengaruhi oleh nilai dalam masyarakat yang seringkali menjadikan perempuan sebagai objek seksualitasnya.

Rasa keingintahuan ataupun dorongan seksual semata seringkali membawa mereka pada hubungan seksual sebelum menikah. Tentu saja, perempuan yang mengalaminya mengalami kebingungan. Di satu sisi, ia diajarkan bahwa hubungan seksual ini merupakan salah satu cara untuk membuktikan cintanya, seperti yang dikatakan pacarnya untuk merajuk. Di sisi lain, ia merasa telah melanggar nilai yang ada di masyarakat bahwa dirinya bukan lagi berpredikat perempuan baik-baik.

Kebingungan ini jarang terungkap karena perempuan cenderung tidak membicarakannya demi menjaga nama baiknya dan keluarganya. Dengan melihat lebih dalam kejadian ini, kita bisa melihat fenomena lain yang sebenarnya juga terjadi dalam kehidupana bermasyarakat. Pengalaman perempuan akan hubungan seksual pertamanya sebelum menikah merupakan suatu hal yang menarik untuk dibuka dan ditarik kembali dengan melihat aspek psikologisnya.

Kerangka Teoritis

Hyde menjelaskan bahwa kebanyakan perempuan mengalami pengalaman pertama dalam berhubungan seksual ketika mereka duduk di bangku SMA atau pada awal tahun kuliah (2007, 345—346). Hasrat mereka adalah salah satu dari sekian alasan untuk pengalaman ini. Salah satu penelitian tentang pengalaman berhubungan seksual pertama menunjukkan bahwa 71% perempuan melaporkan memang menginginkannya, 25% perempuan melaporkan merasa tidak menginginkannya, tetapi juga merasa tidak dipaksa, dan 4% lainnya melaporkan merasa dipaksa. Sementara itu, kebanyakan perempuan mengaku bahwa pengalaman pertamanya dilakukan atas dasar rasa sayang dengan pasangannya, sedangkan laki-laki melakukannya dengan alasan keingintahuan yang besar dan perasaan bahwa mereka siap untuk melakukan hubungan seksual.

Paksaan yang terjadi dalam berhubungan seksual juga dibicarakan oleh Catharine A. MacKinnon (1989, 177). Menurutnya, perempuan yang menerima paksaan dalam berhubungan seksual dari orang yang dikenalnya meninggalkan trauma yang lebih dalam daripada paksaan yang diterima dari orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Apalagi, orang yang memaksa sangat dipercaya dan tempat ia berbagi.

Masalah yang lebih mendalam yang diajukan MacKinnon adalah dalam masyarakat, perempuan diposisikan sebagai penerima pasif dalam bidang seksualitas (1989,177—178). Perempuan mungkin merasa tidak ada cara lain untuk mendapat persetujuan tanpa protes. Mungkin pula perempuan lebih memilih mendapat luka-luka dari hasil paksaan daripada rasa malu dari kekalahan pertarungan. Semua kemungkinan itu diajukan untuk membela dirinya. Selain itu, paksaan dan hasrat bukan merupakan dorongan dari kedua belah pihak, melainkan berada di bawah keunggulan laki-laki. Perempuan lebih memilih melakukan hubungan seksual untuk menghindari paksaan yang lebih dari laki-laki atau menjadikan paksaan sebagai bentuk erotisme.

Hyde juga menjelaskan bahwa dua dari tiga remaja perempuan yang menjadi subjek penelitian Tolman mempunyai hasrat seksual (2007, 345). Hasrat itu mempunyai kekuatan, intensitas, dan mendesak yang mendekam di dalam tubuh perempuan. Hasrat itu pula yang menantang kepercayaan bahwa seksualitas perempuan merupakan suatu hubungan yang murni dan suci. Pada saat yang sama, perempuan juga mempertanyakan rasa kepemilikannya terhadap perasaan seksualnya.

Perempuan mengalami kenikmatan yang lebih sedikit daripada laki-laki pada pengalaman berhubungan seksual pertamanya. Bahkan, pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Sprecher (dalam Rollins 1996, 354—355), perempuan melaporkan bahwa mereka begitu merasakan perasaan bersalah setelah hubungan seksual pertamanya. Budaya yang selalu menceritakan betapa romantisnya hubungan seksual yang pertama seringkali membuat kecewa perempuan akan pengalaman pertamanya. Walaupun demikian, mereka tetap melakukannya.

Suatu survey dilakukan kepada mahasiswa untuk mengetahui apakah hubungan seksual pertama menimbulkan rasa sakit bagi perempuan. Dari 130 mahasiswa yang mengaku telah berhubungan seksual, setidaknya satu kali. 28% di antaranya mengaku tidak mengalami rasa sakit itu. Kemudian, 40% mengatakan mengalami rasa sakit yang wajar dan 32% mengalami rasa sakit yang hebat. Dari angka tersebut dapat terlihat bahwa kebanyakan perempuan mengalami rasa sakit pada hubungan seksual pertamanya.

Freud dan pengikutnya mengasumsikan bahwa sumber energi tingkah laku manusia yang terbesar adalah seks. Dalam Fromm (2007, 168) dikatakan bahwa perkembangan normal libido yang dikatakan Freud dapat dipengaruhi lingkungan, terutama ketika pada masa kanak-kanak. Selain itu, keanehan tingkah laku dan karakter dalam diri orang dewasa berakar dari hasrat dan tujuan seksualnya.

Fromm juga membahas mengenai sifat yang dominan dalam diri seseorang. Jika seseorang memanipulasi orang lain sebagai benda untuk kepentingan dirinya, tingkah laku seksualnya akan selaras dengan karakternya (207, 170). Ia akan memperlakkan orang lain sebagai tujuan pemuasan hasrat seksualnya. Ia pun beranggapan bahwa itu semua merupakan permainan yang adil, permainan yang memungkinkan satu pasangan hanya mendapat sebanyak yang dia berikan. Dalam hal ini, hubungan seksual menjadi transaksi yang tidak merugikan dibandingkan hubungan yang intim dan cinta.

Karakter otoriter juga memperlihatkan hal yang sama dalam tingkah laku seksualnya. Mereka mengutamakan kepuasan seksual, walaupun pasangannya menderita kesakitan fisik dan emosional. Hal-hal tersebut merupakan penyimpangan seksual yang berakar dalam struktur karakter seseorang. Pembelian cinta dan penganiayaan ditentukan oleh sikap dominan dalam karakter seorang manusia (2007, 171).

Freud menekankan bahwa kebudayaan seringkali dianggap mengorbankan kesehatan mental. Ketabuan terhadap seks mengembangkan rasa bersalah terhadap seks. Setiap manusia normal memiliki tindakan seksual. Ketika kebudayaan mengatakan seksualitas merupakan kejahatan, orang itu akan merasa bersalah sehingga cenderung menggunakan otoritas yang dimilikinya untuk memenuhi tujuan hidupnya. Sebenarnya, kedewasaan dan kebahagiaan berkonflik dengan eksistensi dari perasaan bersalah tersebut.

Jika membicarakan seksualitas, Kinsey merupakan salah satu tokoh yang selalu disebut-sebut. Ia selalu mengaitkan perilaku seksual yang dipengaruhi oleh perilaku sosial. Menurutnya, hubungan seksual sebelum menikah lebih dipersoalkan oleh laki-laki. Pada dasarnya, ketika ia melakukan penelitian pada 1948 di Amerika, hasilnya menunjukkan bahwa hubungan seksual sebelum pernikahan adalah sesuatuhal yang wajar dalam masyarakat. Hasil penelitiannya hanya sebatas mengemukakan apa yang terjadi dalam masyarakat, tetapi kurang mengeksplorasi alasannya.

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman perempuan yang jarang diketahui oleh masyarakat umum. Perempuan diajak untuk keluar dari penilaian masyarakat yang justru dapat merugikan dirinya. Walaupun masyarakat memegang teguh keperawanan hingga menikah, kita juga haus melihat faktor-faktor yang menyebabkan hubungan seksual pertama sebelum menikah dapat terjadi. Kemudian, kita juga bisa melihat dampak yang dialami perempuan dari hubungan seksual itu.

Pengalaman perempuan seperti itu dapat memberikan pembelajaran bagi perempuan lainnya. Hal ini merupakan salah satu cara untuk membuat perempuan menyadari opresi yang dialaminya. Berbagi pengalaman seperti itu dapat meningkatkan kesadaran perempuan akan identitasnya sebagai perempuan yang dilihat dari perspektif perempuan.

Sehubungan dengan penilaian masyarakat yang masih kuat akan keperawanan, perempuan menjadi sulit menceritakan pengalaman berhubungan seksual pertamanya sebelum menikah. Biasanya, mereka cenderung menyimpan cerita itu demi menjaga image dalam masyarakat, bahkan di antara teman-teman sebayanya. Oleh karena itu, kedekatan secara emosional diperlukan untuk mencari pengalaman perempuan seperti itu.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mewawancarai satu narasumber. Saya pun memohon kepada salah satu sahabat saya untuk menceritakan kembali pengalamannya tersebut dengan melakukan wawancara. Akan tetapi, sebelumnya, narasumber pernah menceritakan pengalamannya ini kepada saya secara lebih lengkap dan detil.

Dari hasil wawancara yang saya lampirkan transkripnya, saya menemukan beberapa perbedaan pernyataan dari cerita sebelumnya. Hal ini saya ungkap lebih lanjut dalam bagian analisis. Kemudian, hasil wawancara tersebut juga saya tinjau lebih dalam dengan menggunakan teori psikologi akan hubungan seksual yang pertama.

Analisis

Subjek penelitian saya, sebut saja namanya Dina (bukan nama sebenarnya), melakukan hubungan seksual pertamanya sebelum menikah. Ia melakukannya ketika duduk di bangku kuliah dengan pacarnya. Berdasarkan penelitian, 4% dari subjek penelitian mengatakan mengalami paksaan untuk melakukan hubungan seksual yang pertama sebelum menikah. Dina pun merasakan hal yang sama. Ia merasa dipaksa untuk berhubungan seksual dengan pacarnya.

X : Buat gue saat itu, iya. Maksalah jatuhnya karena udah telanjang. Udah berdiri juga dianya. Terus, “Ayo, ayo, ayolah,” istilahnya. “Nggak… nggak…” gue bilang, tetep kekeuh nggak mau. Sampe akhirnya, gue nangis di situ. “Kenapa?” dia tanya begitu. “Nggak, karena gue nggak mau.” “Kenapa?” “Takut.” Terus… udah…

Ketika itu, hubungan yang dijalaninya berjalan selama 5—6 bulan. Sebelumnya, pacarnya telah merayunya beberapa kali untuk melakukan hubungan seksual, tetapi ia berhasil menolaknya. Pada suatu malam, pacarnya marah ketika merasa ditolak lagi oleh Dina.

Dina pun menghampiri untuk meminta maaf, tetapi dianggap sudah mau untuk melakukan hubungan seksual. Pada akhirnya, ia melakukan itu juga karena tidak mau lagi terlibat dalam pertengkaran dengan pacarnya.

X : Udah pada tidur. Itu di depan tivi. Ya, orang rumah gue tauk dia nginep di situ... lagi nginep di situ… lagi nginep di rumah. Terus, kondisinya gimana, ya… kayak agak ngambek ama marah gitu dan gue nggak tauk kenapa saat itu, gue takut banget dia marah.

A : Marah gara-gara itu? Gara-gara loe nggak mau?

X : Iya. Dia nanya gitu, “Kapan sih loe percaya ama gue? Gue nggak nyakitin loe. Gue ngak ninggalin loe.” Udah, gue ditinggal dia. Tidurnya kan di depan di ruang tamu, kasur tambahan itu lah. Ya udah, terus gue samperin, gue minta maaf. Terus, yang.... buat gue di situ... waktu itu... gue maunya nyampeinnya minta maaf. Iya, sorry... sorry banget, tapi nggak bisa. Terus, dia nangkepnya, “Oh, loe mau nih jadinya sekarang?” Jadinya, ya udah deh, kejadian deh… Nangis deh... Double-double gitu nangisnya...

Kejadian ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh MacKinnon bahwa hubungan seksual kadang lebih dipilih perempuan untuk menghindari pertengkaran ataupun menghindari kekerasan yang lebih.

A : Ama dia? Tapi, loe juga nggak ada perlawanan gitu?

X : Iya, bisa dibilang gitu deh.

A : Karena?

X : Daripada dia marah... lebih ke arah gitu, daripada kecewa lagi. Males gue kalo berantem lagi ama dia.

Hal ini jelas menunjukkan posisi perempuan yang lemah di mata laki-laki. Perempuan pun kadang terlena dengan subordinasinya itu sehingga ia lebih memilih untuk mengorbankan prinsipnya.

Subordinasi ini juga membuat perempuan seolah-olah dijauhkan dari wilayah yang sangat pribadi, yaitu tubuhnya sendiri. Dalam masyarakat, perempuan diajarkan untuk menjaga dirinya, bahkan ada yang menganggap tubuhnya sebagai ketabuan sehingga tidak pernah disentuh. Akan tetapi, paksaan dengan cara laki-laki yang mengatasnamakan cinta membuat perempuan merasa tidak mempunyai kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Hal ini juga sesuai dengan konsep yang menyalahkan korban (blaming the victim). Perempuan dianggap mempunyai perilaku yang bisa membuat dirinya terhindar dari paksaan-paksaan tersebut.

Setelah kejadian, Dina merasa marah, bersalah, dan jauh dari Tuhan. Ia merasa telah melanggar nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, yaitu menjaga keperawanannya.

X : Iya, gue yang marah. Gue baru ngejelasin setelahnya. Setelah kejadian, gue baru ngejelasin maksud gue tuh malem itu nggak begitu. “Iya, ya udah, maaf, maaf, gue nggak akan nakal lagi,” katanya. Yang kayak seminggu kemudian, minta lagi... Iya... setan! Tapi, gue nggak mau, nggak mau… sampe ditentuin tanggal... “Coba kita liat ampe tanggal…,” berapa... berapa… gue lupa, “baru tanggal itu, nanti gue minta.” Kayak setahunan kali gitu ya. Setahunan gitu.

A : Oh, gitu…

A : Tapi, setelahnya loe ngerasain… Apa yang loe rasain? Kan kalo yang pertama, loe ngerasain sakit dan marah, setelah-setelahnya?

X : Setelah itu masih.

A : Masih sakit?

X : Sakitnya tuh dua-duanya. Physically iya, hatinya iya, hatinya juga. Kayak… ditambah juga unsur nggak tauk emang kebetulan atau emang iya… jauh gitu deh dari Tuhan. Istilahnya gitu, kayak... gue ngerasa diri gue… nggak penting lah. Mana Tuhan mau liat gue? Kayak menghukum diri sendiri lah kalo gue pikir sekarang.

Dina juga merasakan sakit pada hubungan seksual pertamanya. Apalagi, kali itu, ia juga merasa sakit hati karena hubungan seksual itu terjadi atas paksaan dari seseorang yang begitu disayanginya dan dipercayainya. Dengan demikian, ia sama sekali tidak merasakan kenikmatan dalam berhubungan seksualnya yang pertama. Hal itu juga telah ia konfirmasi ulang.

Dari penjelasannya, Dina merasa kecewa dengan hubungan seksual pertamanya. Pertama, ia tidak melakukannya atas dasar rasa sayang, hanya karena ketakutan semata. Kedua, ia tidak merasakan kenikmatan seperti yang dikatakan orang-orang yang telah melakukannya. Ia justru merasakan sakit.

Ajaran agama yang selalu mengedepankan keperawanan juga membuatnya merasa berdosa sehingga merasa jauh dari Tuhan. Kemudian, ia menghukum dirinya sendiri yang kemudian ia ceritakan dengan membuat luka pada lengan atas dia menggunakan cutter. Hal itu ia lakukan sebagai pengingat bahwa ia tidak boleh melakukan hal itu lagi. Luka itu menjadi salah satu bukti kesalahan yang telah ia lakukan. Dengan harapan, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Dalam wawancaranya kali ini, Dina tidak menceritakan dengan jelas trauma yang ia hadapi berkaitan dengan seksualitas yang dialaminya pada saat masih kecil. Selintas ia semapt menyebutkan bahwa ia pernah dijadikan percontohan hubungan seksual oleh tetangganya. Seorang kakak ingin melihat hubungan seksual itu secara langsung. Maka, ia meminta Dina dan adiknya untuk melakukannya di depan dia, walaupun tidak benar-benar berhubungan seksual. Di situ, ia melakuakannya karena merasa tidak mengerti dan takut tidka mempunyai teman jika ia menolak. Hal itulah yang ia ungkapkan dalam cerita sebelumnya yang tidak terungkap dalam wawancara kali ini.

Kemudian, Dina mempunyai pengalaman buruk lainnya. Ia pernah melihat ayahnya melakukan hubungan seksual di rumahnya, tetapi bukan dengan ibunya. Hal itu samapi sekarang tidak pernah diketahui oleh anggota keluarganya. Saat ini, ayahnya sudah tidak tinggal bersamanya lagi karena ketahuan berselingkuh. Pengalaman itu sempat sangat membekas bagi dirinya. Ia sempat tidak mau keluar kamar karena tidak mau melihat hal itu lagi.

Dalam pembicaraan sebelumnya, Dina mengatakan bahwa ia tidak pernah merasakan kenikmatan dari berhubungan seksual yang dilakukannya. Akan tetapi, dalam wawancara kali ini, ia bilang sempat menikmatinya, walaupun bukan pada hubungan seksual yang pertama. Ia juga bisa menikmatinya karena ada pengaruh zat-zat adiktif yang dikonsumsinya sebelum ia melakukan hubungan seksual.

Pada akhirnya, ia menjadikan hubungan seksual sebagai senjata untuk membuat hubungan pacarannya menjadi lebih baik. Jadi, ia tidak melakukannya untuk kenikmatan seksual yang didapatnya ketika berhubungan.

X : Iya. Setelahnya.... sampe kapannya gue juga lupa... Itu juga jadi senjata buat baikan kalo berantem.

A : Dari loe apa dari dia?

X : Dari gue. Ampe akhirnya dia bilang, “Ini loe jadiin senjata buat baikan deh pasti,” kebaca gitu deh.

A : Jadi kalo berantem, loe ngajakin?

X : Daripada repot.

Dari penjelasan tersebut, hubungan seksualitas mengalami pergeseran makna. Sebelumnya, hubungan seksualitas untuk tujuan reproduksi dan rekreasi. Akan tetapi, Dian lebih memilih untuk melakukan hubungan seksual untuk menjaga keharmonisan hubungan pacarannya daripada ia harus menghadapi pacarnya yang marah. Di sisi lain, dapat terlihat pula bahwa laki-laki lebih mengutamakan hubungan seksual. Dengan melakukan hubungan seksual, laki-laki dapat melupakan masalah yang terjadi dalam relasi romantis dengan pacarnya.

Kesimpulan

Dina mempunyai pengalaman buruk yang berdampak pada dirinya. Dari pengalamannya itu, ia mempunyai gambaran buruk mengenai hubungan seksual. Kepercayaan yang ia miliki untuk laki-laki pun memudar. Sentuhan sekecil apapun pada tubuhnya selalu ia tepis. Apalagi, orang yang mempunyai relasi romantis yang melakukannya. Jika temannya menyentuhnya, ia cenderung tidak mempermasalahkannya karena ia merasa percaya dengan temannya.

Lalu, Dina bertemu dengan pacar yang bisa membuatnya percaya kepada laki-laki yang menjalin relasi romantis dengan dirinya. Ia berhasil dibuat percaya bahwa tidak semua laki-laki seperti ayahnya yang mengkhianati cinta. Sayang sekali, kepercayaannya pun disalahgunakan. Laki-laki itu pada akhirnya menuntut adanya hubungan fisik yang lebih sebelum pernikahan, walaupun selalu diikuti dengan janji untuk mengakhiri hubungan itu hingga ke pelaminan.

Akan tetapi, hubungan seksual itu justru semakin mengikat Dina. Dina merasa ia tetap harus menjaga hubungannya, ia harus berakhir dengan pacarnya itu apapun yang terjadi untuk menjaga tubuhnya yang merasa telah dinodai. Bahkan, ia sampai menjauh dari keluarga dan teman-temannya. Lingkungan dia hanya ada pacarnya saja dan dia begitu percaya dengan pacarnya.

Akhirnya, Dina harus memutuskan hubungannya. Dengan demikian, kepercayaan yang dimilikinya juga hancur lebur. Ia tidak punya orang lagi untuk dipercaya. Bahkan, ia juga tidak mempunyai hubungan sosial dengan siapa pun lagi, termasuk keluarganya. Ia pun merasa sendirian dalam kekalutannya.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa ada baiknya untuk tetap menjaga hubungan baik dengan teman-teman dan keluarga, walaupun sedang menjalin hubungan romantis dengan pasangan. Hal ini untuk mengantisipasi jika ada masalah yang mengganggu dengan pasangan sehingga tidak menghadapinya sendirian.

Selain itu, menurut saya, makna cinta dalam hubungan romantis juga perlu direkonstruksi. Apakah hubungan seksual merupakan salah satu cara untuk membuktikannya dapat dibahas sebelumnya dengan pasangan utnuk menghindari adanya unsur paksaan. Kepercayaan dengan pasangan dan hubungan juga harus dipertimbangkan baik-baik mengingat banyak orang mengumbar janji akan masa depan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, termasuk kepuasan seksualnya.

Tentu saja, ketabuan akan seksualitas juga harus dibongkar. Pengetahuan yang banyak bagi perempuan akan membantu mereka mengambil keputusan dalam keadaan terdesak sekali pun. Keterbukaan orangtua untuk membicarakan masalah seksualitas dengan anaknya juga dapat membantu perempuan mendapat informasi yang benar. Hal itu tentu saja harus dibarengi dengan pengetahuan orangtua yang luas dan tidak bias gender untuk menjelaskan masalah seksualitas tersebut.

Pustaka Acuan

Hyde, Janet Shibley. Half the Human Experience: The Psychology of Women. Boston: Houghton Mifflin Company, 2007.

Rollins, Joan H.. Women’s Minds Women’s Bodies: The Psychology of Women in Biosocial Context. New Jersey: Prentice Hall, 1996.

MacKinnon, Catherine A.. Toward a Feminist Theory of The State. Cambridge: Harvard Unicersity Press, 1989.

Fromm, Erich. Cinta, Seksualitas, dan Matriarki: Kajian Komprehensif tentang Gender. Terj. Pipiet Maizier. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra, 2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar