Kamis, 02 Juli 2009

Ikhtisar Teori Feminis II

Feminisme dibagi dalam tiga gelombang oleh Rosemarie Tong, seperti yang disebutkan oleh Gadis Arivia (84—87). Yang termasuk gelombang pertama, yaitu gerakan perempuan, feminisme liberal, feminisme radikal, dan feminisme sosialis atau marxis. Namun, feminisme liberal dapat dibedakan dengan melihat bidang yang didukungnya.

Feminisme liberal lahir dari pemikiran bahwa perempuan mempunyai rasionalitas yang sama dengan laki-laki. Laki-laki dianggap lebih rasional daripada perempuan. Kemungkinan penyebabnya adalah filsuf-filsuf yang kebanyakan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan dianggap tidak bisa berpikir keras. Bahkan, tidak jarang mereka tidak diperbolehkan untuk mendapat pendidikan yang setara (Arivia, 1—5 dan 81—83). Tulisan Wollstonecraft juga memperlihatkan pemikiran yang sama. Menurutnya, perempuan akan lebih dihargai jika mereka mendapat pendidikan yang setara dengan laki-laki. Muncullah paham feminis liberal yang mementingkan pendidikan pada abad 18 (Tong, 18—22).

Pada abad 19, pemikiran tersebut berkembang ketika Harriet Taylor dan John Stuart Mill menulis beberapa esai. Mereka menegaskan bahwa perempuan juga mempunyai hak yang sama dalam bidang politik dan ekonomi. Pada abad yang sama, pemikiran itu didukung oleh gerakan perempuan, tetapi dianggap hanya berbicara atas nama kulit putih. Salah satu aktivis berkulit hitam, Sojourney Truth, berbicara tegas dalam Konvensi Hak-hak Perempuan bahwa perempuan berkulit hitam juga mempunyai hak yang sama. Selama ini, mereka merasa mendapat diskriminasi berganda.

Kemudian, terbentuklah berbagai organisasi yang membela perempuan pada abad 20. Salah satu yang terbesar ialah National Organization for Women (NOW). Mereka menuntut 7 hal dalam pembentukan Undang-undang Hak Perempuan. Namun, tidak ada satu pun tuntutan yang mendukung kebebasan orientasi seksual perempuan atau lesbian. Tentu saja, hal itu diprotes oleh kalangan feminis radikal yang membela perempuan dalam memaknai tubuhnya.

Perkembangan selanjutnya adalah feminis liberal yang diwakili oleh Friedan menuntut adanya persamaan perlakuan terhadap perempuan dan laki-laki. Hal itu juga dianggap bahwa ia tidak memperhatikan kesehatan reproduksi perempuan. Bahkan, tanggapan selanjutnya menanyakan apakah perempuan harus sama dengan laki-laki.

Feminisme liberal juga mendapat kritik lainnya. Paham ini dianggap ekslusif dalam artian hanya mempertimbangkan perempuan berkulit putih dan berkelas menengah ke atas. Secara garis besar, paham ini juga mengutamakan nalar; menganggap pemikiran lebih penting daripada kegiatan.

Perempuan yang tidak menerima seutuhnya hak atas pendidikan, politik, dan ekonomi juga terjadi di Indonesia. Salah satunya terjadi di Cibaliung, Pandeglang. Penduduk desa itu hidup dari bercocok tanam atau nelayan. Pada umumnya, penduduk di sana hidup dari kekayaan alam saja. Mereka hanya bekerja untuk makan sehari-hari; ikan dari laut, nasi dari bersawah, dan lauk lainnya dari berladang.

Untuk pendidikan, desa tersebut difasilitasi sekolah dasar dan menengah pertama. Namun, hanya penduduk kalangan atas yang bisa bersekolah—baik perempuan maupun laki-laki. Kesadaran mereka untuk mendapat pendidikan masih rendah karena menurut mereka, dengan menjadi nelayan atau petani, mereka dapat bertahan hidup.

Dari segi ekonomi, laki-laki cenderung pergi ke sawah atau laut untuk bekerja, sedangkan perempuan bekerja domestik. Hal itu membuat laki-laki lebih banyak berkomunikasi dengan masyarakat lainnya. Dengan demikian, pengetahuan mereka juga lebih berkembang daripada perempuan yang hanya diam di rumah. Selain itu, gambaran pilihan kerja masyarakt setempat juga memperlihatkan stereotipe pekerjaan yang sangat mencolok. Perempuan lebih banyak berdiam diri di rumah untuk mengurus keluarga.

Ketidakberdayaan perempuan dalam bidang ekonomi—dalam hal ini pencarian kekayaan alam—membuat mereka terdiskriminasi dalam pilihan pernikahan. Sejak kecil, mereka sudah diberi pemikiran bahwa mereka harus menikah. Masih banyak orangtua yang menjodohkan anak perempuannya dengan laki-laki di desa itu. Mereka seolah tidak punya pilihan lain selain setuju atas usulan itu. Kalau mereka menolak, bisa dianggap abi dan dianggap anak durhaka sehingga dimarahi orangtua mereka. Untuk menikah, ada dua syarat untuk perempuan. Pertama, mereka tidak boleh meminta cerai. Kedua, mereka tidak boleh pergi ke Jakarta.

Dari kedua syarat tersebut, jelas terlihat perempuan di sana tidak mempunyai pilihan yang banyak. Mereka tidak mempunyai akses untuk mengembangkan diri. Mereka juga termarjinalisasi dengan tidak boleh meminta cerai, tetapi laki-laki boleh menceraikan mereka. Di sana, banyak laki-laki yang menikah lagi. Mereka bisa mempunyai istri lebih dari satu atau dengan menceraikan istri terdahulunya. Banyak perempuan menjadi janda di sana dan itu merupakan aib buat mereka. Keinginan laki-laki harus terpenuhi walaupun harus mengorbankan perasaan dan nama baik perempuan.

Status perkawinan sedikit banyak mempengaruhi hak untuk memilih kepala desa. Sebenarnya, perempuan yang sudah dewasa mempunyai hak pilih. Akan tetapi, perempuan di desa itu cenderung menggunakan hak pilihnya ketika mereka sudah bersuami. Jika dikaitkan lebih jauh, faktor sosialisasi laki-laki mempunyai peran dalam hal ini.

Laki-laki terbiasa berkomunikasi dengan masyarakat sekitar ketika di sawah ataupun di laut. Mereka bisa memperhatikan keadaan desa mereka dan membicarakan calon-calon kepala desa. Sementara itu, perempuan tahu lebih sedikit tentang keadaan desanya karena mereka hanya berdiam diri di rumah. Jadi, mereka terlihat lebih tidak peduli tentang pemilihan kepala desa. Kemudian, setelah menikah, perempuan banyak berkomunikasi dengan suaminya. Bisa saja suaminya bercerita banyak tentang keadaan desa dan pemilihan kepala desa. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa istri mengikuti pilihan suami karena itu merupakan satu-satunya informasi yang mereka tau. Lalu, mereka menggunakan hak pilihnya.

Paparan tersebut menjelaskan bahwa perempuan masih menjadi subordinasi, termarjinalisasi, mengalami stereotipe masyarakat, dan terdiskriminasi di Cibaliung. Feminisme liberal dapat menjelaskan hal itu karena masalah yang timbul berhubungan dengan pendidikan, politik, dan ekonomi. Sayangnya, seksualitas tidak dibahas oleh paham ini. Padahal, di Cibaliung, seperti yang dikatakan di atas, terdapat banyak laki-laki yang mempunyai istri banyak. Tentu saja, itu merupakan masalah awal yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan masalah kekerasan dalam rumah tangga, termasuk kekerasan seksual.

Feminisme liberal juga tidak menggerakan pemikiran perempuan untuk mengenal dirinya sendiri lebih dalam. Paham ini hanya menempatkan perempuan sebagai salah satu bagian dari masyarakat. Perempuan tidak diajak untuk sadar sebagai subjek; berdiri sendiri walaupun tetap mempunyai peran dalam masyarakat. Dengan demikian, perempuan hanya berubah demi kepentingan orang lain, bukan demi perkembangan dirinya sendiri.

Pustaka Acuan

Arivia, Gadis. Filsafat Berspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003.

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar