Kamis, 02 Juli 2009

Jawaban dari Hindu dan Pertanyaan atas Hindu

Pada akhirnya, saya menemukan istilah atau konsep yang selama ini saya yakini. Hindu mempunyai konsep itu, yaitu ista devata dan adikara. Hindu membebaskan setiap manusia untuk menentukan bentuk Tuhan sesuai dengan yang diyakini; dalam bentuk apa pun. Selain itu, Hindu juga membebaskan manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan dengan cara apa pun. Dengan demikian, hubungan manusia dengan Tuhan menjadi begitu privasi sekaligus universal. Hal itu sesuai dengan bhinneka tunggal ika—kebenaran adalah tunggal, tetapi para bijaksana menyebutnya dengan cara yang berbeda.

Atas dasar konsep tersebut, saya yakin bahwa manusia mempunyai tingkat keberadaan yang sama dalam masyarakat. Setidaknya, idealnya seperti itu, walaupun dalam kenyataannya, manusia seringkali diklasifikasikan menjadi kelompok mayoritas dan minoritas; dominan dan tertindas; laki-laki dan perempuan. Jika dikembalikan kepada konsep tersebut, klasifikasi tersebut juga tidak bisa digugat habis-habisan karena setiap orang meyakini kebenarannya masing-masing. Dalam hidup ini, kita sama-sama mencari kebenaran tunggal yang mungkin dalam bentuknya berbeda-beda.

Satu hal yang saya pertanyakan dalam Hindu, khususnya di Bali, yaitu ketika anak laki-laki mempunyai hak dan atau kewajiban utuh untuk melanjutkan mengurus tempat bersyukur keluarganya. Memang, Hindu percaya bahwa rasa syukur pantas dihaturkan kepada Pelindung yang menjaga keluarganya. Jadi, setiap keluarga mempunyai tempat bersyukur masing-masing. Akan tetapi, mengapa perempuan seolah-olah menjadi pilihan kedua setelah laki-laki untuk “mengurus” Pelindung keluarga? Bahkan, mereka harus mengikuti proses tertentu agar bisa menggantikan laki-laki mengurus tempat bersyukurnya.

Perempuan yang telah dipersunting laki-laki pun diharuskan mengikuti tempat bersyukur suaminya, begitu pula dengan anak-anaknya kelak. Dengan konsep yang begitu manusiawi, ada setitik kesempatan untuk meletakkan perempuan di bawah laki-laki. Perempuan tidak bisa menentukan dengan kesadarannya sendiri untuk bersyukur pada tempat pilihannya. Di sisi lain, menurut saya, tidak menutup kemungkinan bahwa perempuan bisa membawa kebenaran tunggal yang dicari manusia. Perempuan tetap pantas meneruskan tempat bersyukur keluarganya sebagai perempuan; karena dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar