Kamis, 02 Juli 2009

Kata Perempuan dan Kata Laki-laki


Sebelumnya, cara berpikir ada dua, yaitu memberikan alasan yang rasional dan atau melihatnya dalam kehidupan sehari-hari (empirisme). Posmodernisme seolah-olah merombak segala teori yang sudah ada. Posmodernisme menawarkan cara berpikir yang baru. Diri, identitas, dan kebenaran yang sudah ada dalam masyarakat selalu berubah, selalu dalam proses pembuatan.

Segala bahasa itu seolah-olah sudah baku dan tidak dinamis lagi. Bahasa menjadi sesuatu yang pasti dan tidak bisa ditawar lagi, seperti dibakukan. Anak-anak itu dibentuk berdasarkan bahasa anak-anak, tidak diperkenankan memilih identitasnya sendiri. Di sisi lain, seperti yang dikatakan oleh Kristeva dalam Tong (2006, 300—301), anak dapat mengidentifikasikan dirinya sesuai dengan ibunya yang feminin atau ayahnya yang maskulin.

Pada kesempatan penulisan skripsi, saya mengambil topik variasi leksikal bahasa Indonesia berdasarkan gender. Hasil penelitian yang paling signifikan di antara kelas kata lainnya, yaitu perempuan lebih banyak menuliskan kata-kata yang berkelas kata adverbia (64,5%). Kelas kata adverbia adalah kelas kata yang menjelaskan kelas kata lainnya, seperti sangat, sekali, agak, sedikit, mungkin, dan banget. Menurut saya, hasil itu menunjukkan bahwa perempuan cenderung memperhatikan hal-hal yang detil. Mungkin saja, perempuan telah dibentuk untuk memperhatikan hal-hal kecil karena konstruksi yang ada di masyarakat perempuan harus mengurus kehidupan rumah tangga. Tentu saja, hal itu membutuhkan perhatian khusus pada aspek yang mendetil, seperti seberapa banyak gula untuk kopi ayah yang mempunyai penyakit diabetes.

Akan tetapi, saya juga melihat kecenderungan lain dari penggunaan kata-kata adverbia itu. Kata-kata yang menjelaskan kelas kata lain dapat menunjukkan ketidakpercayaan diri perempuan terhadap bahasa yang digunakannya. Perempuan cenderung menggunakan kata penjelas untuk pernyataan yang disampaikannya. Karena ketakutannya untuk salah, mereka menggunakan kata penjelas tersebut agar nilainya tidak absolut. Misalnya, “Saya sedikit sebal dengan dia.” Kata sedikit digunakan untuk menunjukkan ke-tidak-absolut-an. Jika suatu saat ia harus dihadapkan dengan pernyataannya tersebut, ia mempuyai tameng sendiri dengan penggunaan sedikit itu.

Sementara itu, laki-laki cenderung mengatakan sesuatu dengan lugas dalam kehidupan sehari-hari. Mereka cenderung tidak menggunakan kata penjelas sehingga menimbulkan kesan tegas. Dengan ketegasan itu, pendengar lebih percaya tanpa melihat dasar yang diutarakan laki-laki.

Dilihat dari klasifikasi medan makna, perbedaan yang signifikan antara laki-laki-laki dan perempuan, yaitu dalam medan makna permainan yang mayoritas berupa olahraga. Medan makna permainan lebih banyak ditulis laki-laki, yaitu sebanyak 76,5%. Menurut asumsi saya, mereka cenderung memikirkan permainan karena budaya patriarki yang sudah melekat dalam masyarakat. Permainan begitu identik dengan menang atau kalah. Mereka cenderung sibuk berkompetisi untuk menjadi pemenang untuk diakui menguasai suatu area tertentu; dalam hal ini olahraga, seperti basket, sepak bola, silat. Mereka ingin mendominasi dengan menjadi terbaik dan menguasai permainan tersebut.

Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa bahasa mempunyai peran penting dalam membentuk diri, identitas, dan kebenaran yang ada. Sementara itu, posmodernisme percaya bahwa ketiga hal itu selalu dalam proses pembuatan. Oleh karena itu, penggunaan bahasa perempuan dan laki-laki tidak bisa dibakukan. Sebaiknya, mereka dibebaskan utnuk terus mencari diri, identitas, dan kebenaran; bukan langsung dibagi menjadi dua—dikotomik—yaitu perempuan dan laki-laki. Tidak ditegaskan keaslian atau otoritas terhadap sesuatu hal.

Menurut saya, posmodernisme dapat berjalan beriringan dengan pluralitas masyarakat yang semakin berkembang. Namun, keajegan masyarakat terhadap moralitas dan sistem gender membuat konsep posmodern susah diterima. Posmodernisme harus berjuang melawan demokrasi yang ada, bukan tergabung di dalamnya.

Sumber

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar