Kamis, 02 Juli 2009

Kebijakan Cuti Hamil dari Sisi Psikologi

Perempuan produktif mengalami masalah tersendiri ketika ia hamil. Ia berpotensi mengalami kebingungan akan eksistensinya. Pada awalnya, ia merasa eksis dengan cara bekerja. Setelah melahirkan, ia mendapat peran baru sebagai ibu. Secara otomatis, ia mendapat cara berada yang baru, yaitu menjadi ibu bagi anaknya; tentu saja diikuti dengan tanggung jawab baru. Cuti hamil begitu membantu perempuan untuk beradaptasi dengan peran barunya itu.

Kebingungan tersebut tentu saja dimulai sejak ia sedang menunggu kelahiran anaknya. Ia harus mempersiapkan dirinya secara psikis dan fisik utnuk menghadapi proses kelahiran anaknya. Ia pun harus mempersiapkan segala barang yang akan digunakan setelah kelahiran nanti. Apalagi, keadaan psikologis perempuan ketika hamil juga tidak stabil. Dengan demikian, cuti hamil yang diambil perempuan begitu bermanfaat sehingga tidak mengganggu keefektivitasan kerja di kantor.

Di sisi lain, cuti hamil yang terlalu lama juga dapat menimbulkan masalah psikologis lain bagi perempuan. Ia akan membutuhkan adapatasi dengan situasi dan ritme kerja yang berbeda ketika ia belum melahirkan. Kebiasaan di rumah untuk memperhatikan anak pun dapat mengganggunya untuk berkonsentrasi ketika bekerja. Dengan demikian, cuti hamil dengan durasi yang pas dapat membantu perempuan untuk mengembalikan ritme bekerjanya.

Cuti hamil tersebut pun berperan besar dalam perkembangan psikologis anak. Pada usia dini, anak-anak banyak belajar dari ibu dan bapaknya. Ketersediaan waktu ibu dan bapak pada usia ini akan melengkapi proses berkembangnya sehingga menghasilkan individu yang berkualitas dan seimbang.

Sebenarnya, kebingungan itu dapat diatasi dengan membagi peran antara suami dan istri dalam menghadapi kelahiran. Akan tetapi, pada kenyataan yang terlihat tidak ada peran gender yang adil antara perempuan dan laki-laki. Lingkungan sosial pun mendukung stereotip ini. Misalnya, laki-laki merasa malu untuk mengurus anak, bahkan ada pula pihak keluarga besar yang tidak membiarkan laki-laki untuk mengurus anak. Hal ini harus dihilangkan untuk menghapuskan peran ganda perempuan dengan memberikan pandangan baru akan kesetaraan peran gender.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar