Kamis, 02 Juli 2009

Menipisnya Konsep Awal Lesbianisme

Feminisme radikal merupakan aliran lanjutan atas ketidakpuasan akan feminisme liberal. Menurut tokoh-tokoh feminisme radikal, masalah opresi laki-laki terhadap perempuan harus diatasi dengan mengangkat masalah dari akarnya, yaitu seksualitas dan sistem gender (Arivia, 100). Sementara itu, feminisme radikal pun terbagi menjadi dua pemikiran, yaitu libertarian dan kultural. Seringkali dalam pembahasan berbagai isu, kedua aliran ini mempunyai pendapat yang jauh berbeda walaupun masih dalam payung besar “radikal”.

Salah satu isu yang kontroversial adalah lesbianisme. Mary Daly adalah tokoh feminisme radikal kultural yang merupakan cikal bakal lesbianisme. Ia sudah mengungkapkan dukungannya terhadap lesbian dalam buku keduanya, Gyn/Ecology. Ia menolak istilah homoseksualitas dalam Beyond God the Father karena istilah itu menghapuskan lesbian dan secara implisit menunjukkan bahwa cinta dari jenis kelamin sama atau berbeda adalah sama untuk perempuan atau laki-laki (Tong, 86). Menurutnya, cinta laki-laki—yang terdapat maskulinitas di dalamnya—terhadap perempuan merupakan bentuk opresi. Cinta itu sendiri harus diperkuat pengertian yang mendalam. Seringkali cinta itu diartikan sebagai pengorbanan total (martyrdom) sehingga menumbulkan feminin masokistik.

Dalam buku selanjutnya, Pure Lust, Daly menyebutkan bahwa arti lust atau napsu menjadi tidak baik akibat budaya patriarki. Perempuan mencapai kepuasan jika telah berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya menurut definisi patriarki, seperti menjadi istri dan mempunyai anak. Dengan demikian, perempuan tidak dapat menjadi perempuan liar seperti yang diharapkan Daly (Tong, 92—93). Jika saya artikan lebih lanjut, napsu dalam budaya patriarki itu juga membuat perempuan tidak bisa memilih pasangan untuk dicintainya. Perempuan seperti dipaksakan untuk mencintai lawan jenisnya saja untuk bisa diterima di masyarakat. Daly mendambakan kehidupan perempuan yang terpisah dari maskulinitas atau yang disebut lesbian separatis.

Pemikiran Daly dikaji lebih lanjut oleh Ann Koedt dalam The Myth of the Vaginal Orgasm. Ia mengatakan perempuan juga mempunyai hak seksualitas dan hak orgasme. Orgasme tersebut didapat atas stimulasi dari klitoris. Jadi, perempuan tidak membutuhkan laki-laki untuk mencapai orgasme tersebut (Tong, 104—105). Akan tetapi, seperti yang dikatakan ahli psikologi John D Perry, PhD, orgasme tersebut juga dapat terjadi dari dalam vagina karena memiliki daerah sensitif di dinding depan atau atas vagina (kompas.com).

Beda halnya dengan feminisme radikal libertarian. Shulamith Firestone menyetujui penyimpangan polimorfus—menurut Freud—yang salah satunya menyebutkan lesbianisme. Menurutnya, semua orang bisa menikmati hubungan seksual dengan sesama ataupun lain jenis. Heteroseksual bukan menjadi suatu keharusan, melainkan hanya sebagai sebuah pilihan (Tong, 78—79). Saya setuju dengan pendapat Firestone dalam hal ini. Orientasi seksual seseorang tidak dapat dipaksakan. Ia bebas menentukan jenis kelamin apa yang menjadi orientasi seksualnya. Namun, mereka sering kali mengelak dari orienrtasi seksualnya akibat ketakutan untuk tidak diterima masyarakat.

Menurut saya, pada dasarnya, lesbianisme muncul akibat kemuakan perempuan terhadap opresi yang dilakukan laki-laki. Feminisme radikal libertarian menganggap opresi itu terjadi akibat sistem patriarki, sedangkan feminisme radikal kultural menyatakan bahwa opresi itu berasal dari maskulinitas. Kedua kubu ini percaya lesbianisme seharusnya tidak ditentang dalam kehidupan sosial.

Sayangnya, hal tersebut belum terjadi di Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih menganggap lesbianisme sebagai bentuk penyimpangan yang sama sekali tidak dapat diterima. Saya pun pada awalnya berpikiran sama dengan masyarakat kebanyakan ketika didekati oleh salah satu lesbian ketika di sekolah dulu. Setelah saya sadar apa yang dilakukannya melebihi batas sebagai seorang teman, saya menjauh memutuskan hubungan dengannya.

Kemudian, ketika saya duduk di bangku kuliah, teman dekat saya pun mengaku bahwa ia seorang lesbian. Katanya, ia menjadi lesbian karena terbiasa mendapat perhatian dari perempuan. Ia pun bercerita bahwa ia tidak didampingi figur ayah semasa pertumbuhannya. Dalam konteks ini, saya melihat adanya bentuk opresi berupa kekecewaan yang mendalam kepada laki-laki yang terwakilkan oleh figur ayahnya. Saya pun mulai membuka pikiran dan berani menerima keberadaan lesbian sebagaimana adanya.

Saya memperhatikan hubungan teman dekat saya itu dengan pasangannya. Memang, salah satu dari mereka mempunyai sisi maskulin yang cukup kental, sedangkan yang satunya mempunyai sisi feminin yang kental juga. Seperti pasangan heteroseksual, mereka pun mempunyai masalah dan seringkali bertengkar. Namun, saya tetap melihat adanya opresi dalam hubungan itu yang dilakukan oleh keduanya. Bahkan, keduanya pun melakukan pengorbanan total dan menjadi feminin masokistik. Akan tetapi, ketika perempuan yang mempunyai sisi maskulin kuat melakukan pengorbanan total, apakah ia dapat disebut sebagai maskulin masokistik? Atau, ketika itu terjadi, sisi femininnya yang sedang muncul?

Pada tahun-tahun terakhir kuliah, saya aktif bergabung dalam sebuah komunitas olahraga. Di sini pun, suasana lesbianisme begitu terasa. Awalnya, saya hanya tahu satu orang adalah lesbian. Dia mendekati teman perempuan yang lain di dalam komunitas itu dengan menamakan hubungan mereka kakak-adik. Hubungan dari teman biasa pun terlihat berubah ke hubungan yang lebih spesial. Kemudian, mereka pun memberikan perhatian lebih kepada teman-teman lain di komunitas itu. Lalu, satu per satu saling memberikan perhatian lebih kepada satu teman pilihan. Akhirnya, beberapa pasangan terlihat sering bersama dan menunjukkan hubungan spesial.

Terus terang, saya pun sempat merasakan perhatian yang lebih dan merasa nyaman. Terasa diperhatikan sesuai kebutuhan dan begitu dimengerti. Akan tetapi, rasa kepemilikan sangat kental. Wilayah kedaulatan yang harus dijaga—seperti dikatakan oleh Daly—seolah-olah diobr ak-abrik dan tidak diberikan tempat saya untuk bebas. Itu pun terjadi dengan pasangan lainnya. Opresi tetap terjadi dalam hubungan yang mengarah ke lesbianisme.

Sekeluarnya dari komunitas itu, saya tidak merasa ada ketergantungan untuk membina hubungan dengan perempuan. Saya dan beberapa teman lain mengakui bahwa itu adalah bagian dari eksistensi. Tren saat itu—mungkin hingga saat ini—adalah orang-orang yang berlomba-lomba untuk tidak menjadi bagian dari masyarakat ‘kebanyakan’. Mereka berusaha “seberbeda” mungkin dengan yang lain, seperti menjadi lesbian atau biseksual. Itu adalah salah satu alasan mereka untuk menjadi lesbian. Tidak ada pengalaman akan opresi yang disadari hingga berbekas yang membuat mereka menjadi lesbian atau biseksual. Mereka hanya ingin dianggap orang yang “lebih” di lingkungannya. Mereka dibicarakan oleh komunitas lain dan dianggap berbeda. Dengan demikian, ia menjadi eksis walaupun tetap berusaha menutup-nutupi orientasi seksualnya.

Pemikirian Firestone masih berlaku dalam hal ini. Perempuan tetap diberikan kebebasan untuk memilih menjadi heteroseksual maupun homoseksual. Ia tidak terbelit dengan budaya patriarki yang mengharuskan orang menjadi heteroseksual. Namun, itu pun dilakukan atas dasar eksistensi semata, bukan perlawanan terhadap opresi laki-laki—dalam kasus terakhir.

Pustaka Acuan

Arivia, Gadis. Filsafat Berspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2003.

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

“Sulit Orgasme.!” Kompas.com 11 April 2002. 20 Oktober 2008. <http://www2.kompas.com/kesehatan/news/0204/11/074330.htm>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar