Kamis, 02 Juli 2009

Mitos tentang Seksualitas Menjadi Dasar Opresi Perempuan

Latar Belakang

Seksualitas adalah milik setiap individu, baik perempuan maupun laki-laki. Akan tetapi, budaya patriarki semakin meminggirkan perempuan dan membuat seolah-olah perempuan tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan, seksualitas yang seharusnya dimiliki perempuan hanya menjadi milik laki-laki. Dikatakan demikian karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dilakukan berdasarkan cara penilaian laki-laki.

Salah satu contoh yang menarik perhatian saya adalah pengalaman hubungan seksual pertama pada perempuan. Dalam budaya timur, seperti Indonesia, seksualitas menjadi sesuatu hal yang tabu untuk dibicarakan, apalagi oleh perempuan. Dengan demikian, pengalaman perempuan akan seksualitas tidak diketahui secara mendalam oleh masyarakat luas. Dalam makalah ini, saya menggali pengalaman perempuan yang belum menikah mengenai pengalaman pertamanya dalam berhubungan seksual.

Cerita ini terjadi pada 3,5 tahun yang lalu dan sebelumnya tidak pernah diungkapkan kepada orang lain. Kebungkaman perempuan terhadap pengalaman pertamanya karena norma agama dan adat yang melarang perempuan yang belum menikah untuk melakukan hubungan seksual. Ia tidak mau dianggap bukan perempuan baik-baik yang bisa dijadikan bahan pergunjingan orang banyak, bahkan hingga dikucilkan.

Pengalaman ini dialami oleh Dina (bukan nama sebenarnya) yang berusia 26 tahun saat ini. Pengalaman berhubungan seksual pertamanya terjadi ketika ia berusia 23 tahun. Ini adalah pacar ketujuhnya. Sebelumnya, ia sama sekali tidak pernah berhubungan seksual, bahkan bergandengan tangan. Ia memegang teguh prinsip-prinsip yang diajarkan di sekolah ataupun di rumah mengani konsep perempuan baik-baik, yaitu tidak genit dan menjaga keperawanan.

Pacar yang ditemuinya 3,5 tahun lalu itu berhasil membuatnya percaya bahwa berhubungan seksual merupakan salah satu cara yang harus dilakukan untuk membuktikan cinta yang mereka rasakan. Berikut kutipan pernyataan Dina mengenai bujukan pacarnya.

Dina : “Terus, gue bilang deh tuh, gue harap loe nggak minta itu karena gue takut. Terus, dia bilang, “Nggak kayak gitu kok, kan nggak ada paksaan, kan kita sayang.”

Bujukan rayu dan marah karena ditolak terus menghantui sehingga membuat Dina mau melakukannya dengan keadaan terpaksa. Ia takut pacarnya akan marah dan meninggalkannya. Berikut kutipan cerita pengalamannya.

Dina : “Daripada dia marah, lebih ke arah gitu, daripada kecewa lagi. Males gue kalo berantem lagi ama dia.”

Di sisi lain, ia juga percaya bahwa hubungannya kali itu akan berakhir di pelaminan, walaupun pada akhirnya mereka harus berjalan sendiri-sendiri.

Setelah kejadian itu, ia cenderung menyalahkan dirinya sendiri. Ia pun susah mengampuni dirinya sendiri sehingga seringkali menghukum dirinya, seperti membuat luka di tangannya, tidak percaya dengan orang, dan tidak percaya dengan cinta. Ia cenderung lebih sering sendiri dan memendam semua permasalahannya. Tidak ada lagi orang yang dipercaya. Ia seolah-olah mengasingkan diri selama enam bulan setelahnya.

Dari kejadian ini, saya melihat opresi yang dialami perempuan akibat hubungan seksual sebelum menikah. Segala macam pemikiran mengenai keperawanan, image perempuan baik-baik, pembuktian cinta, dan seksualitas yang ditekankan pada perempuan menjadikan mereka teropresi. Berikut kutipan cerita Dina ketika ditanya apa yang ia rasakan setelah berhubungan seksual pertama.

Dina : “Sakitnya tuh dua-duanya. Physically iya, hatinya iya.”

Masalah

Dari penjelasan di atas, saya menanyakan kembali tentang adanya mitos-mitos yang dibuat berdasarkan budaya patriarki dan mengakibatkan opresi terhadap perempuan. Mitos tersebut disebarkan dari generasi ke generasi sehingga dianggap menjadi satu kebenaran tunggal tanpa dilihat latar belakangnya. Di sisi lain, saya juga tidak melihat ada pengalaman perempuan yang terefleksi dalam mitos-mitos itu. Perempuan cenderung dijadikan korban mitos yang harus mengikuti budaya yang ada, yaitu budaya patriarki.

Mitos-mitos yang saya maksud adalah mitos-mitos yang berhubungan dengan seksualitas, sesuai dengan pengalaman perempuan yang saya paparkan di atas. Masyarakat mempunyai pandangan sendiri terhadap perempuan baik-baik. Perempuan dengan predikat itu dikenal dengan perempuan yang masih perawan, tabu membicarakan seksualitas, menurut kepada pasangan—dalam hal ini laki-laki—dan orangtua, pandai mengurus aktivitas domestik, dan berpakaian yang sopan—dalam artian menutup hampir semua bagian tubuhnya agar tidak merusak pikiran laki-laki.

Semua hal tersebut dipercaya oleh masyarakat dan dijadikan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, pertanyaan yang masih tersisa adalah apakah perempuan merasa baik-baik saja dengan segala peraturan tersebut atau justru sebaliknya, merasa teropresi, tetapi enggan mengungkapkan. Pertanyaan ini harus lekas terjawab karena mitos ini pun akan tetap diteruskan ke generasi lainnya.

Analisis

Catharine A. MacKinnon mempunyai pandangan kritis terhadap seksualitas perempuan. Jika berkenaan dengan hal tersebut, perempuan langsung menjadi objektifikasi seks. Segala dominansi laki-laki menjadi begitu seksual. Dengan demikian, posisi perempuan dan laki-laki menjadi tidak setara dalam seksualitas (1989, 127). Arti seksual tidak hanya dibuat dengan kata-kata atau dalam teks. Seksualitas dibentuk dalam relasi sosial akan kekuasaan di dunia melalui proses gender yang juga diproduksi.

Semakin lama seksualitas perempuan semakin ditekan, tidak diperbolehkan. Ketika Dina ditanya berapa kali ia melakukan hubungan seksual, ia menjawab berdasarkan berapa kali pacarnya mengalami kepuasan yang ditandai dengan ejakulasi. Ia tidak pernah memikirkan akan kepuasan dan kenikmatan seksual selama berhubungan. Hal ini sama dengan pemikiran MacKinnon bahwa seksualitas telah menjadi milik laki-laki. Perempuan seolah-olah melupakan—atau secara tidak langsung dilupakan—kebutuhan seksualitasnya.

Selain itu, MacKinnon (1989, 137) juga menjelaskan deskripsi seksual berdasarkan budaya. Segala yang seksual adalah segala sesuatu yang dapat membuat laki-laki ereksi. Sementara itu, jika saya perhatikan, semua perempuan berlomba-lomba untuk menjadi seksual. Semua iklan di media massa menawarkan produk-produk yang menjanjikan hasil yang seksual dan digemari laki-laki. Seksualitas pun mulai merambah dalam dunia kapitalisme. Perempuan seolah-olah dieksplorasi demi kepuasan laki-laki.

Perempuan diajarkan bahwa ia akan merasa dicintai jika ada laki-laki yang mau berhubungan seksual dengannya dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan laki-laki tersebut. Nilai perempuan masih dinilai dari sudut pandang laki-laki. Seolah-olah permepuan tidak mempunyai subjektivikasi, bahkan untuk menilai dirinya dan kebutuhannya. Contoh lainnya adalah kepuasaan perempuan dalam berhubungan seksual. Perempuan melihat kepuasan yang dialaminya dengan bercermin kepada kepuasan pasangannya. Ketika pasangannya merasa puas, ia akan merasa berhasil dalam berhubungan seksual.

MacKinnon juga menjelaskan bahwa sebagian besar perempuan cenderung merasakan hubungan seksual pertamanya dengan unsur paksaan dan kekerasan. Seperti yang dialami Dina, hubungan seksual seperti itu ia anggap sesuatu hal yang wajar atau memang seperti itulah berhubungan seksual, harus dengan paksaan dan tidak merasakan kenikmatan. Ketabuan perempuan untuk mengungkapkan pengalaman pertamanya juga membuat mereka tertutup dari informasi akan hubungan seksual. Mereka menjadi tidak tahu hak seksualitas mereka. Bahkan, segelintir perempuan masih tidak tahu bahwa dalam berhubungan seksual, perempuan dapat mencapai orgasme seperti laki-laki dengan cara yang berbeda. Dalam kasus Dina, ia bahkan meragukan apakah ia pernah merasakan kenikmatan ketika berhubungan seksual. Ia merasa bisa menikmatinya hanya ketika mengkonsumsi ganja. Saya pun meragukan apakah kenikmatan yang ia rasakan akibat hubungan seksual atau pengaruh ganja yang ia isap.

Dina : “Pernah nggak, ya? Asal ada baks, gue seneng karena jauh lebih lambat. Slow motion gitu, santai. Udah gitu, gue bisa tidur. Gue nggak mikir gitu setelah itu.”

Ada kemungkinan bahwa keraguan akan kenikmatan yang dirasakan akibat ajaran mengenai konsep perempuan baik-baik. Salah satu ciri-ciri perempuan baik-baik adalah bersikap pasif. Perempuan yang aktif diasumsikan terlalu banyak tahu tentang seksualitas dan mampu merasakan kenikmatannya. Hal itu dianggap tidak baik karena akan dianggap sebagai perempuan tidak baik-baik.

Menurut saya, ketika seorang perempuan mengetahui banyak tentang seksualitas, ia akan dianggap bukan perempuan baik-baik. Akan tetapi, penilaian menurut siapakah yang mendefinisikan perempuan seperti itu? Tentu saja, budaya patriarki memegang peranan tinggi dalam menentukan penilaian tersebut. Perempuan seperti tidak diberi ruang utnuk mendefinisikan dirinya sendiri. Padahal, perempuan yang tahu banyak tentang seksualitas merupakan pengetahuan lebih bagi dirinya, pasangannya, dan bahkan bagi perempuan lainnya. Sementara itu, sebagian besar manusia cenderung melakukan banyak hal demi image yang akan mereka sandang, mulai dari acara berpakaian, pendidikan, pekerjaan.

Simone de Beauvoir pun menegaskan bahwa perempuan baik-baik hanya ada dalam tataran mitos. Suatu konsep yang diciptakan berdasarkan sudut pandang laki-laki untuk memenuhi kebutuhan mereka. Konsep perempuan baik-baik pun meliputi banyak hal, seperti keperawanan yang termasuk dalam mitos pula.

Keperawanan merupakan hal penting dalam masyarakat, apalagi untuk laki-laki. Keperawanan dianggap sebagai satu tolak ukuran yang meninggikan nilai perempuan. de Beauvoir menegaskan hal ini dengan memberikan contoh ajaran agama Kristiani yang meninggikan tokoh Maria, ibu Yesus, yang perawan (1983, 173). Ajaran agama pun banyak dipengaruhi oleh cara pandang laki-laki karena penyebarannya banyak dilakukan oleh laki-laki. Bahkan, penyebaran yang dilakukan oleh perempuan pun cenderung tidak dipercaya dan tidak dibesar-besarkan dalam kitab suci. Peran perempuan dalam penyebaran agama menjadi kecil sehingga meminimalisir perspektif perempuan.

de Beauvoir pun menjelaskan bahwa mitos menunjukkan subjek, harapan, dan ketakutan di dalamnya (1983, 174). Ketika mitos yang beredar dipengaruhi oleh sudut pandang laki-laki, perempuan mengalami degradasi secara subjektif, tidak ada mimpi dan ketakutan yang terwakili di dalamnya. Perempuan tidak terefleksi di dalam mitos sehingga perempuan bermimpi melalui mimpi yang diciptakan laki-laki. Ia hanya hidup di dalam dunia laki-laki.

Sepemikiran dengan de Beauvoir, Luce Irigaray juga menekankan bahwa mitos, agama, dan pondasi simbol akan kebudayaan telah dikuasai laki-laki (1995, 8—10). Perempuan tidak tercermin di dalamnya. Seksualitas tergambar di dalamnya. Partial drives yang dimiliki perempuan terkikis dengan adanya budaya patriarki yang semakin melekat (1995, 21—24). Seksualitas yang tergambar dari penciuman, pendengaran, penglihatan, sentuhan, dan perasaan telah terkontaminasi oleh teknologi yang merupakan hasil kebudayaan patriarki. Partial drives itu terkikis sehingga perempuan tidak begiut mengenal seksualitasnya lagi sehingga kehilangan identitasnya.

Kesimpulan

Dari paparan di atas, perempuan jelas terlihat sebagai objek dalam budaya patriarki karena segala tindak lakunya dinilai berdasarkan sudut pandang laki-laki dan secara langsung maupun tidak langsung perannya seolah-olah hanya untuk memenuhi kebutuhan laki-laki. Perempuan menjadi tidak mempunyai identitas, seperti yang selalu ditekankan oleh Irigaray. Perempuan hanya mewakili benda, tidak lagi menjadi subjek.

Paksaan yang dialami perempuan dalam hubungan seksual pertamanya akibat ia dijadikan sebagai objek seksualitas. Tidak berhenti di situ, perempuan masih menjadi objek penilaian laki-laki setelahnya. Pengalaman dan subjektivikasi perempuan tidak dianggap. Perempuan pun enggan membicarakan masalah ini terkait dengan image yang ia jaga sebagai perempuan baik-baik, bahkan kepada sesama perempuan. Pengalaman perempuan pun sulit terungkap.

Ketertutupan perempuan akan pengalaman seksualitasnya membuat perempuan lain semakin tidak menyadari opresi yang dialaminya. Mereka pun juga tetap tidak mengetahui hak seksualitas mereka. Konsep mereka akan seksualitas akan tetap sama, yaitu seksualitas yang dipandang dari kacamata laki-laki. Ketidaksetaraan gender tetap dianggap sebagai suatu hal yang seksual. Paksaan, diskriminasi, dan kekerasan dianggap sebagai suatu hal yang biasa dalam menginterpretasikan hubungan seksual. Perempuan hanya bisa menerima mitos tersebut karena mereka tidak tahu bahwa itu bisa direkonstrusksi. Dengan demikian, rekonstruksi akan konsep seksualitas sebaiknya dilakukan dengan memberikan perspektif perempuan.

MacKinnon, de Beauvoir, dan Irigaray bisa menggambarkan pengalaman perempuan, termasuk yang dialami oleh Dina. Pada dasarnya, perempuan harus mengenal dirinya sendiri untuk mendapatkan identitas dirinya. Kemudian, mereka harus tahu hak seksualitasnya sehingga tidak mendapat paksaan, diskriminasi, dan kekerasan dalam berhubungan seksual. Di luar perintah agama, perempuan bebas berhubungan seksual selama ia mengetahui risiko medis yang mungkin diakibatkan dari tindakan tersebut.

Untuk merealisasikan hal tersebut, perempuan mempunyai banyak tugas. Mereka harus melakukan transformasi budaya. Konsep cinta yang mereka terima selama ini sebaiknya direkonstruksi sehingga ada perspektif perempuan di dalamnya. Kemudian, konsep seksualitas yang justru membelenggu mereka juga bisa dikonstruksi ulang dengan memasukkan pengalaman perempuan sebagai cerminannya.

Semua hal tersebut dapat dilakukan setelah ada kesadaran pada perempuan bahwa mereka mengalami opresi. Kesadaran ini pun dapat dilakukan dengan membagi pengalaman mereka ke sesamanya, seperti yang diusulkan MacKinnon. Pengalaman perempuan yang tidak pernah terungkap membuat perempuan percaya bahwa apa yang ia terima selama ini merupakan satu kebenaran tunggal. Dengan demikian, mereka tidak menyadari opresi yang dialaminya. Seperti yang dikatakan oleh Kate Millet, laki-laki bahkan tidak perlu melakukan kekerasan lagi untuk membuat perempuan mengikuti keinginannya. Kebenaran tunggal itu sudah melekat dalam pikiran perempuan, walaupun identitas mereka tidak terwakilkan di dalamnya.

Sumber Referensi

de Beauvoir, Simone. (1983). The Second Sex. Inggris: Penguin Modern Classics.

Irigaray, Luce. (1995). Thinking the Difference for a Peaceful Revolution. Terj. Karin Montin. London: The Athlone Press.

MacKinnon, Catherine A.. (1989). Toward a Feminist Theory of The State. Cambridge: Harvard Unicersity Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar