Kamis, 02 Juli 2009

Pandangan Perempuan dalam “Kena Batunye…”


Peran Karya Sastra

Karya sastra mempunya peran yang cukup besar dalam masyarakat. Pemikiran atau pola hidup yang ada dalam karya sastra seringkali membuka pemikiran pembaca, bakan menjadi inspirasi bagi pembacanya. Tentu saja, karya sastra itu sendiri merupakan hasil dari konsep yang ada di masyarakat. Pengarang menggambarkan realitas yang ada di sekitarnya dan memberikan cermin pemikirannya dalam hasil karyanya itu.

Seperti dikatakan Maria Josephine Kumaat Mantik, seorang pengarang adalah makhluk sosial yang merupakan hasil dari produk sistem nilai yang ada di sekelilingnya (2006, 14). Keadaan sosial dan atau konflik batin pada kehidupan pengarang cenderung mempengaruhi hasil karyanya. Oleh karena itu, melalui karya sastra, pembaca bisa melihat cerminan hasil konstruksi budaya setempat.

Salah satu hasil konstruksi tersebut adalah stereotip perempuan. Perempuan acapkali berada di posisi yang lebih rendah dari laki-laki, sebagai warga negara nomor dua. Perempuan dianggap tidak dapat hidup sendiri; berada di bawah kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan dianggap tidak dapat menentukan apa yang terbaik buat hidupnya sendiri. Banyak sekali campur tangan laki-laki dalam kehidupan perempuan, walaupun perempuan itu sendiri tidak mengkehendakinya. Sebagian perempuan terlena denagn pemikiran tersebut dan menyebutnya sebagai kodrat perempuan; sesuatu yang tidak bisa diubah. Sebagian lainnya mempunyai pandangan yang berbeda.

Sebagian perempuan sadar bahwa mereka mempunyai pilihan yang berbeda. Perempuan sanggup menentukan arah hidupnya sendir dengan akal, rasa, dan pengalaman yang ia miliki. Memang, laki-laki tetap mempunyai peran di dalamnya, tetapi bukan merupakan satu-satunya pilihan bagi perempuan untuk mengikuti cara pikir mereka. Perempuan sanggup untuk berada di posisi yang sejajar dengan laki-laki.

Penyadaran tersebut dapat terlihat dari karya sastra. Peran karya sastra dalam masyarakat mampu mengubah persepsi perempuan terhadap posisi tawarnya dalam masyarakat. Apa yang diungkapkan dalam masyarakat mampu menggambarkan apa yang terjadi dalam masyarakat dan dapat dijadikan cermin bagi perempuan. Di sinilah peran karya sastra begitu penting bagi pergerakan perempuan, setidaknya menggangu hasil konstruksi budaya yang merugikan perempuan.

Dalam suatu karya sastra, penokohan mempunyai peranan penting dalam penyampaian pesan dari pengarang. Pengarang menciptakan suatu sosok dalam karyanya untuk menggambarkan hasil budaya sekitarnya yang sudah diayak berdasarkan kesetujuan maupun ketidaksetujuan. Dengan demikian, pengkajian penokohan dalam suatu karya sastra dapat menunjukkan konstruksi sosial tersebut.

“Kena Batunye…”

Salah satu contoh karya sastra yang menonjolkan konstruksi sosial yang kuat mengenai posisi perempuan terdapat dalam “Kena Batunye…” karya N. Lia Marliana. Karya sastra ini mengisahkan seorang laki-laki denagn latar belakang budaya Betawi yang sudah mempunyai tiga istri. Lalu, ia tetap mempunyai niat untuk menambah satu istri lagi yang jauh lebih muda dari dia. Dari situlah konflik yang menunjukkan keperempuanan muncul. Tokoh perempuan yang ingin dijadikan istri keempat laki-laki tersebut mempunyai konflik batin yang cukup kuat.

Masalah yang diangkat dari drama tersebut juga sudah mencerminkan masalah perempuan di Indonesia, yaitu poligami. Poligami semakin merebak di Indonesia semenjak banyak tokoh masyarakat yang melakukan poligami dan dipublikasikan dalam media massa. Apalagi, tokoh masyarakat sering kali menjadi panutan bagi penggemarnya. Hal itu membuat poligami menjadi masalah yang seringkali diperbincangkan dan hampir menyentuh batas kewajaran.

Para pelakunya banyak mengatasnamakan agama sebagai dasar dari tindakannya tersebut. Menurut saya, N. Lia Marliana sebagai pengarang juga melihat kecenderungan ini. Hal ini terlihat ketika Zaenab mengutarakan pendapatnya mengenai poligami yang sudah dilakukan oleh artis-artis ibukota. Contohnya sebagai berikut.

(Kutipan 1)

Zaenab: “Nyak… Nyak… Poligami ntu artinye laki-laki yang punye bini’ lebih dari atu’. Waktu ntu, di tipi, aye liat Trie Utahuruk yang suka jadi juri AFI ntu, bicare soal keberatannye dipoligamiin lakinye. Die berusahe ikhlas lakinye kawin lagi karne Trie Utahuruk ude jelas-jelas mandul. Tapi, die kagak mau dimadu. Makanye, dia gugat cere’ lakinye. Dewi Yuyun juge. Ntu tu, Nyak, bintang pelem kesukaan Enyak nyang jadi Dokter Sartika di Te-Pe-Er-I… Tapi, Dewi Yuyun malahan anaknye ude banyak, hubungannya harmonis, akur-akur aje. Kayak lakinye Trie Utahuruk, eh, lakinye Dewi Yuyun juga ternyate ude kawin diem-diem, itu yang bikin mereka ngamuk…” (Marliana, 2005, 125—126)

Dari kutipan tersebut, pengarang—melalui tokoh Zaenab—mengungkapkan fenomena poligami yang ada di tengah masyarakat. Trie Utahuruk dan Dewi Yuyun yang diungkapkan dalam drama itu mengacu kepada Trie Utami dan Dewi Yul yang diberitakan bercerai dengan suaminya karena masalah poligami.

Ilustrasi masalah poligami dari kedua artis tersebut juga menunjukkan dua penyebab yang berbeda. Kasus poligami yang pertama disebabkan atas kesehatan reproduksi perempuan yang menyebabkan tidak bisa mempunyai keturunan. Kasus yang kedua menunjukkan kesehatan reproduksi bukanlah penyebab poligami, bahkan rumah tangga yang harmonis juga bukan penyebabnya. Penyebab pada kasus kedua masih dipertany\akan, bahkan oleh masyarakat. Selain itu, kedua artis tersebut menyatakan keberaniannya untuk berpisah dengan suaminya. Mereka tidak mau dimadu oleh suaminya sehingga mereka berani mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihan mereka. Dengan demikian, tema yang diambil dalam naskah drama itu begitu dekat dengan masalah perempuan. Zaenab pun sebagai calon istri yang keempat dari Rozak, tokoh laki-laki yang beristri tiga, mempunyai cara yang berbeda dalam menghadapi masalah poligami.

Tokoh Zaenab

Selain tema yang diangkat, penokohan pada drama itu juga memperlihatkan masalah keperempuanan. Saya tertarik untuk mengkaji tokoh Zaenab karena ia mempunyai konflik batin sebagai seorang perempuan yang belum terikat pernikahan. Ia adalah seorang perempuan yang mempunyai kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Zaenab pun mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi karena ia adalah mahasiswa tingkat akhir di ISTN. Selain itu, ia adalah anak tunggal dari orangtua yang bertar belakang budaya Betawi juga.

Patriarki yang melekat pada budaya Indonesia terlihat dari drama ini. Konflik keperempuanan berawal dari keluarga Zaenab. Kehidupan Zaenab sebagai anak tunggal perempuan diatur oleh bapaknya—laki-laki.

Kutipan 2

Rozak: “…Gue kenalan, Din… Ampir tiap ari gue anter jemput diah ke kampusnyah. Baba’nyah nyang nyuruh. Diahnyah sih kayaknyah kagak gitu demen ama’ gua dah.” (Marliana, 2005, 90)

Kutipan 3

Zaenab: “Ade perlu ame Babe? Pan Abang kemaren malem ude diwanti-wanti ame Babe kagak boleh ke sini lagi, kecuali ngelamar aye. Emang Abang kagak takut ame Babe?” (Marliana, 2005, 98)

Dari kutipan tersebut terlihat bahwa kedekatan Rozak dengan Zaenab disebabkan oleh anjuran dari ayahnya. Zaenab sendiri sebenarnya tidak mempunyai ketertarikan terhadap Rozak. Akan tetapi, seorang anak—terlebih perempuan—tidak mempunyai kuasa untuk menolak anjuran ayahnya, apalagi alasannya hanya sebatas tidak tertarik.

Dalam tradisi Indonesia tradisional, seorang ayah dipercaya dapat memilihkan pasangan hidup bagi anak perempuannya. Masyarakat percaya bahwa perempuan tidak mampu memilih apa yang terbaik bagi hidupnya. Jika kehidupan seorang perempuan dianggap gagal, orangtua pun akan dikatakan gagal dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, banyak orangtua yang masih menjodohkan anaknya karena merasa dirinya mampu memilih yang terbaik bagi kehidupan anaknya agar tidak gagal.

Eksistensi perempuan dihilangkan dalam tradisi itu. Hak pemilihan perempuan atas jalan hidupnya dibatas oleh laki-laki—dalam hal ini adalah ayahnya sendiri. Jika perempuan menolaknya secara keras, mereka akan dianggap durhaka, tidak menghormati orangtuanya, dan bisa tidak diterima lagi di keluarganya. Dengan demikian, perempuan harus mempunyai satu alasan khusus yang dapat meyakinkan orangtuanya akan pilihan hidupnya.

Pandangan Rozak terhadap Zaenab

Rozak mempunyai alasan tersendiri untuk menikahkan Zaenab. Hal ini terlihat dari kutipan berikut.

Kutipan 4

Udin: “Lha… Emangnye Agan mau jadiin die bini keempat? Maap ye Gan ye… Emangnye, tige bini masih kurang Gan?”

Rozak: “Kalo ada nyang lebih botoh, lebih cakep, lebih langsing, ngapa kagak, Din?” (Marliana, 2005, 91)

Kutipan tersebut menjelaskan alasan Rozak yang sebenarnya. Ia ingin menikahi Zaenab karena fisiknya. Pandangan Rozak akan fisik Zaenab untuk segera menikahinya memperlihatkan bahwa Rozak menganggap tubuh Zaenab sebagai objek.

Ada pula pandangan yang mengidentikkan pernikahan dengan hubungan seks semata. Jika dihubungakan dengan pandangan ini, Rozak hanya mencari kesenangan seksual dalam pernikahannya nanti dengan Zaenab. Rozak tidak menganggap Zaenab sebagai subjek yang patut dihargai dan berada pada posisi yang sejajar.

Poligami di Mata Zaenab

Zaenab tidak dapat menolak saran ayahnya walaupun tidak sesuai dengan kehendaknya. Ia pun mencari jalan untuk menjelaskan ketidaksetujuannya akan saran ayahnya. Sebenarnya, ketidaksetujuannya itu berawal dari usia Rozak yang terlampau jauh; hampir seusia dengan ayahnya. Akan tetapi, ia tidak mengutarakan secara langsung. Ia mencari tahu lebih banyak tentang Rozak dengan datang ke rumahnya. Ini pun ia lakukan dengan menggunakan strategi tersendiri. Ia datang dengan alasan tersesat mencari alamat orang lain. Dari satpam Rozak, ia pun mengetahui bahwa Rozak sudah memiliki tiga istri yang tinggal satu rumah. Ia pun mengatur rencana dengan istri pertama Rozak untuk menjebak Rozak saat hari lamarannya.

Kemudian, pada hari lamarannya, Zaenab membahas tentang poligami. Ayahnya menanyakan arti poligami. Jawaban Zaenab menjelaskan pandangannya terhadap poligami yang sudah banyak terjadi dalam masyarakat.

Kutipan 5

Zaenab: “Poligami kagak dilarang oleh agama Islam, asalkan, si laki ngomong bae’-bae’ dulu ama bininye kalo die mau dimaduin, asalkan si bini setuju dimaduin, ikhlas dimaduin, si laku bise berlaku adil, jadi laki yang yang bae’, bise nafkahin lahir batin. Sekarang pan yang banyak ade, si laki ude kawin diem-diem, baru ngomon ke bininye kalo si laki ude berpoligami. Jelas, si bini kagak setuju dimadu kalo carenye gitu. Itu, konsep poligami yang salah, Be…” (Marliana, 2005, 126)

Pemahaman Zaenab tentang poligami juga tidak menempatkan perempuan pada posisi yang sejajar. Kutipan itu mengesankan bahwa Zaenab tidak setuju pada poligami lantaran sebatas diberi tahu terlebih dahulu atau tidak. Ia sama sekali tidak membahas bahwa ketika laki-laki berpoligami, perempuan tidak dihargai dan tidak diakui. Perempuan dianggap sebagai kaum yang harus menerima keputusan kepala keluarga, sang suami, tanpa memperhatikan hak-haknya.

Kesimpulan

Zaenab berlatar pendidikan paling tinggi dibandingkan dengan istri-istri Rozak lainnya. Ia adalah mahasiswa tingkat akhir di ISTN. Dengan pendidikan yang termasuk tinggi tersebut, Zaenab mempunyai pemikiran yang luas. Ia sanggup mencari cara untuk membatalkan pernikahannya. Dengan demikian, pendidikan bagi perempuan sangat penting. Dengan pendidikan yang tinggi, perempuan akan mampu berpikir lebih luas untuk menghindarkan dirinya dari opresi.

Drama itu juga menggambarkan bahwa hak atas tubuh dan jalan hidup Zaenab tidak dikuasai sepenuhnya oleh dia. Pandangan Rozak terhadap tubuh Zaenab menentang apa yang diperjuangkan oleh feminisme radikal. Menurut feminisme radikal, seks dianggap sebagai sumber kekuasaan. Perempuan mempunyai hak akan tubuh dirinya sendiri. Sementara itu, ayah dan lingkungan sekitar Zaenab juga mempunyai peranan penting dalam penentuan haknya. Mereka menentang sex gender system yang ada di masyarakat. Dengan menghapuskan sex gender system, perempuan dapat berada di posisi yang sejajar dengan laki-laki.

Salah satu caranya adalah melalui karya sastra. “Kena Batunye…” menggambarkan pandangan perempuan mengenai isu poligami yang sedang berkembang di masyarakat. Pengarang melalui tokoh-tokohnya mengharapkan laki-laki sadar akan ruginya poligami yang digambarkan dengan semua istri meminta cerai pada akhirnya dan laki-laki itu menjadi sendiri. Pengarang juga mengharapkan perempuan mempunyai kesadaran untuk menolak poligami. Cara ini sejalan dengan feminisme yang mendukung perempuan untuk berani mengambil keputusan sesuai yang diinginkannya.

Sumber

Mantik, Maria Josephine Kumaat. Gender dalam Sastra: Studi Kasus Drama Mega-mega. Jakarta: Wedatama Widya Sastra (2006).

Marliana, N. Lia. “Kena Batunye…”. Tiga Naskah Drama: Hasil Lokaarya Perempuan Penulis Naskah Drama. Peny. Ags. Arya Dipayana. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta (2005).

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra (2006).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar