Kamis, 02 Juli 2009

Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja bagi Tunarungu

Latar Belakang

Satu dari enam penduduk di dunia ini (sekitar 1 milayar) adalah remaja, menurut Maggie Kilbourne-Brook (1998, 1). Di Indonesia, 30% penduduknya adalah remaja, sementara jumalah penduduk di Indonesia secara keseluruhan mencapai 222 juta orang. Jumah signifikan itu membuat remaja memegang peranan penting sebagai kelompok yang butuh diperhatikan.

World Health Organization (WHO) mendefinisikan remaja dengan membatasi umur mereka, yaitu 10—19 tahun. Dengan demikian, tidak hanya mereka yang mempunyai kelengkapan fisik, mereka yang mempunyai kemampuan berbeda (different abilities yang kemudian diakronimkan menjadi difabel) juga dapat dikategorikan dalam kelompok ini. Salah satu contohnya tunarungu.

Jumlah tunarungu di Indonesia mencapai 6 juta orang (Harmini, 2002). Berdasarkan Sensus Demografi dan Kesehatan Indonesia yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), diperoleh gambaran mengenai prediksi difabel per propinsi dari data penduduk tahun 2002—2003. Untuk propinsi DKI Jakarta, dari 426.550 total difabel, 21% atau 89.576 orang diantaranya adalah tunarungu (KAPCI, 22/4/2005).

Berdasarkan data Susenas tahun 2003, jumlah difabel usia sekolah (5—18 tahun) di Indonesia mencapai 317.016 orang. Untuk difabel yang masuk kategori remaja, Direktorat Pembinaan Luar Biasa memperkirakan jumlahnya mencapai 55.836 orang yang berarti 17,61% dari jumlah difabel usia sekolah (Sukarso, 2006). Akan tetapi, hingga saat ini belum ditemukan data yang tepat atau estimasi mengenai jumlah remaja tunarungu di Indonesia, termasuk pembagian perempuan dan laki-laki.

Memang, angka-angka tersebut tidak terlalu signifikan jika dibandingkan jumlah penduduk Indonesia. Akan tetapi, menurut saya, kita bisa berangkat dari angka kecil karena biasanya angka kecil cenderung kurang diperhatikan. Angka kecil ini sebenarnya juga mempunyai hak yang sama dengan angka besar lainnya. Dengan demikian, saya tertarik untuk membahas remaja dan lebih mengkhususkan diri lagi menjadi remaja tunarungu.

Sebelumnya, saya menjelaskan definisi tunarungu itu sendiri secara singkat. Menurut website Sekolah Luar Biasa Santi Rama, tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran dan percakapan dengan derajat pendengaran yang berfariasi antara 27dB—40 dB dikatakan sangat ringan 41 dB—55 dB dikatakan ringan, 56 dB—70 dB dikatakan sedang, 71 dB—90 dB dikatakan berat, dan 91 dB ke atas dikatakan tuli. Tidak semua tunarungu disebabkan bawaan sejak lahir. Ada pula tunarungu yang terjadi pada usia dini akibat penyakit yang dideritanya, seperti panas yang terlalu tinggi atau tertusuk benda tajam.

Secara umum, usia remaja merupakan usia peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa transisi ini memberikan banyak perubahan bagi remaja secara fisik. Salah satu contohnya adalah pertumbuhan mereka ditandai dengan menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki. Selain itu, psikologis mereka pun berubah. Mereka tidak mau lagi dianggap sebagai anak kecil karena merasa sudah besar, beranjak dewasa. Hal ini berpengaruh ke dalam banyak hal, misalnya rasa ingin tahu lebih besar, egosentris, dan menentang pendapat yang berbeda.

Rasa keingintahuan yang begitu besar tentu saja membuat remaja bertanya-tanya akan banyak hal. Menurut saya, mereka sebaiknya mendapat jawaban yang benar dan tepat; tidak banyak dipengaruhi oleh mitos yang belum tentu benar manfaatnya. Jawaban inilah yang dapat mereka gunakan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Informasi yang komprehensif dapat membantu mereka untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Salah satu pertanyaan yang sering mereka ajukan adalah hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas seiring dengan pengalaman dan pertumbuhan yang mereka alami. Ketertarikan dengan lawan jenis mulai timbul, apalagi disertai dengan dorongan seksual. Hal itu merupakan hal yang wajar sesuai dengan usia perkembangan seksual. Jawaban yang tidak jelas atau tidak lengkap akan hal itu dapat berakibat buruk bagi remaja. Mereka dapat mencari tahu sendiri tanpa mempertimbangkan risiko-risiko yang mungkin mereka terima setelahnya. Dengan demikian, pertanyaan mereka akan dorongan seksual harus terjawab dengan jelas.

Menurut Maggie Kilbourne-Brook (1998, 1), sekitar 15 juta remaja berusia 15—19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terkena Penyakit Menular Seksual (PMS) setiap tahunnya. Secara mendunia, kasus HIV pun terjadi pada kaum muda berusia 15—24 tahun sebanyak 40%. Fakta-fakta seperti itu menunjukkan bahwa betapa pentingnya pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) sebagai salah satu usaha pencegahan masalah-masalah itu.

Rasa ingin tahu yang besar pada remaja dan ketidaklengkapan informasi yang diperoleh juga dapat menimbulkan masalah lain. Mereka bisa mencari tahu jawabannya dengan melakukan hal-hal yang tidak bertanggung jawab, seperti perkosaan atau berhubungan seksual bebas yang salah diartikan. Masalah ini merupakan masalah bagi semua kaum perempuan karena perkosaan cenderung dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Akan tetapi, masalah ini menjadi masalah yang lebih pelik lagi bagi kaum tunarungu, terlebih perempuan.

Permasalahan

Tentu saja, perkembangan remaja tunarungu pun mempunyai masalah tersendiri. Mereka mengalami kesulitan emosi yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita kecacatan. Hal ini dapat terjadi karena mereka mempunyai hambatan dalam aktivitas-aktivitas tertentu ketika teman-teman lainnya yang tidak cacat dapat melakukannya dengan baik. Mereka juga mempunyai konsep diri yang kurang baik yang disebabkan oleh kekurangan yang dideritanya. Karena adanya hambatan tersebut, mereka merasa dikucilkan dan tidak merasa diterima jika berhubungan dengan orang lain (Neisworth dalam Mangunsong, 1998, 81).

Mereka mengalami kesulitan tersendiri untuk berkomunikasi secara luas karena keterbatasan bahasa yang mereka gunakan. Di samping tidak dimengerti oleh orang lain, tunarungu sukar memahami orang lain sehingga tidak jarang mereka merasa terkucil dari lingkungan sosial atau terisolasi (Uden dalam Bunawan 2000, 26). Keterbatasan mereka mempengaruhi tunarungu dari segi kemampuan mental atau kognitif (meliputi kecerdasan, daya ingat, dan daya abstraksi), bahasa, serta emosi dan sosial.

Keterbatasan bahasa remaja tunarungu menyulitkan mereka dalam memahami lambang dan aturan bahasa. Interdependensi antara pendengaran dengan perkembangan bahasa sangat besar dan merupakan masalah yang besar bagi remaja tunarungu. Struktur kalimat yang dipergunakan remaja tunarungu lebih sederhana apabila dibandingkan dengan remaja mendengar. Hal itu terlihat jelas dalam bahasa lisan maupun tulisan.

Keterlambatan remaja tunarungu dalam bidang kognitif lebih disebabkan kurangnya pengalaman dalam dunia nyata dan bahwa hal itu secara tidak langsung merupakan akibat kemiskinan bahasa yang membatasi mereka dalam kesempatan mengembangkan interaksi sehingga membatasi pengalamannya pula.­ Bahasa merupakan suatu faktor yang penting dalam perkembangan kontak dan interaksi sosial. Bahasa merupakan alat utama untuk mengkristalkan dan menstruktur pengalaman jadi kemampuan bahasa yang terbatas akan membatasi pula kemampuan untuk mengintegerasikan pengalaman (Bunawan, 2000, 33).

Kemampuan berbahasa mereka terbatas dengan sesuatu yang konkret. Mereka kesulitan untuk menjelaskan atau memahami sesuatu yang abstrak, sesuau yang berhubungan dengan konsep-sonsep belaka karena tidak terwakilkan oleh bahasanya. Walaupun mereka mempunyai tingkat inteligensi yang sama dengan orang normal, mereka tetap mengalami kesulitan dalam perkembangannya.

Masalah bahasa tersebut jelas merugikan mereka. Bahkan, hubungan antara antartunarungu pun dapat berdampak buruk akibat adanya kegagalan komunikasi yang terjadi. Contoh jelas dari hal itu dapat terlihat dalam kasus Gizka—anak Dewi Yull yang tunarungu—yang banyak dibicarakan dalam media massa. Ia menikah dengan tunarungu pula. Namun, akibat kegagalan komunikasi yang terjadi di antara mereka, terjadilah kekerasan dalam rumah tangga mereka yang berakhir dengan perceraian. Dalam hal ini, perempuanlah yang menjadi korban mengingat posisi perempuan yang masih menjadi subordinasi laki-laki dalam masyarakat Indonesia. Berikut kutipan beritanya di media massa.

Meski sebelumnya disampaikan Gizka, perpisahannya dengan Donny merupakan langkah baik-baik atas kesepakatan berdua, namun dari mulut Gizka pula diketahui kalau dirinya menjadi korban KDRT. Gizka, membenarkan adanya tindak kekerasan dalam rumah tangganya. Kekerasan itu, diakuinya juga menjadi salah satu musyabab gugatan itu dilayangkan. "Ada, Donny pernah pukul kepala saya sampai pusing hingga sekarang," ungkap putri Ray Sahetapy dari Dewi Yull ini.

Donny pun mulai angkat bicara, mengakui telah melakukan tidakan kekerasan pada istrinya, "Aku lakukan itu karena dia tak mengerti apa yang aku katakan."

(disadur dari http://selebriti.kapanlagi.com/gizka/berita/ 18 Juni 2008)

Selain itu, masalah perkembangan bahasa ini juga menimbulkan masalah lain, seperti perkosaan. Pendengaran yang kurang bagus dan kesulitan untuk mengemukakan perasaan dan pikiran pun seringkali dimanfaatkan dengan alih-alih tidak mampu menceritakan dengan jelas kejadian perkosaan. Selain itu, tingkat pendidikan tunarungu yang masih diremehkan juga mendiskriminasi mereka sebagai golongan yang tidak mengerti dan dianggap bisa dibohong-bohongi. Berikut contoh kasus yang dapat memperlihatkan hal itu.

“Anak perempuan yang menjadi korban, sebut saja Bunga (10), yang cacat tuna rungu. Siswa SD kelas 3 Desa Negeri Ratu, Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten OKU Timur, ini diperkosa tiga teman sekolahnya. Bahkan Bunglaa sempat dipaksa melakukan oral seks.”

(disadur dari http://www.detiknews.com/read/2009/04/16/135250/1116487/10/ anak-tuna-rungu--diperkosa-temannya 16 April 2009)

Kasus tersebut menghantarkan kita pada kesadaran akan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi remaja bagi tunarungu. Denga segala keterbatasannya, mereka tetap harus mengetahui akan sistem, fungsi, dan proses reproduksi yang akan mengantarkan mereka kepada rasa tanggung jawab akan kesehatan mereka dan menjauhkan mereka dari pelecehan seksual. Pengetahuan tentang KRR bagi tunarungu harus dieksplorasi lebih lanjut.

Tujuan

Kesehatan reproduksi remaja ini memang masalah yang dijumpai tidak hanya oleh remaja tunarungu. Akan tetapi, kasus-kasus di atas menunjukkan akan opresi dan diskriminasi yang mereka alami jauh lebih besar dan patut dipertimbangkan. Dengan demikian, makalah ini bertujuan untuk melindungi remaja tunarungu perempuan dari pelecehan seksual dan kekerasan. Selain itu, pengetahuan akan KRR tersebut dapat membuat mereka mengenal tubuhnya sendiri dan menimbulkan rasa peduli yang disertai tanggung jawab untuk menjaganya.

Metodologi

Media massa banyak memberitakan masalah pelecehan seksual dan kekerasan yang dialami remaja tunarungu perempuan. Kemudian, lingkungan asosiasi tunarungu yang saya geluti juga cukup memberikan gambaran akan keadaan tunarungu secara umum. Hal-hal itu menimbulkan ketertarikan tersendiri untuk mengetahui lebih lanjut akan masalah yang dihadapi tunarungu sehubungan dengan kesehatan reproduksinya.

Saya pun melakukan studi literatur yang dimulai dengan membaca skripsi Dian Marsi—mahasiswa Kesejahteraan Sosial Fakultasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia—mengenai gambaran pengetahuan dan sumber informasi kesehatan reproduksi remaja tunarungu. Dari skripsi tersebut, saya mendapat gambaran lebih luas mengenai KRR bagi tunarungu di SDLB Santi Rama. Dalam skripsinya, Marsi melakukan wawancara dengan enam remaja tunarungu mengenai pengetahuannya terhadap KRR. Satu wawancara di antaranya saya kutip sebagai data dalam makalah ini. Untuk melengkapi data, saya pun mengadakan wawancara dengan satu remaja tunarungu perempuan lain dan satu ibu tunarungu yang saya kenal di salah satu asosiasi tunarungu. Orangtua ini mempunyai anak normal yang masih berusia 6 tahun. Dengan demikian, untuk mendapat gambaran yang lebih luas, saya mengutip kembali wawancara Marsi dengan orangtua remaja tunarangu.

Analisa

Menurut WHO pada 1993, kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial; bukan karena ketiadaan penyakit dan kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses-proses dari organ reproduksinya. Dari sudut pendidikan formal, pengetahuan KRR yang diberikan sekolah menurut Sonenstein dan Pittman (dalam Santrock, 2006, 370) antara lain meliputi beberapa materi, seperti kontrasepsi, PMS, akibat kehamilan pada remaja, kemungkinan hubungan seksual dan kehamilan, waktu siklus ketika kehamilan paling sering terjadi, serta pengambilan keputusan dalam hal seksual dan aborsi.

Penjabaran mengenai pengetahuan KRR di atas masih bersifat umum dalam arti belum mengelompokkan materi berdasarkan usia. Swhwier dan Hingsburger (dalam Scherrer dan Klepacki 2006, 15—22) mengusulkan beberapa materi pengetahuan KRR yang disesuaikan dengan usia mental anak. Untuk anak usia 9—15 tahun materi yang diberikan antara lain mengenai mimpi basah, menstruasi, perubahan fisik lainnya, cara mengenali dan mengatakan “tidak” pada sentuhan seksual orang lain, proses reproduksi, dan kesehatan alat-alat reproduksi, perasaan dan dorongan sek­sual, serta masturbasi. Berdasarkan materi-materi yang disebutkan Swhwier dan Hingsburger, BKKBN melalui situs CERIA (Cerita Remaja Indonesia), dan juga Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi turut membahas materi-materi berikut (Muadz, 2007, 26-46): pubertas, perubahan fisik, menstruasi, mimpi basah, alat-alat reproduksi, proses reproduksi, pencegahan terhadap pelecehan seksual, perasaan dan dorongan seksual, dan masturbasi.

Dalam salah satu penelitian yang dilakukan Dian Marsi (2007, 132—140) akan gambaran pengetahuan remaja tunarungu (12—15 tahun) di SDLB Tunarungu Santi Rama, pertanyaan-pertanyaan tersebut pernah ditanyakan kepada beberapa remaja tunarungu. Jawaban mereka pun menandakan bahwa mereka tidak mendapat pendidikan KRR dengan benar.

Ketika salah satu di antara mereka ditanya bagaimana bayi dilahirkan, jawabannya, “Dioperasi, dan bisa lahir lewat pantat, eh..hahaha lewat lubang. Lubang apa aku tidak tahu, mungkin sama dengan lubang pantat.” Lalu, ketika ditanya di manakah bayi tumbuh di dalam tubuh wanita dewasa yang sedang hamil, jawabannya, “Di dalam perut, di usus.” Ketika ditanya bagaimana mereka berpacaran, jawabannya, “Tapi kata pacarku, kalau ciuman bisa hamil. Dia tahu dari mamanya katanya.” Salah satu di antara mereka juga tahu akan gambar alat reproduksi perempuan yang ditunjukkan. Berikut komentarnya.

“Yang aku tidak mengerti kenapa gambar alat kelamin perempuan seperti itu, tidak seperti yang aku lihat. Mama bilang itu ada di dalam perut, yang kelihatan hanya sedikit.”

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebenarnya merupakan pengetahuan dasar akan kesehatan reproduksi. Jawaban mereka menunjukkan ketidaktahuan mereka akan kesehatan reproduksi mereka. Hal itu terang dapat merugikan mereka karena mereka tidak mengenal diri mereka sendiri. Dengan tidak mengenal, mereka menjadi kurang mempedulikan cara menjaga kesehatan reproduksi mereka.

Selain ketidaktahuan mereka, mereka juga menggunakan istilah “perkosa” untuk menjelaskan hubungan suami-istri. Jadi, ketika mereka ditanya apakah mereka tahu bagaimana seorang bayi bisa ada di dalam perut ibu, beberapa di antara mereka menjawab, “Ibu menikah dengan Ayah dan diperkosa.”

Ternyata, dalam bahasa isyarat atau bahasa yang mereka kuasai belum diajarkan konsep hubungan suami-istri, hubungan intim, atau hubungan seks. Dengan demikian, konsep itu digantikan dengan “perkosa” yang jelas mengandung arti yang jauh berbeda. Istilah “perkosa” yang dipergunakan merupakan istilah yang sering digunakan tidak hanya oleh siswa, tetapi juga oleh guru di SDLB Tunarungu Santi Rama. Dari pihak guru-guru sendiri masih mengalami kesulitan untuk membahasakan hubungan intim kepada siswa tunarungu, istilah “perkosa” pun menjadi umum dipakai, pengertian dari istilah “perkosa” yang benar hanya dipahami oleh segelintir anak.

Penjelasan tersebut jelas menunjukkan ketidaksetaraan gender dalam bahasa yang mereka gunakan berkaitan dengan KRR. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003, 861), perkosa diartikan sebagai menundukkan dengan kekerasan; memaksa dengan kekerasan; melanggar dengan kekerasan. Hubungan seks selalu dikaitkan dengan kekerasan. Hal itu jelas dapat mempengaruhi pola pikir mereka dalam memahami proses reproduksi. Mereka dapat memahaminya dengan cara yang berbeda, seperti semua hal yang berhubungan dengan seksual harus berkaitan dengan kekerasan. Pemahaman seperti ini jelas merugikan pihak perempuan yang seolah-olah membenarkan stereotip yang ada di masyarakat—menempatkan perempuan sebagai pihak yang pasif. Seksualitas menjadi milik laki-laki mutlak.

Hubungan antara seksualitas dan kekerasan dibicarakan pula oleh seorang feminis, Catherine A. MacKinnon. Ia mengatakan bahwa perempuan telah disosialisasikan untuk menjadi penerima pasif (1989, 177). Ia juga mengatakan bahwa paksaan dan hasrat milik laki-laki. Solusi yang coba diberikan olehnya adalah mengenal seksualitas lebih dalam sehingga paham akan maknanya dan mengubah persepsi perkosaan itu. Hal itu saya artikan sebagai pemberian pendidikan KRR sebagai modal remaja untuk menghadapi masalah seksualitas.

Jika dikaitkan dengan kelompok tunarungu, mereka sangat perlu diberi informasi atau penjelasan lebih lanjut akan KRR. Yang paling penting adalah penggantian istilah “perkosa” untuk hubungan seksual dan memberikan arti yang lebih lengkap sehingga tidak menjadi kesalahpahaman akan makna hubungan seksual. Menurut guru maupun orangtua—tempat mereka mendapat informasi akan KRR, istilah itu digunakan karena kesulitan untuk menjelaskan secara konkret hubungan seksual karena ketabuan. Mereka pun lebih memilih untuk menjelaskan secara tidak jelas dan mengembalikan duduk persoalan pada masalah agama.

Mitos dan agama cenderung didominasi oleh laki-laki. Zaman dulu, laki-laki bebas berkelana dan berhubungan dengan masyarakat sehingga mereka memegang peranan penting dalam penyebaran mitos dan agama. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya cenderung didominasi cara pandang laki-laki. Mitos ataupun penyebaran agama kadang tidak memasukkan sudut pandang perempuan, termasuk hal-hal yang berikatan dengan pendidikan kesehatan reproduksi. Contohnya adalah masturbasi, aborsi, kehamilan, dan proses reproduksi. Hal itu sesuai dengan pemikiran Simone de Beauvoir (1983, 171—173) bahwa mitos dan ajaran agama begitu dipengaruhi oleh patriarki.

Ketabuan dengan alasan budaya dan agama—yang seharusnya membawa dampak baik—kadang justru merugikan, tentu saja dalam hal ini terlebih merugikan perempuan. Dengan alasan tabu, perempuan menjadi tidak mengenal kesehatan reproduksinya karena dianggap melanggar norma-norma agama, tidak dianggap sebagai ilmu pengetahuan. Dari ketabuan itu, kita dapat menilik lebih jauh sebenarnya apa yang remaja tunarungu ingin ketahui sehubungan dengan KRR. Berikut hasil wawancara saya dan wawancara yang saya kutip dari Marsi (2007, 97—100) tentang hal-hal yang remaja tunarungu perempuan ingin tahu.

“Ingin tahu lagi tentang HIV dan AIDS tapi aku takut, karena pernah melihat gambar-gambar yang seram, orang luka-luka.”

“Tidak ada, aku sudah tahu banyak karena aku suka baca, tapi kalau ada yang aku tidak mengerti aku tanyakan ke mama atau guru saja. Tapi sekarang aku tidak ingin tahu apa-apa.”

“Kenapa orang dewasa menikah?”

“Kenapa ketekku bau kalau tidak pakai rexona”

“Kenapa aku dan teman-temanku berjerawat? Dulu waktu kecil tidak”

Informasi itu biasanya mereka peroleh dari empat sumber, yaitu guru, orangtua, teman, dan media. Sebaiknya, pendidikan KRR bagi tunarungu diberikan di sekolah melalui guru dan di rumah melalui orangtua. Keluarga dan sekolah merupakan lingkungan primer dan sekunder. Dengan demikian, informasi lebih banyak berasal dari kedua lingkungan itu dan mereka cenderung lebih percaya kepada orangtua dan guru mereka. Selain itu, seksualitas sifatnya pribadi, dibutuhkan suasana akrab untuk membahasnya. Suasana akrab memang bisa juga didapatkan dari teman sebaya, tetapi informasi dari teman sebaya pun tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Wawancara di atas menunjukkan bahwa orangtua, terlebih ibu, dan guru merupakan sumber utama yang akan ditanya remaja tunarungu akan KRR. Akan tetapi, perlu ditilik kembali seberapa jauh orangtua merasa penting akan pengetahuan KRR. Berikut hasil wawancara saya.

“Memang harus dikasih tahu sejak dini karena memang anak seperti itu kalau tahunya belakangan malah bahaya. Jadi, harus dikasih tahu.”

“Pelan-pelan, lho, yah. Maksudnya pelan-pelan itu tidak harus terlalu mendetil. Kita akan jelaskan lebih detil misalnya tentang menstruasi ya pada saat si anak mens. Dikasih tahu bahwa organ reproduksinya sudah berfungsi dan tidak bisa seperti ketika dia belum mens yang seenaknya. Misalnya, cuma pakai celana dalam lari dari kamar mandi. Jadi, anak harus sudah malu dan tidak seenaknya. Harus sadar bahwa sudah dewasa dan alat reproduksinya istilahnya sudah bisa. Jadi, harus lebih hati-hatilah. Saya takut juga pergaulannya jadi lebih bebas.”

Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa orangtua menganggap pendidikan KRR penting. Namun, tetap harus dilakukan secara bertahap, dalam artian disesuaikan dengan perkembangan anak itu sendiri. Saya pun setuju untuk memberikan KRR bagi tunarungu sedini mungkin. Informasi yang mereka peroleh mungkin dapat membantu mereka menjauhkan diri dari pelecehan seksual. Selain itu, mereka juga dapat menghindari diri dari kekerasan yang terjadi di antara mereka akibat adanya kegagalan komunikasi yang berkaitan dengan KRR.

Di sisi lain, informasi akan KRR yang dimiliki guru dan orangtua tunarungu pun kadang kurang memadai. Informasi yang dimilikinya pun didapat dari pengalaman sehari-hari dan belum tentu sesuai dengan kepentingan medis. Selain itu, orangtua dan guru mempunyai ketakutan lain untuk memberikan pendidikan KRR. Mereka takut informasi itu justru akan menginspirasikan anaknya maupun anak didiknya untuk mencobanya. Namun, menurut saya, jika mereka tahu baik dan buruk yang akan mereka hadapi, mereka pun dapat berpikir untuk melakukan hal yang bertanggung jawab. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa pelatihan KRR tunarungu bagi orangtua dan guru memegang peranan penting dan sangat diperlukan.

Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa pendidikan KRR penting adanya. Untuk memberikan pendidikan KRR yang tepat, seharusnya ada program yang dapat dijadikan sebagai panduan dan disesuaikan dengan tingkat umurnya. Sayang sekali, pemerintah belum dapat memberikan program yang sesuai. Pada akhirnya, kekurangan informasi KRR ini berakibat buruk kepada perempuan, apalagi ditambah dengan stereotip yang ada di masyarakat bahwa perempuan yang tahu banyak akan KRR adalah perempuan tidak baik-baik. Oleh karena itu, perempuan cenderung memilih untuk tidak tahu agar dinilai baik-baik. Namun, hal itu jelas tidak baik bagi kesehatannya.

Pemerintah juga belum memperkuat perlindungan hukum terhadap kesehatan bagi tunarungu dengan lebih serius. Seperti yang terlihat dalam Amandemen Kesehatan Bab V paragraf 3 yang menyebutkan tentang kesehatan lanjut usia dan penyandang cacat, termasuk tunarungu di dalamnya. Hal ini menunjukkan seolah-olah kesehatan bagi tunarungu tidak penting karena digabung dengan lanjut usia. Jika ditanggapi dengan lebih serius, seharusnya keduanya berada di pasal terpisah untuk melindungi kesehatan tentang mereka. Kesehatan mereka pun akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Jiwa yang sehat dan produktif akan mendukung sehingga berguna bagi masyarakat dan pembangunan.

Kesehatan termasuk pelayanan khusus bagi mereka yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Sebagai contoh, ada tempat khusus yang terdapat dokter yang paham akan bahasa yang mereka gunakan sehingga mereka dapat berkonsultasi dengan bebas dan mendapat informasi yang total seperti yang didapatkan masyarakat dengan pendengaran normal. Jikapun mereka harus menjalani rawat inap di rumah sakit, sebaiknya disediakan ruangan khusus bagi tunarungu dan dijaga untuk menghindari pelecehan seksual di tempat umum. Hal itu begitu penting untuk diperhatikan karena keterbatasan mereka dalam mendengar dan kadang dalam berbicara sehingga ada peran orang lain untuk mengawasi mereka di dalam rumah sakit dan menjaga dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebenarnya, hal ini telah jelas tertulis dalam Undang-undang Nomor 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat. Berikut kutipannya.

Pasal 5

Setiap penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.

Pasal 6

Setiap penyandang cacat berhak memperoleh :

1. pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan;

2. pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dankemampuannya;

3. perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya;

4. aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya;

5. rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial; dan

6. hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampu-an, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Pasal 8

Pemerintah dan/atau masyarakat berkewajiban mengupayakan terwujudnya hak-hak penyandang cacat.

Dengan demikian, jelas sudah pemerintah harus mengambil peran untuk keamanan dan kesehatan remaja tunarungu.

Kesimpulan

Pendidikan KRR bagi tunarungu belum mendapat perhatian penting. Tunarungu pun menjadi mencari tahu melalui media lain, seperti film-film yang mengandung unsur pornografi. Mereka bisa mendapat informasi yang salah dari media-media itu karena tergolong dalam komunikasi satu arah. Mereka menjadi tidak mengenal kesehatannya dan kurang memahami bagaimana menjaganya.

Oleh karena itu, mereka sebaiknya mendapat pendidikan KRR yang disediakan oleh sekolah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, program atau kurikulum akan pendidikan KRR itu memegang peranan penting dalam pelaksanaannya. Program tersebut dapat digunakan pula oleh orangtua yang dilengkapi dengan segala informasinya. Dengan demikian, baik orangtua maupun guru tidka memiliki ketakutan lain untuk memberikan informasi akan KRR kepada anak dan anak didiknya.

Tentu saja, program itu harus dirancang sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan tunarungu yang memiliki keterbatasan bahasa. Bahasa dan konsep yang digunakan harus dibuat semudah mungkin untuk dimengerti oleh mereka tanpa menghilangkan kelengkapan informasinya. Tidak lupa, perubahan konsep “perkosa” yang merujuk keapda hubungan seksual harus diubah untuk menjaga pemahaman tunarungu akan proses reproduksi. Harus diingat pula bahwa tunarungu akan lebih mudah memahami sesuatu yang terlihat atau visual. Penjelasan akan kesehatan reproduksi in mungkin akan lebih mudah dimengerti jika mereka melihat contoh, seperti film yang tetap mengandung unsur edukasi di dalamnya.

Selain program tersebut, orangtua dan guru pun sebaiknya mengikuti seminar-seminar dan banyak membaca mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Jika remaja tunarungu mengalami kebingungan yang berhubungan kesehatan reproduksinya, orangtua dan guru mampu menjadi sumber informasi pertama yang dapat menjelaskan secara komprehensif. Hal itu pun harus dibarengi dengan keterbukaan yang harus dibuka di dalam lingkungan rumah dan sekolah. Remaja tunarungu pun harus dikenali lebih dalam faktor psikologisnya sehingga mereka bisa menerima informasi itu.

Pemerintah pun tidak bisa tinggal diam dalam menghadapi masalah ini. Pemerintah dapat berpartisipasi dengan mendanai ataupun memulai seminar dan pembuatan program pendidikan KRR bagi tunarungu. Akan tetapi, yang terjadi adalah pelemparan masalah pendidikan tunarungu antara Departemen Sosial dan Departemen Pendidikan Nasional. Dalam hal ini, mungkin ada satu pihak lain yang terkait, yaitu Departemen Kesehatan. Kerjasama di antara ketiga pihak itu ataupun kepastian dari pemerintah pusat akan tanggung jawab siapa masalah ini dapat membantu kelancaran proses itu.

Untuk mempermudah segala prosesnya, keseluruhan program ini akan lebih baik jika dilindingi secara hukum yang lebih spesifik. Kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi juga menyebutkan remaja yang mempunyai kemampuan lebih atau difabel. Dengan demikian, mereka tahu posisi mereka sebagai warga negara karena ada hukum yang membicarakan mereka dan melindungi mereka.

Keseluruhan hal ini diharapkan dapat menjaga dan melindungi tunarungu, terlebih perempuan, dari tipu daya masyarakat luas akan “kekurangannya”. Mereka seharusnya bisa berjalan di negara ini di bagian mana saja dengan merasa aman tanpa diskriminasi. Mereka pun mempunyai hak atas dirinya sepertinya perempuan ataupun manusia lainnya.

Sumber Referensi

Badan Pusat Statistik (BPS). (2004). “Indonesian Young Adult Reproductive Health Survey, 2002-2003”. Diakses tanggal 26 September 2007 dari http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/sg9indonesia.pdf

Bunawan, Lani, dan Cecilia Susila Yuwati. (2000). Penguasaan Bahasa Anak Tunarungu. Jakarta: Yayasan Santi Rama.

de Beauvoir, Simone. (1983). The Second Sex. Inggris: Penguin Modern Classics.

Departemen Pendidikan Nasional. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: PT Balai Pustaka.

Harmini, Sri. (2002). “Data Penyandang Tunarungu di Indonesia”. Diakses tanggal 10 Mei 2009 dari http://www.mitranetra.or.id

KAPCI (Indonesian Committee of Different Abled People’s Advocacy). (22 April 2005). Diakses tanggal 10 Mei 2009 dari http://www.geocities.com/situs_kapci/kapci_vocabrehab.html

MacKinnon, Catherine A.. (1989). Toward a Feminist Theory of The State. Cambridge: Harvard Unicersity Press.

Maggie Kilbourne-Brook. (1998). “Kesehatan Reproduksi Remaja: Membangun Perubahan yang Bermakna”. Terj. Yanti Triswan dkk. Diakses tanggal 10 Mei 2009 dari http://www.path.org/files/Indonesian_16-3.pdf

Mangunsong, Frieda, et.al. (1998). Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Penelitian Psikologi, UI.

Marsi, Dian. (2007). “Gambaran Pengetahuan dan Sumber Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja Tunarungu Usia 12-15 Tahun (Studi Deskriptif terhadap Remaja Tunarungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu Santi Rama)”. Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.”

Muadz, M. Masri. (2007). Panduan Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Santrock, John W. (2006). Life-Span Development (10th Edition). New York: McGraw-Hill.

Scherrer, David L., dan Linda M. Klepacki. (2006). Bicara tentang Seks dengan Anak Anda. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia).

Sukarso, Eko Djatmiko. (2006). “Majalah PK&PLK”. Diakses tanggal 10 Mei 2009 dari http://www.ditplb.or.id/2006/ppt/majalah.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar