Kamis, 02 Juli 2009

Pengasuhan Anak oleh Perempuan


Dorothy Dinnerstein dan Nancy Chodorow mengemukakam pendapatnya dalam usaha menghilangkan opresi terhadap perempuan. Menurut mereka, opresi terhadap perempuan dapat dikurangi dengan menghilangkan konsep mothering dan menggantikannya dengan parenting (Tong, 2006, 203—204).
Hal ini berakar dari pemikiran Freud yang mengatakan bahwa biologis dan identitas gender merupakan kodrat. Anak merupakan bentuk dari pola pengasuhan anak oleh ibunya (Tong, 2006, 197).

Tentu saja, beberapa feminis mengkritik pemikiran Dinnerstein dan Chodorow. Menurut mereka, kedua orang itu tidak memikirkan faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Kedua orang itu juga tidak memikirkan keluarga homoseksual; pendapatnya hanya ditujukan pada keluarga heteroseksual yang orangtuanya terdiri dari laki-laki dan perempuan. Janice Raymond pun mengatakan bahwa masalah dasarnya adalah perempuan menjadi pengasuh anak dengan cara dan pola pikir laki-laki.

Saya sendiri setuju dengan pendapat Raymond. Keadaan yang ada sekarang adalah perempuan seolah-olah tidak punya pilihan lain selain mengasuh anak. Ketika ada perempuan yang memberikan hak dan atau kewajiban pengasuhnya kepada pengasuh bayaran atau keluarga, masyarakat menganggap itu merupakan tindakan yang tidak lazim, melawan kodrat, atau tidak bertanggung jawab. Perempuan seringkali menjauhkan dirinya dari impian demi menjaga nama baik dia sendiri, keluarga, dan suaminya. Dengan demikian, laki-laki seolah-olah lebih dihargai dan diakui karena mempunyai pekerjaan di luar rumah yang menghasilkan uang dan mampu “mengurus” istrinya.

Ada baiknya jika pengasuhan anak merupakan pilihan untuk perempuan dan membiarkan perempuan mengasuh dengan caranya; berdasarkan pola pikirnya. Sebagian perempuan meninggalkan anak untuk bekerja atau melanjutkan studi. Hal itu juga sekalian mendidik anaknya menjadi mandiri—tidak terlalu bergantung pada ibunya. Maka, pilihan tersebut seharusnya dihargai karena merupakan bagian dari pola pengasuhan anak.

Perempuan merasa teropresi dengan beban ganda yang diterimanya, yaitu dituntut untuk berpenghasilan dan tetap mengurus anak. Dalam hal ini, keadaan tersebut bukan merupakan pilihan perempuan. Selain itu, keadaan bawah sadar perempuan juga sudah terbentuk bahwa tidak seharusnya ia bekerja dan mengurus anak. Tugasnya hanyalah mengurus anak, sedangkan bekerja merupakan kewajiban laki-laki. Alam bawah sadar inilah yang kerap kali justru membuat perempuan merasa teropresi.

Akan tetapi, hal yang sama juga bisa terjadi. Jika pada akhirnya laki-laki mau memegang peran sebagai pengurus anak-anak tanpa meninggalkan perannya sebagai pencari nafkah, apakah perempuan siap memberikan wilayah politiknya? Menurut saya, pengurusan anak bisa menjadi wilayah politik yang sudah diberikan kepada perempuan. Dengan mengurus anak, perempuan seolah-oleh mendapat kepercayaan untuk “menguasai dan mengatur” anaknya—dengan caranya sendiri. Stereotip yang ada di masyarakat menunjukkan bahwa pengurusan anak merupakan wilayah yang dikuasai perempuan.

Jika memang sesuatu yang telah dianggap merupakan wilayah kuasa perempuan, apakah perempuan siap melepaskan atau setidaknya membagi wilayah itu dengan laki-laki? Memang, kemampuan intelektual kita sering kali menunjukkan bahwa itu akan mengurangi opresi terhadap perempuan. Namun, apakah emosional atau kesadaran semu perempuan menganggap itu sebagai kemajuan yang membela hak mereka? Atau, justru mereka merasa itu adalah bagian opresi lainnya—pengambilan wilayah politiknya?

Sumber

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar