Kamis, 02 Juli 2009

Perempuan dan Premenstruation Syndrome

Setiap perempuan pasti mengalami menstruasi yang seringkali dianggap sebagai tanda dimulainya kedewasaan perempuan. Pengalaman perempuan dalam menghadapinya pun berbeda-beda. Sebagian merasa takut dengan adanya mitos akan menstruasi, tetapi sebagian lainnya justru merasa bangga karena merasa sebagai perempuan yang utuh. Beranjak dewasa, perempuan semakin menyadari adanya premenstruation syndrome (PMS), yaitu gejala fisik dan atau psikologis yang dialami perempuan sebelum memasuki masa menstruasi.

Pengalaman PMS yang dialami setiap perempuan tentu saja berbeda. Sebagian merasakan adanya emosi yang labil—terlebih emosi negatif—disertai sakit di bagian perut dan sebagian lainnya tidak merasakan adanya gejala-gejala itu. Oleh karena itu, saya mencoba mewawancarai dua perempuan berusia sama yang mewakili perempuan yang merasakan gejala itu dan tidak merasakannya.

Perempuan pertama yang saya wawancarai adalah perempuan yang mengalami gejala-gejala fisik dan psikologis sebelum menstruasi. Ia merasa tidak dapat mengendalikan emosinya. Ia pun menceritakan pengalamannya ketika meliat suatu peristiwa atau kejadian kecil yang menyedihkan, ia dapat lebih merasakan sedih hingga menangis. Padahal, menurutnya, jika ia melihat peristiwa atau kejadian yang sama ketika ia sedang tidak mengalami PMS, ia akan melihatnya sebagai kejadian yang biasa saja. Selain emosi sedih, ia juga mengalami emosi marah yang labil. Hal-hal kecil yang menyinggung perasaannya dapat membuatnya begitu marah. Ia merasa tidak dapat mengendalikan emosi-emosi itu, walaupun ia tidak menginginkan dirinya merasa begitu sedih ataupun marah.

Perasaan bahwa ia kurang bisa mengontrol emisnya diatasi dengan memilih tidak banyak bersosialisasi atau mengurangi komunikasi dengan orang lain. Ia takut keadaannya yang seperti itu dapat merugikan orang lain. Selain menyikapi keadaan psikologisnya pada saat PMS, ia juga menyikapi keadaan fisiknya. Untuk menghindari atau mengurangi psing dan pegal yang sering ia alami pada saat PMS, ia banyak makan makanan bergizi.

Orang-orang di sekitarnya pun sudah memaklumi kondisinya pada saat PMS, terlebih suaminya. Pada masa PMS, suaminya menjadi lebih sabar dalam menghadapi emosi labilnya. Sementara di lingkungan teman, ada beberapa orang yang beranggapan bahwa emosi yang dirasakannya dianggap terlalu berlebihan. Untungnya, mereka juga akan berusaha membuat emosinya menurun.

Tentu saja, pengalaman PMS yang dialaminya dirasa merugikan dirinya sendiri. Ia merasa harus berjuang untuk mengontrol emosinya agar tidak merugikan orang lain. Bahkan, kadang, ia suka kesal kepada dirinya sendiri karena tidak dapat mengontrol emosiya sendiri. Tidak jarang, emosi yang diekspresikannya pada saat PMS justru disesali. Ia merasa kejadian kecil tidak perlu direspons dengan emosi berlebihan seperti itu. Pengalaman itu dirasa sebagai akibat dari perubahan hormon yang terjadi pada saat PMS.

Sementara itu, perempuan kedua mempunyai pengalaman yang berbeda. Ia tidak merasakan gejala-gejala yang dialami perempuan pertama. Ia hanya merasakan pinggang yang terasa pegal. Pusing yang ia rasakan pun dialami setelah ia mengkonsumsi pil KB. Sebelumnya, ia tidak pernah merasakan pusing.

Dalam hal emosi, ia sama sekali tidak mengalami emosi negatif yang labil. Justru, ia cenderung lebih banyak tertawa pada saat PSM. Dengan demikian, ia merasa diuntungkan dengan keadaannya. Ia merasa tetap dapat beraktivitas tanpa gangguan fisik maupun psikologis. Orang-orang sekitarnya pun tetap berada di dekatnya tanpa harus takut ia mengalami kekesalan atau kemarahan yang tiba-tiba.

Ia pun tahu bahwa banyak perempuan yang mengalami gejala fisik maupun psikologis yang mengganggu pada saat PMS. Ia pun memahaminya, walaupun kadang-kadang ia sering tidak percaya karena tidak pernah mengalami hal seperti itu. Ia beranggapan bahwa PMS seperti itu adalah hasil dari sugesti. Sugesti yang begitu kuat membuat tubuh merespons hal yang sama seperti yang ada dalam pikirannya. Di sisi lain, ia percaya bahwa hormon setiap perempuan berbeda-beda, tetapi emosi negatif yang berlebihan tentu saja dapat dikontrol, menurutnya.

Walaupun ia tidak merasa dirugikan, ia merasa perempuan pada umumnya berpotensi untuk dirugikan. Rasa sakit yang dialami perempuan pada masa PMS dianggap sesuatu yang wajar. Menurutnya, sakit yang berlebihan harus segera diperiksakan ke dokter, bukan dibiarkan saja karena dianggap bagian dari gejala PMS seperti yang sering kali salah diasumsikan oleh masyarakat. Sakit yang berlebihan itu berpotensi merupakan gejala gangguan kesehatan reproduksi perempuan yang acapkali justru tidak dipedulikan oleh perempuan.

Dari penjelasan dari kedua perempuan tersebut, terlihat jelas bahwa perempuan yang mengalami PMS merasa dirugikan oleh keadaan tersebut. Ia menjadi membatasi diri dan menghilangkan kesempatan yang dapat diraihnya ketika sedang PMS. Sementara itu, perempuan yang tidak mengalami PMS dengan emosi labil dapat terus bersosialisasi dengan berani dan tanpa gejala fisik yang mengganggu.

Selain itu, perbedaan lainnya terlihat jelas pada faktor yang melatarbelakangi ketidaklabilan emosi ini. Perempuan pertama sangat yakin bahwa gejala PMS yang dialaminya murni akibat perubahan hormon menjelang menstruasi. Lain halnya dengan perempuan kedua yang berulang kali mengatakan bahwa PMS dengan ketidaklabilan emosi itu hanya sugesti yang ada dalam pikiran. Dengan demikian, ia percaya bahwa PMS itu merupakan hasil dari konstruksi sosial yang dianggap kebenarannya sehingga perempuan pikir mereka harus mempunyai gejala yang sama pada saat PMS.

Saya sendiri yakin bahwa ketidaklabilan emosi pada saat PMS merupakan hasil dari perubahan hormon yang terjadi dan tidak lepas dari konstruksi sosial. Perempuan selalu mendapat pemakluman sebulan sekali untuk mengekspresikan emosinya secara berlebihan. Hal itu erat pula kaitannya dengan stereotipe emosi yang ada dalam masyarakat. Perempuan dianggap lebih wajar untuk mengekspresikannya.

Dalam hal ini, PMS menjadi salah satu alasan pembenaran dalam masyarakat yang melihat perempuan dengan emosi tidak labil. Akan tetapi, jika masyarakat tidak dimodali pemikiran yang menyebutkan bahwa gejala fisik dan psikologis yang mengganggu hampir selalu menghampiri pada masa PMS, apakah gejala-gejala yang merugikan permepuan tersebut dapat berangsur-angsur hilang? Jika gejala PMS itu memang benar semata-mata karena sugesti dan pemikiran tersebut tidak diberikan sejak kecil, perempuan tidak akan mengalami gangguan ketidakstabilan emosi yang merugikan. Namun, seperti yang kita ketahui, biologis pun memegang peranan penting dalam psikologis seseorang. Dengan demikian, antara faktor biologis dan konstruksi sosial tentu saja saling berkaitan dalamhal ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar