Kamis, 02 Juli 2009

Perempuan pada Era Gereja Awal

Pada awalnya, perempuan begitu diakui di dalam gereja. Setiap umat dipercaya mempunyai kontribusi untuk gereja. Hal ini terlihat dari perkataan Paul kepada umatnya di Galatia yang menyatakan bahwa setiap orang yang telah dibaptis adalah umat Yesus Kristus—tanpa memandang perbedaan jenis kelamin dan asal—yang telah dipersatukan dengan-Nya. Dengan demikian, semua umat—baik perempuan maupun laki-laki—mempunyai peran di gereja atas nama kecintaan terhadap sesamanya.

Konflik pertama terjadi di Corinth ketika perempuan ceramah di depan masyarakat umum. Paul yang membela hak perempuan pun tidak bisa berargumen ketika dihadapkan dengan permasalahn adat-istiadat Yahudi. Menurut mereka, laki-laki adalah pemimpin perempuan dan Yesus adalah pemimpin laki-laki. Beberapa dekade setelah itu, perempuan dilarang untuk berbicara di depan orang banyak. Kehadiran perempuan menjadi hilang perlahan-lahan.

Gnosticism merupakan salah satu kesempatan perempuan untuk mereposisi kedudukannya. Gnosticism menjanjikan pengetahuan yang bisa mengetahui misteri manusia, dunia, dan Tuhan. Mereka berusaha mengubah pesan Yesus menjadi ilmu ketuhanan. Mereka menjanjikan perubahan yang ekstrim, baik secara spiritualisasi maupun liberalisasi. Di sinilah kesempatan perempuan untuk memberikan perannya dalam gereja sebagai nabi peempuan, guru, dan pewarta Alkitab. Namun, pada beberapa kesempatan, perempuan mengalami penurunan status. Bahkan, ada hukuman bagi kaum feminis yang menolak pernikahan.

Posisi perempuan juga diperlemah oleh sejarah. Perempuan hampir tidak tercatat sebagai subjek sejarah. Pernyataan yang ada adalah perempuan menjadi saksi pertama terhadap kebangkitan Yesus. Akan tetapi, kemudian, ada penolakan terhadap tubuh perempuan yang dianggap mengurangi nilainya. Uskup dan ahli teologi pun menentang perempuan untuk ada di lingkup gereja. Rendahnya posisi perempuan diperkuat pada Perjanjian Baru yang selalu menggambarkan perempuan sebagai manusia yang patut melakukan pengorbanan.

Kemudian, Anne Jensen—seorang teologi Katolik—meneliti mengenai perempuan dan Kristen. Ia menggambarkan gereja dan kepercayaannya yang keliru. Ia mengambil empat penulis ternama, yaitu Eusebius, Socrates, Sozomen dan Theodoret yang menulis dari abad berbeda. Dari situ terlihat bahwa perempuan semakin lama semakin menunjukkan eksistensinya dalam gereja.

Anne Jensen mempunyai peran yang cukup penting dalam reposisi perempuan dalam Kristen. Hasil penelitian maupun tulisannya mampu memperlihatkan bahwa perempuan dapat menjadi pasangan yang mandiri dalam hal ekonomi sehingga mereka bisa memimpin diri mereka sendiri dalam pernikahan. Akan tetapi, kebebasan tersebut mengundang berbagai reaksi. Beberapa ada yang membangun teologi mengenai jenis kelamin untuk memenuhi persamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Bahkan, ada juga yang menganggap bahwa identifikasi tersebut tidak perlu dilakukan agar perempuan dan laki-laki dapat berdiri berdampingan sebagai saudara. Namun, beberapa lainnya merasa ketakutan jika perempuan lepas kendali dan memimpin hukum berdasarkan perbedaan jenis kelamin.

Bagaimana pun juga, peraturan lama mengenai jenis kelamin membawa permasalahan tersendiri. Penyangkalan perbedaan jenis kelamin lebih memungkinkan datang dari perempuan mengenai kepastian biologi mereka secara pasti. Perempuan bukan hanya sebagai pasangan atau seorang ibu yang menemukan pengakuan sosial dalam Kristen hanya apabila mereka religius dan seorang petapa. Dengan demikian, perempuan memutuskan untuk menentang kehidupan keluarga pada umumnya mempunyai motif yang berbeda. Jenis kelamin pun diartikan sebagai kemungkinan untuk lepas dari tugas yang menuntut secara biologi. Namun, hal itu banyak dilakukan oleh laki-laki dan membuat dirinya menjadi pemimpin dalam asosiasi.

Pada dasarnya, ada tiga faktor yang membuat perempuan berada pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Pertama, sejarah yang tidak menjadikan perempuan sebagai subjeknya, bahkan laki-laki menjadi dominan di dalamnya. Kedua, ‘perang dingin’ antar-jenis-kelamin. Hal itu memang bukan tradisi Kristen sepenuhnya, melainkan tradisi yang sudah mendunia. Terakhir, kesempatan perempuan terhadap pemerolehan pendidikan yang begitu rendah. Perempuan hanya dinilai dari tubuhnya saja.

Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa sebenarnya perempuan mempunyai posisi yang cukup kuat di gereja pada awalnya. Namun, tradisi dunia mengenai ‘perang dingin’ antara perempuan dan laki-laki juga mempengaruhi posisi perempuan di gereja. Pada perkembangannya, perempuan berusaha keras untuk memperoleh posisi yang sejajar dengan laki-laki dalam gereja.

Sayangnya, hanya segelintir perempuan yang sadar akan hal ini dan berani mengungkapkannya. Dengan demikian, pengalaman perempuan tidak tercatat dalam sejarah sehingga umat tidak mengetahui bahwa perempuan mempunyai masalah dalam hal itu. Masyarakat yang sudah hanyut dalam tradisi sering kali tidak membuka jalan pikirannya terhadap hal-hal baru jika tidak ada penerangan pada jalan tersebut. Tulisan maupun penelitian seperti yang dilakukan Anne Jensen mampu menggugah pemikiran umat yang lain. Dapat dibayangkan jika lahir Anne Jensen lainnya yang mengungkapkan masalah yang tidak terlihat itu.

Anggapan gereja ataupun umat hanya mengikuti tradisi yang sudah ada. Akan tetapi, tradisi itu terus berkembang mengikuti perkembangan zaman yang disesuaikan dengan kebutuhan umatnya. Jika mereka mencari dasar, perlakuan Yesus terhadap perempuan yang tertulis pada Alkitab dapat menjelaskan. Yesus memberikan teladan bagi umatnya untuk menghargai dan menghormati perempuan seperti sesamanya yang lain, tanpa membedakan. Jadi, jika umat menganggap perempuan mempunyai kedudukan yang sama, hal itu bukanlah sesuatu yang dosa. Bahkan, mereka mengikuti ajaran Yesus.

Selain itu, perempuan juga disarankan untuk mempunyai pendidikan yang tinggi. Dengan pendidikan yang tinggi, perempuan dapat membuka jalan pikirannya sehingga mempunyai pandangan yang lebih luas. Kemudian, perempuan akan mempunyai potensi lebih untuk mewartakan kebenaran, termasuk kesejajaran posisinya. Ketika umat sudah mempunyai kesadaran akan pentingnya kesejajaran tersebut, mereka akan menerima perempuan sebagai manusia yang sanggup menjadi subjek, bukan lagi objek yang dibatasi haknya.

Satu hal lain yang menarik dalam bacaan ini adalah pemaparan mengenai hidup melajang. Akses untuk menjadi pemimpin dalam umat Kristen diidentifikasikan dengan melajang. Bahkan, dalam Perjanjian Baru dituliskan larangan menikah bagi golongan pemimpin umat. Akan tetapi, batasannya kembali menjadi tidak jelas seperti batasan tentang identifikasi jenis kelamin. Tradisi gereja akan hal ini juga membatasi kebebasan umatnya terhadap pemberian dari Allah, terlebih pada perempuan.

Hidup melajang selalu diidentikkan dengan kehidupan gereja. Jika seseorang melajang tapi mengabdikan hidupnya untuk umat di luar gereja, ia akan tetap mendapat cemooh dari masyarakat. Pernikahan menjadi sesuatu yang sangat lazim, hampir menyentuh keharusan. Hidup melajang, terlebih pada perempuan, akan menimbulkan ketidaknyamanan tersendiri di masyarakat. Bahkan, perempuan lainnya akan menjaga perempuan itu untuk berada pada jarak tertentu dengan suami mereka karena dianggap sebagai penggoda. Sementara itu, mereka memilih untuk hidup melajang karena ingin mengabdikan hidupnya kepada umat. Mungkin mereka tidak mengabdi di gereja secara total. Akan tetapi, mereka mengabdi melalui karier atau pekerjaan yang berperan penting untuk orang banyak. Hal itu sesuai dengan pesan Yesus pada era gereja awal yang menyebutkan bahwa seseorang yang telah dibaptis menjadi bagian dari Yesus dan siap mewartakan kebenaran pada dunia dalam bentuk apa pun.

Sumber

Küng, Hans. Terj. Women in Christianity. Oleh John Bowden. London dan New York: Continuum (2001).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar