Kamis, 02 Juli 2009

Perempuan Siap dengan Feminisme Marxis Sosialis?

Feminisme marxis menganggap sumber opresi terhadap perempuan adalah pembagian kelas dalam masyarakat. Sementara itu, feminisme sosialis banyak membicarakan kapitalisme sebagai sumbernya. Namun, keduanya mempunyai satu benang merah, yaitu opresi itu berasal dari struktur politik, sosial, dan ekonomi, seperti yang dituliskan Tong (2006, 139).

Bisa diambil contoh dari kehidupan seorang perempuan yang bekerja keras sehingga menaikkan status sosial ekonomi keluarganya. Ia membanting tulang untuk memberikan kehidupan bagi keluarganya—suami dan anak serta bapak, ibu, dan adiknya—yang jauh lebih enak dari sekadar layak. Hal itu membuat penghasilan suaminya tidak lebih dari sekadar sebagian penghasilan istrinya yang digunakan untuk bersenang-senang. Segala keperluan anak dan rumah tangga ditanggung oleh istrinya.

Pada saat itu, sang suami sudah mulai merasa resah karena merasa menjadi subordinat. Stereotip yang ada—sebagai bread winner—di masyarakat seolah-olah memojokkannya untuk berpenghasilan lebih besar dari istrinya Sayangnya, sang istri juga merasakan hal yang sama. Ia masih saja merasa teropresi karena merasa harus bekerja lebih keras dari suaminya. Ia merasa suaminya sebagai individu yang harus ia tanggung kehidupannya, bukan sebagai rekan kerja rumah tangga lagi.

Hal tersebut terjadi di sekeliling saya. Ketika istri sudah berhasil menempati posisi yang setidaknya terlihat lebih tinggi dari suaminya, ia justru masih saja merasa teropresi. Opresi itu akibat stereotiop yang telah ia dapat dari lingkungannya. Ia masih merasa teropresi ketika “seharusnya” itu adalah waktunya ia untuk mengopresi. Dengan kata lain, saya dapat menyebutkan bahwa ketika perempuan menuntut perubahan untuk masuk ke jenjang publik atau mendapat kelas sosial yang lebih baik, apakah dirinya sendiri siap dengan segala perubahan itu? Jika tidak, perempuan seolah-oleh tetap mengharapkan dirinya sebagai kelas kedua setelah laki-laki. Namun, kembali lagi, sejauh pandangan saya, feminisme bukan untuk menjadikan perempuan sebagai masyarakat kelas satu dan laki-laki berada di kelas bawahnya.

Sebenarnya, Alison Jaggar telah mengungkapkan hal serupa yang disebutnya dengan alienasi. Seperti yang disebutkan Rosemarie Putnam Tong, Jaggar mengklasifikasikan alienasi dalam rubrik seksualitas, motherhood, dan intelektual (2006, 182). Tentu saja, kesadaran semu yang sudah ada pada perempuan membuat perempuan teralienasi pada ketiga rubrik itu. Dunia yang sudah diciptakan oleh laki-laki membuat perempuan tidak nyaman karena merasa tidak percaya diri dan merasa apa yang dimilikinya tidak benar-benar dimilikinya (Tong, 185).

Masyarakat akan percaya terhadap kemampuan dan kepemilikan perempuan jika perempuan itu sendiri mengungkapkan dan menunjukkannnya dengan berani dan lugas. Untuk menjadi berani dan lugas, perempuan membutuhkan kesadaran dalam dirinya sendiri. Kesadaran dan kesiapan itu dibutuhkan untuk perubahan yang diperjuangkannya.

Memang, perempuan kelas bawah mempunyai pengalaman dan opresi yang berbeda. Berpenghasilan merupakan kewajiban pula bagi mereka demi kelangsungan hidup keluarganya. Dengan demikian, perempuan kelas bawah merasa melakukan apa yang menurut mereka memang seharusnya dilakukan—mencari nafkah menjadi satu hal yang wajar bagi mereka. Mereka pun tetap menjadi subordinat dalam keluarga mereka. Mereka tetap berada di bawah daerah politik laki-laki—baik di dalam lingkungna pekerjaan maupun di dalam keluarganya sendiri.

Kapitalisme sering dianggap berjalan beriringan dengan patriarki. Akan tetapi, penghapusan kapitalisme tentu saja tidak memakan waktu yang sebentar. Bahkan, sebagian orang beranggap itu adalah sesuatu hal yang mustahil. Dalam hal ini, feminisme membutuhkan optimistis untuk mendapat keadaan seperti yang didambakan—terjadi keadilan dan kesetaraan gender. Namun, seiring berjalannya waktu, seiring perjuangan para akademik dan aktivis untuk memperjuangkan itu, perempuan tetap saja mengalami opresi.

Jika ada banjir besar, tidak perlu semua orang menunggu kapal bantuan untuk datang menjemput. Sebagian orang yang bisa berenang dapat menyelamatkan diri mereka terlebih dahulu. Begitu juga dengan kapitalisme yang diibaratkan sbeagai banjir besar. Sebagian perempuan harus memulai untuk berenang menuju tempat yang lebih aman dan nyaman. Ketika mereka berhasil berenang menuju tempat yang lebih aman, masyarakat pun pelan-pelan akan sadar bahwa perempuan mampu berinisiatif dan dapat dipercaya untuk setidaknya membantu dirinya sendiri. Untuk melakukan itu, tentu saja, kesadaran dan kesiapan diri menjadi bagian dari modal utama.

Sumber

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar