Kamis, 02 Juli 2009

Pilihan Kata Perempuan Remaja sebagai Identitas Diri dalam Relasi Romantik

a. Latar Belakang

Manusia berusaha menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Manusia mengutarakan konsep yang dipelajarinya dari kehidupan sosialnya melalui bahasa. Kehidupan sosialnya seolah-olah sudah menciptakan bahasa terlebih dahulu dan manusia hanya tinggal menyerap apa yang ada, mengikuti alur yang sudah berjalan di masyarakat. Bahasa itu seperti sudah dibakukan dan masyarakat sudah ajeg dengan bahasa tersebut. Di sisi lain, bahasa seharusnya bergerak dinamis, mengikuti perkembangan zaman untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan manusia yang tentu saja selalu berubah.

Pikiran yang sudah ajeg tersebut dapat terlihat ketika manusia menggunakan bahasa untuk memberikan identitas dirinya. Seperti yang dikatakan oleh Harimurti Kridalaksana, bahasa digunakan anggota kelompok masyarakat dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi, memberikan identitas sosial, dan bekerja sama (2002, 2). Identitas diri merupakan bentuk dari hasil konstruksi masyarakat. Berdasarkan konstruksi masyarakat yang masih menganut sistem patriarkal, masyarakat percaya bahwa laki-laki mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada perempuan. Laki-laki dianggap patut mempunyai pengetahuan yang lebih luas daripada perempuan. Dengan demikian, laki-laki selalu dianggap dan diterima oleh masyarakat. Laki-laki diperlakukan sebagai pengatur dan penguasa. Mereka pun berbahasa sesuai dengan konsep yang ada di mayarakat itu.

Di sisi lain, perempuan juga menerima konsep itu. Perempuan seolah-olah membantu proses pembentukan laki-laki sebagai pengatur dan penguasa. Kemudian, perempuan merendahkan dirinya—sadar atau tidak sadar—melalui bahasanya. Konsep tersebut menyebabkan perempuan menjadi tidak percaya akan kemampuan dirinya sendiri. Perempuan juga menempatkan dirinya sebagai kaum yang tidak bisa mengatur dan menguasai. Hal itu terlihat dari bahasa yang digunakan sebagai identitas sosial. Perempuan mengidentifikasi dirinya melalui bahasa sebagai kaum yang menjadi subordinat, berada di bawah laki-laki. Mereka melakukan hal itu agar diterima menjadi bagian dari masyarakat, walaupun mereka tahu bahwa mereka berada di bawah dominasi laki-laki.

Dari penjelesan tersebut dapat terlihat bahwa posisi tawar perempuan dalam kehidupan bermasyarakat berada di bawah laki-laki. Memang, dalam perjalanan kehidupannya, perempuan dapat meminimalkan posisi tawar perempuan yang ada di bawah laki-laki sehingga sejajar dengan mereka. Usaha ini dapat diusahakan dengan berbagai cara. Misalnya, apa yang diperjuangkan oleh kaum feminis liberal yang menjunjung tinggi kesetaraan hak politik, pendidikan, ekonomi, dna hukum. Cara tersebut juga dapat dilihat dari bahasa yang digunakan perempuan.

Perempuan cenderung meminta dan atau mengharapkan persetujuan dari lawan bicaranya ketika mengungkapkan pendapat atau perasaannya. Contoh berikut ini dicatat oleh saya ketika sedang berbincang dengan seorang teman saya.

(Kutipan 1)

A: “Emang lo ada apa ama dia? Kok dia bisa ampe kayak gitu?”

B: “Perasaan gue, sih, nggak ada apa-apa. Mmmm, kayaknya, sih, biasa aja gitu. Gue nggak ngerti, sih. Eh, iya gak, sih?”

Dalam percakapan tersebut, A seperti mempunyai pendapat yang tidak diyakini dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia berusaha meminta persetujuan temannya dengan harapan setuju dengan apa yang ada di pikirannya. Contoh lainnya didengar ketika saya melewati sebuah kelas di Universitas Indonesia, Salemba.

(Kutipan 2)

C: “Nggak tau, sih. Bukannya kalo udah telat sama sekali nggak boleh masuk, ya?”

D: “Iya, ya? Tapi, daripada nggak usaha sama sekali?”

C: “Agak males aja kalo pas masuk malah yang disinisin gitu. Mending kita tunggu di luar. Eh, tapi terserah, sih.”

Kedua contoh tersebut diambil dari perempuan berusia antara 19 tahun dan 24 tahun dalam pembicaraan sehari-hari dengan sesama teman perempuannya. Pengambilan contoh ini disesuaikan juga dengan data yang digunakan dalam penelitian ini. Usia antara 19 tahun dan 24 tahun diasumsikan merupakan usia bagi perempuan yang masih dalam pencarian identitas dirinya. Dengan demikian, perempuan dalam usia seperti itu diharapkan memperlihatkan konstruksi sosial yang terbentuk dalam pikirannya dan mampu memposisikan dirinya dalam lingkungan sosial sesuai dengan konsep yang dianggapnya benar.

Akan tetapi, konsep tersebut masih dapat berubah sesuai dengan pengetahuan yang diperolehnya. Mereka diasumsikan mampu berubah sebelum terjun dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih serius, seperti pernikahan, duduk di bangku politik, serta karier dan pekerjaan yang menuntut berhubungan dengan orang banyak melalui lisan maupun tulisan. Bukan berarti perempuan yang lebih tua tidak dapat mengubah hasil konstruksi sosial yang ada dalam pikirannya. Pengalaman serta pembelajaran yang telah dialami mereka dianggap sudah lebih matang.

Konstruksi gender yang ada dalam masyarakat juga dapat dilihat dari relasi romantik antara perempuan dan laki-laki. Relasi itu merupakan salah satu wadah antara perempuan dan laki-laki untuk mengemukakakan eksistensinya dan menyampaikan hasil dari konstruksi sosial yang diterimanya dari waktu ke waktu. Pada kenyataannya, relasi romantik itu memang tidak hanya terjadi antara perempuan dan laki-laki. Banyak etika lain yang bisa terjadi, seperti hubungan sesama jenis. Akan tetapi, hubungan heteroseksual—sebagai hubungan mayoritas—dapat dijadikan sebagai langkah awal dari penelitian sejenis; tanpa mendeskreditkan hubungan minoritas.

Memang, konstruksi sosial yang terbentuk dalam diri tiap individu dapat dilihat dalam banyak hal. Salah satunya dapat terlihat pada cara mempengaruhi dalam hubungan romantik itu sendiri. Ketika seseorang berusaha mempengaruhi lainnya, ia cenderung memperlihatkan cara untuk mengganggu eksistensi orang lain dengan sadar atau tanpa sadar. Ia akan berusaha mengontrol—sedikit ataupun banyak—orang lain untuk mengikuti jalan pikirannya atau dengan kata lain keinginannya.

Cara itu ditunjukkan melalui bahasa yang digunakan. Kalimat-kalimat diproduksi untuk mengekspresikan emosi-emosi. Kalimat-kalimat yang biasa digunakan dalam relasi romantik itu bisa memperlihatkan kecenderungan pemikiran individu tersebut. Kemudian, dapat terlihat kecenderungan cara yang terlihat oleh perempuan maupun laki-laki.

Sebuah penelitian dilakukan di Swedia memaparkan bahwa kekerasan—sebagai penanda dominasi—cenderung dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan dekat, seperti keluarga, teman, atau pacar (Margareta Hydén, 1994, 3). Berdasarkan hal ini, saya tertarik mengetahui lebih lanjut mengenai dominasi yang terjadi pada hubungan romantik antara perempuan dan laki-laki. Akan tetapi, jika penelitian tersebut cenderung membicarakan kekerasan dengan bahasa nonverbal (kekerasan fisik), dalam hal ini saya lebih memperhatikan bahasa verbal, khususnya pilihan kata. Pilihan kata merupakan komponen kecil, tetapi mempunyai simbol semantik yang begitu berpengaruh.

Pilihan kata dalam bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi begitu penting dalam salah satu bentuk pergerakan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender dalam masyarakat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahasa merupakan aspek sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan konsep yang diterima dan dibentuk masyarakat. Dengan bahasa yang digunakan, masyarakat dilatih secara terus-menerus untuk memproduksi konsep yang dianggap sudah ajeg tersebut.

Jika bahasa disadari sebagai sesuatu elemen yang penting dalam pembentukan konstruksi sosial, perempuan akan dipermudah dalam pergerakannya. Perempuan akan mampu mengidentitaskan dirinya sejajar dengan posisi laki-laki dan menyampaikan konsep itu kepada masyarakat. Jika bahasa dianggap sebagai sesuatu yang tidak memegang peranan penting, konsep stereotipe yang ada di masyarakat akan terus berlangsung.

Segala bentuk perjuangan perempuan untuk memperoleh haknya disampaikan melalui bahasa, entah itu melalui ekonomi, hukum, politik, budaya, maupun seksualitas. Jika bahasa yang digunakan dalam penyampaiannya tidak dapat meyakinkan keberadaan perempuan sejajar dengan laki-laki, konsep patriarki yang ada di masyarakat pun justru semakin kuat. Bahasa yang digunakan perempuan tanpa sadar bisa jadi justru melemahkan posisinya dan menguatkan peran patriarki. Akan tetapi, jika bahasa yang digunakan justru mencerminkan kemampuan perempuan untuk berada, masyarakat akan percaya dan memposisikannya sejajar dengan laki-laki.

b. Masalah

Manusia seringkali tidak menyadari bagaimana bahasa dan konsep yang ada di masyarakat mempunyai hubungan yang saling bergantung. Keduanya dapat saling mempengaruhi. Dengan demikian, bahasa yang digunakan perempuan dapat memberikan identitas perempuan sebagai dirinya sendiri atau juga bisa menjadikan senjata yang akan membuat perempuan menjadi teropresi.

Hal tersebut dapat terlihat dalam hubungan romantik. Berdasarkan wawancara yang saya lakukan, perempuan merasa kesulitan untuk meyakinkan pasangannya bahwa ia tidak bersalah. Namun, dalam perasaan ketidakbersalahannya, perempuan tidak dapat berargumen. Laki-laki cenderung menganggap perempuan tidak dapat mempertahankan apa yang ia pikir benar. Laki-laki selalu mempunyai kekuatan—melalui bahasa—untuk menyalahkan perempuan. Dengan demikian, laki-laki selalu memegang kuasa dalam hubungan romantik yang dijalaninya. Dalam wawancara tersebut, ia mengatakan:

(Kutipan 3)

“Gue nggak tau gitu salah gue, gue nggak tahu kenapa salah gitu. Tapi, menurut dia, gue salah banget, trus kalo gue membela diri gitu, salah gitu buat dia. Jadi, kalo menurut dia gue salah, gue nggak usah membela diri. Gue harus minta maaf. Trus, dia nanti ngomong, “Tuh kan, udah ngomong kayak gini boro-boro kamu minta maaf ama aku.””

Akan tetapi, perempuan tersebut justru menyalahkan dirinya yang tidak bisa meyakinkan pasangannya. Lalu, ia merasa takut untuk ditinggalkan oleh pasangannya. Menurut saya, ketakutannya itu hadir karena ia merasa terkikis eksistensinya. Kemudian, muncullah pertanyaan dalam benak saya, bagaimana perempuan dapat menjadi dirinya sendiri dengan menggunakan bahasanya dalam hubungan romantik bersama laki-laki.

c. Kerangka Pemikiran dengan Tinjauan Teori

Bahasa merupakan masalah yang sudah dibicarakan oleh kaum feminis. Bahasa dianggap berasal dari laki-laki, dibuat oleh laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh James Britton, objek dan kejadian dalam dunia ini tidak hadir begitu saja dan sudah terklasifikasi. Klasifikasi yang terbagi adalah klasifikasi yang kita buat sendiri (Spender, 1998, 93). Dale Spender sendiri mempertanyakan kita—dalam pernyataan Britton—merujuk kepada siapa. Menurutnya, tanpa dikatakan langsung, Britton jelas merujuk kepada laki-laki. Laki-laki mengklasifikasikan bahasa dan menjadikan mereka sebagai pencipta bahasa. Kemudian, bahasa tersebut disebarkan dan digunakan oleh manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Dari pemikiran tersebut, perempuan dianggap tidak mempunyai bahasa. Bahasa yang digunakannya tidak dapat mewakili feminitasnya karena laki-laki sebagai penciptanya tidak mengenal itu. Pernyataan bahwa perempuan bisu atau dibisukan tidak dapat dikatakan bahwa mereka selalu bisu di mana-mana. Bukan pula karena mereka mempunyai kemampuan yang kurang terhadap bahasa, seperti yang dikatakan Deborah Cameron (1998, 3). Namun, perempuan menjadi marjinal dalam bahasa yang digunakan sehari-hari.

Luce Irigaray, seorang feminis yang digolongkan dalam feminis posmodernisme, mengemukakan pendapatnya mengenai bahasa. Deborah Cameron menjelaskan bahwa Irigaray banyak menentang pemikiran Lacan yang menempatkan perempuan dan feminin merupakan kebalikan dari laki-laki dan maskulin (1994, 170). Dengan demikian, Irigaray menentang konsep biner. Lacan juga mengatakan bahwa ketidaksadaran terstuktur seperti bahasa. Pertanyaan dari Irigaray adalah bahasa siapa.

Kembali kepada masalah seksualitas, laki-laki dianggap hanya mempunyai satu organ seksual, yaitu penis, sedangkan perempuan mempunyai organ seksual yang lebih dari satu. Perempuan mempunyai labia yang terdiri dari dua bibir. Hal itu dikaitkan dengan bahasa perempuan dan laki-laki. Bahasa yang digunakan laki-laki cenderung mempunyai satu makna, seperti organ seksualnya. Sementara itu, bahasa yang digunakan perempuan cenderung mempunyai makna lebih dari satu; satu seperti yang dikatakannya secara literal (eksplisit), yang lainnya merupakan makna implisit (Cameron, 1994, 171—172).

Selain itu, hasil kerja eksperimental Irigaray juga menunjukkan bahwa laki-laki cenderung menjadikan dirinya sebagai subjek pada setiap wacana yang diucapkan atau ditulis. Hal itu terlihat dari penggunaan ‘saya’ pada awal wacana. Sementara itu, perempuan cenderung tidak menjadikan dirinya subjek. Perempuan lebih banyak menggunakan subjek yang sudah digeneralisasi, seperti ‘laki-laki’ atau ‘orang’.

Oleh karena itu, Irigaray memberikan saran bagi perempuan dalam berbahasa, seperti yang dikatakan Rosemarie Putnam Tong (2006, 297—299). Irigaray menganggap perempuan sanggup menciptakan bahasanya sendiri, tanpa menyangkutpautkan bahasa yang netral gender dan bahasa laki-laki. Ia menekankan bahwa perempuan harus menunjukkan identitasnya dan bangga di dalamnya, bukan menjadi pengecut dengan menutupi identitasnya melalui bahasa yang digunakannya. Dalam praktiknya, Irigaray menyarankan perempuan untuk berani mengungkapkan pendapatnya dengan menggunakan kalimat aktif, tidak lagi menyembunyikan pembicara atau penulis. Salah satu contohnya dikatakan dalam penulisan ilmiah. Ilmu pengetahuan yang begitu kental dengan budaya patriarkal menghilangkan subjektivitas. Di sinilah celah perempuan untuk berani tampil dengan identitasnya, memunculkan subjektivitasnya dengan menghindari kalimat-kalimat pasif.

Dalam Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda, Irigaray menyatakan bahwa wacana perempuan tidak menjadikan lawan bicaranya—laki-laki—sebagai objek. Perempuan tetap menjalin hubungan dengan dunia nyata dengan menjadikan laki-laki sebagai subjek. Meskipun demikian, Irigaray juga berharap bahwa perempuan tetap dapat menjadi subjek dalam wacana yang diajukannya itu (2005, 41—44).

Selain itu, Irigaray juga memberikan jalan keluar untuk perempuan dengan menirukan harapan yang diemban laki-laki terhadap perempuan dengan cara yang melebih-lebihkan. Irigaray memberikan ilustrasi perempuan yang datang ke gereja tanpa pakaian atas dan payudara yang dibesarkan. Hal itu meniru harapan laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objek seks dilebih-lebihkan. Akan tetapi, solusi ini dapat menjebak perempuan kembali kepada definisi tersebut.

d. Analisis

Kita dapat melihat keterkaitan pemikiran Luce Irigaray dengan data berikut. Data berikut saya ambil dari hasil wawancara yang saya lakukan dengan seorang perempuan yang berusia 23 tahun. Ia menceritakan kisah cintanya dengan pasangannya yang sudah berjalan selama empat tahun. Ia bercerita bahwa ia begitu sakit hati dengan pasangannya karena tingkah laku dan bahasa lisan yang digunakan pasangannya. Namun, dari wawancara tersebut, saya lebih memperhatikan bahasa yang digunakan perempuan itu. Bahkan, pilihan kata yang digunakan dapat mencerminkan bagaimana perempuan dapat merasa teropresi.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Irigaray mengatakan bahwa perempuan cenderung tidak menjadikan dirinya sebagai subjek dalam wacana yang diucapkan atau dituliskan. Hal itu terlihat dari hasil wawancara saya sebagai berikut.

(Kutipan 4)

Narasumber : Pacarannya udah…… [diam sebentar] Itu digabung nggak, ya, kalo misalnya kayak HTS-an gitu?

Pewawancara : Iya, hehe.

Narasumber : Kalo digabung ama sekarang, empat tahun lebih dua bulan, ya?

Narasumber memilih menggunakan pacarannya untuk menggeneralisasi subjek pembicaraan. Ia menghilangkan subjektivikasi dirinya dalam pernyataannya sendiri. Narasumber sebenarnya mempunyai pilihan lain untuk mengungkapkan hal yang sama, misalnya, “Saya sudah pacaran….” Dengan memilih menggunakan pacarannya, ia juga menjadikan pasangannya sebagai subjek. Ia menghargai pasangannya sebagai subjek dalam hubungannya itu. Dia merasa bukan hanya dia yang menjalankan pacaran, tetapi juga pasangannya. Jadi, ia memilih menggunakan hubungannya itu sendiri (pacaran) sebagai subjek dalam kalimat tersebut.

Selain itu, dalam kutipan wawancara tersebut, narasumber juga menunjukkan bahwa ia tidak percaya diri dengan pernyataannya. Penggunaan ya pada akhir kalimat yang merupakan penanda pertanyaan menunjukkan bahwa narasumber membutuhkan persetujuan atas pernyataannya. Ketidakpercayaan diri perempuan terhadap pernyataannya juga terlihat dari penggunaan kayak atau kayaknya yang tergabung dalam kelas kata adverbia. Hal itu terlihat dari contoh berikut.

(Kutipan 5)

Narasumber : Seminggu kayaknya. Soalnya, abisnya gue tuh orangnya yang kan kalo seneng, seneng banget. Jadinya, mmm… trus, udah gitu, gue orangnya nggak yang kayak kalo lagi dideketin gitu, jual mahal, nggak. Jual mahal, tapi bisa, sih, gue tahan-tahan gitu, cuma…

Pewawancara : [respons] Hehe

Narasumber : …gue seneng banget mancing mmm… Apa? mmm... Mancing gitu lho, jadi kayaknya bersambut-sambut gitu. Jadi, kayaknya pas gitu. Jadi, dia juga orangnya kayaknya semuanya serba kebuka gitu. Jadi, cepet banget gitu.

Penggunaan kayak (adverbia) dalam cuplikan wawancara tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan menggunakan strategi yang saya sebut dengan penghalusan bahasa. Dia memilih mengatakan “… gue orangnya nggak yang kayak kalo lagi dideketin gitu, jual mahal, nggak” daripada “Gue kalo lagi di deketin nggak jual mahal”. Asumsi saya, ia menggunakan itu untuk memperhalus pernyataan yang ia utarakan. Jika ia menggunakan struktur kalimat yang kedua, itu akan mengesankan ia mengakui pernyataannya dengan tegas.

Persetujuan atas pernyataannya juga ditunjukkan perempuan dengan menggunakan kata-kata fatis untuk memberikan penekanan, seperti, kan, dong, dan gitu. Hal itu menunjukkan betapa perempuan begitu ingin dipercaya. Perempuan bercerita untuk mencari penegasan dari lawan bicaranya. Ia menggunakan strategi berbahasa tersendiri untuk menyelamatkan mukanya, dalam artian, ia ingin mendapat penerimaan dari lawan bicaranya.

(Kutipan 6)

Narasumber : “Dia bilang gitu, kan. Gue kan digituin gue takut. Soalnya, gue sempet, kan, waktu itu dia ninggalin gue, trus gue kayak yang ketakutan, yang kayak gitu-gitu. Gue takut gitu, maksudnya, mmm… gue nggak siap gitu. Gue ladenin, ya udahlah, mmm… gue berkorban, tapi mmm… nanti masalahnya selese gitu, kan.”

Memang, dalam contoh tersebut, narasumber menunjukkan bahwa ia berani menjadikan dirinya sebagai subjek seperti yang disarankan Irigaray dengan penggunaan gue—menyebutkan dirinya—pada awal pernyataan. Saran irigaray lainnya, yaitu struktur kalimat aktif, pun digunakan oleh narasumber. Selain itu, narasumber juga memposisikan pasangannya—laki-laki—sebagai subjek dalam pernyatannya, contohnya, “…waktu itu dia ninggalin gue, trus gue kayak yang ketakutan, yang kayak gitu-gitu.”

Dalam kutipan 6, narasumber bisa saja mengatakan hal yang sama secara lebih tegas. Misalnya sebagai berikut. “Dia bilang gitu. Gue takut kalo digituin. Soalnya, waktu itu sempe dia ninggalin gue, trus gue ketakutan, gue nggak siap gitu. Gue ladenin, gue berkorban, tapi nanti masalahnya selese.” Dengan mengutarakan pendapatnya seperti itu, persepsi yang diterima pendengar adalah ia tegas dan yakin dengan apa yang ia bicarakan. Ia berani mengakui apa yang ia rasakan dan justru—menurut saya—akan lebih dihargai (respected).

Bahasa yang digunakan perempuan juga dianggap bertele-tele. Mereka seringkali mengulang topik dalam ceritanya. Hal itu mengesankan bahwa mereka tidak tegas sehingga susah untuk dipercaya. Dalam artian, perempuan dianggap tidak yakin dengan apa yang dibicarakan. Perempuan seolah-olah tetap membutuhkan suatu bentuk keyakinan dari orang lain—yang diasumsikan didapat dari laki-laki. Hal itu dapat terlihat dari contoh berikut.

(Kutipan 7)

Narasumber: “Trus, akhirnya gue depresi banget, ya. Trus udah gitu mmm… udah, ampe akhirnya gue memutuskan mmm… Setelah cowok gue itu ulang tahun gue yang udahlah, udah gitu. Ya udah, gue ngejalaninnya hari biasa-biasa aja, kan. Kebetulan juga, gue juga nggak nyambung gitu sama gua. Jadi, gue yang ah bodo amat deh ama dia. Dia juga nggak yang menghubungi gue sama sekali, kan. Trus udah, akhirnya, mmm… setelah itu mmm…”

Sebenarnya, ketika narasumber mengulang-ulang topik dalam pernyataannya, ia mencoba meyakinkan lawan bicaranya agar percaya dengan apa yang dikatakannya. Akan tetapi, pengulangan topik itu sering kali membuat lawan bicaranya menganggap ia berbicara dengan tidak tegas.

Sebagai contoh, narasumber sebenarnya dapat mengatakan hal yang sama dengan cara yang terkesan lebih tegas. “Trus, akhirnya gue depresi banget. Akhirnya, setelah cowok gue itu ulang tahun, gue memutuskan untuk udah. Gue ngejalaninnya hari biasa-biasa aja. Kebetulan, gue juga nggak nyambung sama dia. Dia juga nggak yang menghubungi gue sama sekali.” Dengan berbicara seperti itu, pendengar akan lebih percaya akan apa yang dikatakan narasumber. Pendengar akan menganggap narasumber benar-benar “menyudahi” perasaannya terhadap mantan pacarnya itu sejak awal pernyataannya.

Selain itu, penggunaan kata tanya “ngerti nggak?” yang seringkali diucapkan narasumber juga menandakan bahwa ia membutuhkan keyakinan.

(Kutipan 8)

(a) Abis itu, kan, selesai, abis itu dia baik lagi gitu. Ngerti nggak?

(b) Lucu-lucu aja gitu lho, ngerti nggak? Kayak apa, ya?

(c) Tapi, abis itu kan, dia bisa ini lagi gitu, ngerti nggak?

Kesan bahwa bahasa yang perempuan gunakan tidak lugas dan tegas berkaitan dengan pandangan bahwa bahasa berasal dari laki-laki. Laki-laki merasa menjadi penguasa bahasa. Dasar budaya patriarki juga membantu proses ketidakpercayaan diri pada perempuan. Perempuan dididik untuk menjadi jenis kelamin kedua. Oleh karena itu, mereka berada di bawah laki-laki. Hampir semua hal diatur oleh laki-laki. Jika perempuan ingin melakukan sesuatu atau bahkan hanya mengutarakannya, perempuan sering kali terjebak dengan persetujuan dari laki-laki.

Irigaray juga menyebutkan bahwa perempuan menyimpan makna yang banyak dari apa yang ia ucapkan atau tuliskan. Makna yang terkandung bisa sesuai dengan makna tekstual (eksplisit), tetapi bisa juga menyimpan makna yang implisit. Berikut kutipan yang dijadikan contoh.

(Kutipan 9)

Narasumber: “Sementara, gue kan, gue kan bukan pacarnya, jadi gue kan nggak perlu mmm… nggak perlu apa? Nggak berkewajiban untuk nemenin dia. Gue bisa seenak-enak gue juga, dong. Kalo enak, ya gue jalanin. Kalo gue nggak suka, ya udah gitu. Kalo gue nggak mau nemenin dia, dia nggak harus… nggak harus maksa gue. Cuman, gue kan orangnya nggak bisa ditekan gitu, ya. Ya udah, lah, daripada masalahnya makin panjang, gue juga takut banget tiba-tiba gue nggak siap dia ninggalin gue lagi gitu, gue ladenin gitu, lho.”

Selain makna tekstual, narasumber juga ingin menyampaikan kepada lawan pembicaranya bahwa ia melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Ia berkorban bukan karena ia memang ingin melakukannya, tetapi karena terlalu takut untuk ditinggalkan oleh pasangannya. Namun, ia berusaha meyakinkan lawan bicaranya bahwa ia melakukan itu bukan semata-mata karena ketakutannya, tetapi sifat tidak bisa tertekan memang sudah melekat dengannya.

Di sisi lain, laki-laki menggunakan bahasa yang lebih lugas dan tegas. Topik yang mereka ajukan dalam pernyataannya tidak banyak. Dengan demikian, apa yang mereka bicarakan cenderung lebih dipercaya. Mereka dianggap lebih yakin dan tidak lagi membutuhkan keyakinan, hanya membutuhkan persetujuan. Contoh berikut saya ambil dari tuturan pasangan perempuan yang diceritakan kembali oleh perempuan itu.

(Kutipan 9)

“Tuh kan, udah ngomong kayak gini boro-boro kamu minta maaf ama aku.”

Laki-laki tersebut justru menggunakan “tuh kan untuk menegaskan omongannya bahwa ia benar. Apa yang diungkapkan atau diasumsikan laki-laki itu benar pada akhirnya hingga diperjelas dengan pengucapan “tuh kan.

Contoh-contoh tersebut sejalan dengan teori Irigaray yang mengatakan bahwa perempuan dapat berbahasa dengan mendekatkan diri kepada realita. Perempuan begitu memperhatikan perasaan lawan bicaranya sehingga menganggap lawan bicaranya sebagai subjek yang lain, selain dirinya sendiri. Akan tetapi, di sisi lain, perempuan tidak dapat mengelak dari bahasa maskulin yang begitu kuat.

Hasil wawancara tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan sudah berani menggunakan kalimat aktif. Namun, pilihan kata dalam kalimat aktif itulah yang membuat pernyataan dari perempuan tersebut terasa kurang kuat, seperti penggunaan adverbia atau fatis yang berlebihan.

e. Kesimpulan

Perempuan sebaiknya tidak saja hanya berani memunculkan subjektivitasnya dalam penggunaan kalimat aktif, tetapi juga menggunakan pilihan kata yang menegaskan pernyataannya. Namun, jika ditilik lebih jauh lagi, ketika perempuan mencari pilihan kata yang terdengar atau terbaca lebih tegas, perempuan sama saja seperti kembali ke bahasa maskulin. Kembali pada tatanan simbolik yang sudah ada di masyarakat, bahasa maskulin dianggap bahasa yang meyakinkan. Perempuan sebaiknya mencari atau memanfaatkan kekuatan bahasanya tersebut untuk mengganggu tatanan simbolik bahasa maskulin. Bahasa perempuan bisa saja menjadi lebih kuat jika perempuan menonjolkan kepercayaan dirinya dengan caranya sendiri.

Ada asumsi bahwa jika perempuan ingin dipercaya dan dapat meyakini orang lain, mereka perlu mempelajari bagaimana laki-laki berbahasa. Jika perempuan menggunakan bahasa laki-laki, mereka akan mendapatkan hasil seperti yang didapatkan laki-laki. Akan tetapi, jika perempuan menggunakan bahasa laki-laki, perempuan akan tetap terjebak dalam dunia laki-laki, dunia patriarkal. Dengan demikian, perempuan akan tetap terbelenggu dalam dunia patriarkal yang akan mengekangnya dan menjadikan dirinya sebagai bagian yang teropresi. Perempuan seperti harus menjadi laki-laki dengan menggunakan bahasanya untuk diakui.

Dalam hal ini, saya setuju dengan sebagian pendapat Irigaray. Setidaknya, perempuan harus mulai berani untuk menjadikan dirinya sebagai subjek dalam wacana yang diutarakan dengan membuat kalimat aktif maupun penggunaan kata pengganti orang pertama tunggal. Irigaray juga menolak konsep biner dan androgini. Perempuan dianggap mempunyai kemampuan untuk menciptakan bahasanya sendiri. Menurut saya, perempuan mempunyai kekuatan berbahasa dalam bidang semantik. Perempuan mampu mengungkapkan keinginannya secara tidak langsung. Sering kali, hal tersebut justru membuat lawan bicara mengikuti keinginannya tanpa sadar karena tidak langsung diucapkan.

Perempuan dapat menjadi subjek dengan cara yang sederhana, yaitu sadar akan bahasa yang digunakannya. Perempuan sebaiknya sadar akan struktur atau pilihan kata yang dapat menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, tanpa harus mengubah bahasanya menjadi maskulin atau netral gender. Bahasa perempuan tersebut dapat menjadi kekuatan besar bagi perempuan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahasa merupakan hasil dari cara berpikir masyarakat, identitas diri. Ketika perempuan berani menampilkan identitasnya, masyarakat akan terbiasa dengan hal itu dan sedikit demi sedikit dapat mengubah cara pandang mereka terhadap perempuan.

Di sisi lain, gerakan feminisme melalui bahasa seringkali dianggap sebagai gerakan yang tidak nyata. Sementara feminis lain turun ke jalan atau mengupayakan keseteraan melalui politik dan ekonomi, feminis posmodern dianggap hanya ‘bermain’ di wilayah intelektual saja. Mereka dianggap hanya melakukan berpikir tanpa ada reaksi nyata. Akan tetapi, feminis posmodern tetap memperkaya cara perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan yang tetap sama dengan tujuan feminis lainnya. Feminis posmodern percaya bahwa perempuan tidak homogen. Kebutuhan setiap perempuan berbeda dan mereka sangat menghargai pluralitas.

Kerangka Pikir

Budaya patriarki à perempuan menjadi subordinat à dapat dilihat dari bahasa yang digunakan à dikaji dengan teori posmodern à pendapat Luce Irigaray à digunakan untuk mengutarakan pikiran manusia à dapat mengubah konstruksi sosial à memperjuangkan kesejajaran dan keadilan gender

Sumber

Cameron, Deborah. Feminism & Linguistic Theory. London: Macmillan (1994).

Cameron, Deborah. The Feminist Critique of Language. London dan New York: Routledge (1998).

Irigaray, Luce. Terj. Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda. Oleh Rahayu S. Hidayat. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia Forum Jakarta-Paris (2005).

Margareta Hydén. Woman Battering as Marital Act. Oxford: Scandinavian University Press (1994).

Kridalaksana, Harimukti. 2002. “Pendahuluan”. Dasar-dasar Linguistik Umum. Ed. Djoko Kentjono. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia (2002): 1—20.

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra (2006).

Spender, Dale. “Extracts from Man Made Language”. The Feminist Critique of Language. Ed. Deborah Cameron. London dan New York: Routledge (1998).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar