Kamis, 02 Juli 2009

Rasa Keberhakan Perempuan atas Penghasilannya

Stereotip bahwa penghasilan perempuan hanya menjadi tambahan dalam kebutuhan rumah tangga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi rasa keberhakan perempuan atas penghasilannya. Perempuan merasa wilayah pekerjaan bukan wilayah politiknya untuk berkompetisi. Dengan demikian, ia merasa cukup dan bangga hanya dengan berada di wilayah itu. Pekerjaan yang disandangnya sudah dianggap sebagai suatu kesetaraan, tanpa perlu memperhatikan kesetaraan upah.

Selain itu, dengan fungsi reproduksinya, perempuan mendapatkan kelebihan dengan cuti haid dan cuti hamil. Hal ini pun dijadikan alasan, baik oleh perusahaan maupun perempuan sendiri, untuk mendapat penghasilan yang lebih rendah. Keadaan reproduksi perempuan dianggap sebagai batas kapasitasnya yang memepngaruhi keberhakan atas penghasilan yang diterimanya.

Dari penjelasan tersebut, dapat dikatakan perempuan tidak mengetahui haknya. Cara awal untuk memperjuangkan kesetaraan penghasilan dapat dimulai dari perempuan sendiri. Kesadaran perempuan akan haknya dapat menstimulasi mereka untuk berani memperjuangkan kesetaraannya. Menurut saya, pembicaraan antara satu perempuan dengan perempuan lainnya dalam situasi informal dapat lebih memacu kesadaran perempuan, walaupun akan memakan waktu lebih banyak.

Kesadaran tersebut dapat membuat perempuan dapat menghargai dirinya sendiri sehingga merasa tidak segan untuk bersaing dengan laki-laki di dunia pekerjaan. Untuk memulai perjuangan ini, perempuan memang harus membuktikan pada masyarakat umum bahwa perempuan dapat menjadi seseorang yang kompeten dan memang membutuhkan kerja lebih keras daripada laki-laki. Publikasi perempuan yang hebat dapat menimbulkan kesadaran laki-laki akan adanya “jenis kelamin baru” yang berpotensi besar untuk menjadi pesaingnya.

Setelahnya, ada masalah lain yang akan timbul. Ketika ia mengetahui haknya, ia akan berani memperjuangkannya sehingga ia akan dianggap agresif. Kemudian, ia akan dianggap bukan perempuan “ideal” di mata masyarakat karena perempuan dianggap sebagai gender yang pasif. Dengan demikian, ia tidak dapat mengidentifikasikan dirinya dengan lingkungannya dan kemudian merasa terasing. Eksistensinya akan terusik karena merasa ditolak di masyarakat pada umumnya. Tentu saja, hukum akan kesetaraan penghasilan perempuan dan laki-laki dapat membantu proses ini. Namun, menurut saya, hukum ini tetap harus diseimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk menjaga pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari mengingat masih kentalnya struktur sosial yang bias gender.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar