Kamis, 02 Juli 2009

Relasi Romantis Heteroseksual

Eksistensialisme lahir atas kritik dari metafisika. Apa yang terjadi pada manusia ditentukan oleh kesadarannya sendiri; bukan sudah tertera pada alam dan manusia menjalankannya. Menurut Rosemarie Putham Tong, Sartre—salah satu tokoh eksistensialis—mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk mempunyai kebebasan. Mereka dapat memilih secara bebas akan tipe keberadaannya, yaitu ada-untuk-dirinya dan ada-dalam-dirinya (2006, 254—262).

Kemudian, Simone de Beauvoir melanjutkan pemikiran Sartre. Menurutnya, cara berada seseorang dipengaruhi pula oleh gendernya. Eksistensi perempuan seolah-olah diganggu oleh patriarki yang menempatkannya sebagai jenis kelamin kedua setelah laki-laki. Perempuan begitu terbatas untuk memenuhi kesadarannya sebagai manusia yang bebas (Tong, 2006, 262—266).

Begitu banyak perempuan merasa menjadi bagian dari laki-laki dan meyakini memang sudah begitu seharusnya. Mereka merasa lemah sehingga kehilangan eksistensinya jika tidak diakui oleh laki-laki. Setuju tanpa sadar untuk menjadi objek dalam keberadaannya.

Tariklah sebuah kisah cinta antara perempuan dan laki-laki. Di Indonesia, perempuan cenderung diharuskan untuk menjadi pasif. Mereka seolah-olah harus memendam cinta yang dirasanya untuk laki-laki dan tabu untuk menyatakan atau sekadar menunjukkannya kepada laki-laki. Semua orang bilang, hal itu akan menurunkan harga diri dan gengsi seorang perempuan.

Pada umumnya, perempuan dianggap sebagai jenis kelamin yang harus menyiapkan dirinya sebaik mungkin untuk dipilih laki-laki. Ia harus menunggu dengan anggun. Ia harus memenangkan segala kompetisi agar terlihat oleh laki-laki dan diakui keberadaannya. Jika ia sudah bereksistensi, kamungkinan untuk dipilih akan semakin tinggi.

Cara berkompetisi perempuan bermacam-macam, seperti tampil secantik mungkin dengan kriteria yang merendahkan perempuan, seperti kulih putih dan mulus; rambut panjang dan hitam. Bahkan, ada perempuan berkompetisi dengan menurut atau mengikuti segala keinginan laki-laki—yang katanya atas nama cinta. Dengan demikian, ia menyisihkan sebagian eksistensinya dengan sadar untuk mendapatkan cinta—yang menurut beberapa ornag hanya ilusi.

Di mata perempuan, cinta bagaikan harta yang harus didapat dengan berada sesuai keinginan pemilih. Perempuan menjadi objek yang tidak boleh memulai dan menyatakan segala perasaannya. Segala cara berada yang dipelajarinya sedari kecil harus dihilangkan ketika perempuan mulai mengenal cinta. Ketika ia menjadi seseorang yang diakui di dunia publik, ia harus menghilangkan segala eksistensinya itu jika kembali ke dunia domestik. Ia sudah dibentuk untuk menjadi perempuan yang menjadi pelayan laki-laki.

Apa yang terjadi ketika cinta itu hilang dalam hubungan laki-laki atau perempuan? Perempuan cenderung menyalahkan dirinya. Ia akan bertanya-tanya mengenai apa yang salah pada dirinya, apa yang membuat cinta laki-laki terhadapnya hilang begitu saja. Eksistensinya yang sudah berkurang pada awal jatuh cinta semakin berkurang ketika cinta laki-lakinya hilang. Ia merasa tidak bernilai; merasa tidak mempunyai eksistensi yang tersisa. Seolah-oleh, satu-satunya hal yang membuat ia merasa bereksistensi hilang. Kemudian, ia pun harus duduk manis untuk menunggu laki-laki lain yang tidak enggan untuk memilihnya.

Masalah yang timbul sehingga menghilangkan cinta itu juga berkaitan denagn eksistensi. Ketika seseorang merasa mengontrol perasaan dia terhadap orang lainnya, ia merasa bereksistensi penuh dengan menjadikan lainnya sebagai objek. Namun, ketika ada pemberontakan dalam bentuk sekecil apa pun, jelas ia tidak dapat mengontrol apa yang ia rasa dudah dikontrolnya. Eksistensinya menjadi tidak penuh. Ia ingin memenuhi eksistensi itu kembali dengan melepaskan cinta yang ia rasa menjadi sumber peluluhan eksistensi. Cinta menjadi kambing hitam yang mendamaikan dirinya dan liyan.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang mungkin terjadi ketika perempuan sadar akan hal itu? Perempuan bisa saja sadar akan eksistensi yang dibentuk oleh masyarakat sejak awal. Kemudian, ia membebaskan dirinya untuk bereksistensi, termasuk dalam menyatakan dan menunjukkan rasanya kepada laki-laki. Akan tetapi, masyarakat cenderung belum mempunyai kesadaran itu atau jika sudah punya, mereka cenderung belum siap. Mereka bisa menyingkirkan perempuan hingga tidak mengakui keberadaan perempuan. Perempuan pun akan menanyakan makna eksistensi jika tidak ada pengakuan dari pihak selain dirinya.

Selain itu, hal lain yang mungkin muncul adalah ketakutan laki-laki akan keberanian dan kesadaran perempuan untuk menjadi subjek. Ketika perempuan mengatakan atau menunjukkan lebih dulu rasa cintanya terhadap laki-laki, laki-laki merasa wilayah politiknya diganggu. Laki-laki merasa eksistensinya diusik. Dengan demikian, mereka cenderung melangkah mundur demi mempertahankan eksistensinya.

Namun, semua yang alasan yang keluar pada kenyataannya selalu beratasnamakan cinta. Cinta menjadi konstruksi umum yang tidak tulus lagi. Cinta menjadi suatu harta yang diharuskan untuk timbal balik serta diawali dan diakhiri oleh laki-laki. Cinta menjadi milik laki-laki. Perempuan hanya mempunyai cinta hasil rekonstruksi untuk anaknya. Namun, cinta ibu-anak itu tetap merupakan cinta dan eksistensi laki-laki di mata masyarakat umum. Hal ini didasari oleh konsep mothering dan wifing yang sudah melekat pada perempuan.

Beauvior pun mengungkapkan tiga solusi atas opresi terhadap perempuan. Pertama, perempuan diharapkan bekerja agar mendapat kemandirian ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap laki-laki. Kedua, kemampuan intelektual perempuan dapat menjadikan dirinya diakui. Ketiga dan yang paling membutuhkan proses dan ranah yang luas adalah mengubah konstruksi sosial masyarakat mengenai pandangan umum terhadap perempuan.

Saya setuju dengan pendapat Beauvoir. Setidaknya, dua solusi pertama yang diberikannya membentuk perempuan untuk ada karena dirinya sendiri. Perempuan dapat menjadi bagian yang dipisahkan dari laki-laki dalam kehidupan bermasyarakatnya. Namun, kesadaran setiap manusia akan esensi dan eksistensi dirinya harus terus digali. Menurut saya, tak jarang pula mereka kurang menyadarinya karena rutinitas yang dianggap memang sudah begitu adanya.

Sumber

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar