Kamis, 02 Juli 2009

The Second Sex

Selama ini manusia sering kali diidentifikasikan sebagai laki-laki. Perempuan diidentifikasikan menjadi kelompok Yang Lain, sedangkan laki-laki menjadi kelompok utama, kelompok yang dijadikan sebagai standar nilai. Perempuan didefinisikan oleh laki-laki, dari sudut pandang laki-laki. Perempuan didefinisikan dan dibedakan berdasarkan kaitannya dengan laki-laki dan bukan kaitan laki-laki yang merujuk pada mereka. Laki-laki adalah Subjek, laki-laki adalah keutuhan; perempuan adalah Yang Lain.

Dalam banyak masyarakat primitif dan mitologi, mereka mengenal istilah dualitas; Yang Satu (The Self) dan Yang Lain (The Other). Seperti yang dikatakan Hegel, kesadaran itu sendiri merupakan dasar dari kesadaran lainnya. Subjek menjadi ada bila ada oposisi. Dia sendiri mengkategorikan dirinya sebagai Yang Esensial sebagai oposisi dari Yang lain, Inesensial, Objek. Semua hal itu tidak terjadi secara natural, tetapi akibat realitas sejarah. Perempuan terlihat sebagai Yang Inesensial karena mereka gagal membawa perubahan. Mereka seringkali senang akan statusnya sebagai Yang Lain.

de Beauvoir mengambil contoh pemikiran St. Thomas yang mengatakan bahwa perempuan merupakan makhluk kebetulan (incidental being). Akan tetapi, hal tersebut merupakan pengamatan dari sudut pandang laki-laki. Di sisi lain, Hegel mengatakan bahwa seksualitas menunjukkan media melalui subjek yang mempunyai keinginan untuk memiliki jenis lainnya. Hasrat menemukan dirinya dalam individu lainnya, melengkapi dirinya dalam lingkungan alamnya, dan memberikan eksistensi. Agar terjadi proses penyatuan itu, sebelumnya dibutuhkan pembedaan seksual (sexual differentiation).

Pada awalnya, perbedaan jenis kelamin tidak dilengkapi dengan dasar ilmu pengetahuan, melainkan berdasarkan mitos sosial semata. Pada masyarakat matriarkal tertentu dipercaya bahwa laki-laki tidak mempunyai peran dalam konsepsi. Jadi, sel-sel berusaha sendiri untuk menemukan tubuh ibunya. Kemudian, ketika filsafat mulai dikenal masyarakat, ada penjelasan mengenai pembuahan atau kehamilan secara ilmu pengetahuan.

Aristoteles menganggap bahwa perempuan adalah pihak yang pasif dalam pembuahan atau kehamilan, sedangkan laki-laki berkontribusi dengan cara pemaksaan, aktivitas, pergerakan, dan kehidupan. Di sisi lain, de Beauvoir menjelaskan makhluk hidup bereproduksi. Laki-laki menjadi tidak penting dalam pembentukannya. Sperma dan sel telur menjadi satu kesatuan ketika menjadi zygote. Kemudian, mereka kehilangan individualitasnya dalam telur yang telah terfertilisasi ketika mereka bersatu. Oleh karena itu, hubungan seksual tidak bisa dirujuk kembali kepada hubungan pembentukan. Kita harus belajar organisme perempuan secara keseluruhan untuk memahaminya.

Dalam kehidupan mamalia, betina mempunyai hubungan dekat dengan anak-anak mereka, sedangkan pejantan kurang tertarik. Betina merupakan korban dari spesies mereka karena sepanjang hidupnya, ia berada di bawah regulasi lingkaran seksual yang berbeda-beda lamanya antara mamalia yang satu dengan lainnya. Perlu diingat bahwa betina merupakan jenis yang pasif karena harus menunggu pejantan dan bersiap-siap untuk pembuahan. Sementara itu, selama kopulasi, betina menjadi rusak karena adanya pemaksaan, sedangkan pejantan merasa telah melakukan aktivitas yang memuaskan dirinya. Dengan demikian, betina atau perempuan merasa teralienasi dari dirinya sendiri. Sperma bertemu dengan sel telur, kemudian berkembang dalam tubuhnya. Betina atau perempuan merasa dimiliki oleh paksaan yang ada di luar dirinya. Sementara itu, pejantan atau laki-laki merasa mengontrol paksaan-paksaan itu.

Perkembangan laki-laki begitu sederhana. Kehidupan seks laki-laki secara normal berhubungan dengan eksistensi mereka. Dia adalah tubuhnya. Sementara itu, cerita perempuan lebih kompleks. Seringkali perempuan dianggap karena sel telur mereka dibutuhkan daripada keberadaannya sendiri. Perempuan harus mengalami menopause sebagai tanda akhir proses reproduksinya. Mereka mengalami kehidupan yang berbeda. Tentu saja, pada awalnya mereka biasanya mengalami depresi, tekanan darah tinggi, berkeringat dan merasa kepanasan terus, gugup, dan kadang-kadang meningkatkan seksualitas mereka. Beberapa menjadi gemuk dan beberapa menjadi lebih maskulin. Kemudian, mereka merasa menjadi dirinya sendiri, mereka merasa menjadi satu dengan dirinya. Kadang, perempuan pada masa tertentu disebut sebagai jenis kelamin ketiga (third sex); mereka bukan laki-laki dan mereka juga bukan lagi perempuan. Hal itu kerapkali terlihat dari fisik mereka, mereka menjadi lebih sehat dan seimbang—sesuatu yang selama ini mereka merasa kurang.

Perempuan lebih lemah dari segi biologis adalah fakta yang tidak bisa ditolak. Ketika eksistensi masuk ke dalam pemikiran masyarakat, biologi menjadi ilmu pengetahuan yang abstrak. Kelemahan bisa didefiniskan oleh eksistensialis, ekonom, dan pemerhati moral. Kemungkinan manusia tergantung pada situasi ekonomi dan sosial. Cara dan adat tidak dapat disimpulkan dari biologi. Fakta yang penting dari penjelasan tersebut adalah perbudakan perempuan terhadap spesies dan keterbatasan kekuasaan yang beragam. Kemudian, yang harus kita temukan adalah bagaimana alam dapat berpengaruh terhadap sejarah; kemanusiaan telah dibuat oleh laki-laki dan cenderung merugikan perempuan.

Ditilik dari psikoanalisis, perempuan juga mengalami opresi. Freud mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki mengalami perkembangan seksual yang sama pada awalnya. Namun, dalam masa anal, mereka mereka mengalami masa genital yang membedakan perempuan dan laki-laki. Laki-laki mencapai erotisme secara subjektif melalui perempuan. Sementara itu, perempuan sistem erotis perempuan begitu kompleks dan ada risiko perempuan tidak mencapai evolusi seks. Perempuan mencapai erotisme ketika ia mencapai fase narsis yang dilihat melalui laki-laki. Jadi, perempuan menjadi objek. Selain itu, penolakan perempuan terhadap feminitasnya dan mengidentifikasikan dirinya sebagai bapaknya membuatnya menjadi frigid dan homoseksual. Freud merasa tidak adanya penis pada perempuan membuat perempuan merasa teralienasi; absen dengan makhluk seksual yang menjadikan dirinya sebagai Yang Lain.

Menurut Adler, dalam kehidupan perempuan, kompleks inferior mengambil bentuk menolak kemaluan akan feminitasnya. Hal ini bukan karena merasa tidak mempunyai penis, tetapi karena itu adalah situasi total perempuan. Dengan demikian, perempuan merasakan kesenangan yang utuh dari cintanya kepada ayah yang berkuasa. Cintanya berurusan dengan keinginan untuk didominasi.

Semua psikoanalis secara sitematis menolak ide akan pilihan dan korelasi konsepnya terhadap nilai. Selain itu, ada kelemahan intrinsik dalam sistemnya. Freud gagal menjelaskan asal dari nilai-nilai tersebut. Sebagai contoh, inses dilarang karena dilarang oleh ayahnya. Mengapa ayahnya mealrang? Hal ini masih menjadi misteri.

Adler melihat komplek kastrasi dapat dijelaskan melalui konteks sosial. Namun, ia tidak mencapai pencarian nilai individu dalam masyarakat. Lalu, ia juga tidak menyadari bahwa nilai juga berpengaruh dalam seksualitas itu sendiri. Psikoanalisis juga tidak menjelaskan fakta-fakta. Misalnya, kita diberi tahu anak perempuan akan merasa malu jika membuang air kecil dalam keadaan bokongnya tidak ditutup. Akan tetapi, kapan rasa malu ini muncul? Laki-laki merasa bangga dengan penisnya, tetapi penting untuk tahu rasa bangga seperti apa yang muncul dan bagaimana aspirasi sebagai subjek terinkarnasi menjadi objek.

Secara garis besar, psikoanalisis gagal menjelaskan mengapa perempuan adalah spesies Yang Lain. Yang perlu ditekankan adalah seksualitas adalah anugerah. Contohnya, libido feminin yang tidak pernah dibahas oleh psikoanalisis, sedangkan libido maskulin menjadi titik utama. Libido perempuan dianggap genit dan munafik. Psikonalisis selalu menjelaskan melalui masa lalu. Mereka menggunakan istilah mengidentifikasikan seseorang dengan bapak atau ibunya dengan mengalienasikannya.

Ketika perempuan berusaha menjadi manusia, ia dikatakan mengikuti laki-laki. Dengan demikian, kita seharusnya belajar perspektif esensial dengan memperhatikan situasi total perempuan. de Beauvoir mengatakan bahwa seharusnya perempuan ditempatkan di dunia yang penuh nilai dan memberikan kebebasan kepadanya. Perempuan mempunyai kekuasaan atau kekuatan untuk memilih antara pernyataan yang berlebihan dan alienasinya sebagai subjek.

Perbedaan perempuan dan laki-laki secara biologis dan psikoanalisis tersebut mempengaruhi sejarah yang dialami manusia. Pada awalnya, perempuan dan laki-laki mempunyai peran masing-masing dalam lingkungan masyarakatnya. Bahkan, ada kecenderungan perempuan mendominasi kehidupan bermasyarakat. Namun, seiringan dengan kebun yang mulai diperbesar dan alat-alat mulai dibuat karena diperlukan, perbudakan dan kepemilikan tanah mulai muncul pula. Kepemilikan dan properti mulai menjadi taraf hidup bermasyarakat. Perempuan mulai disingkirkan dan digantikan dengan kebudayaan patriarkal.

Awal yang seperti itu membawa perempuan dalam opresi lainnya dalam kehidupan sehari-hari saat ini. Hak-hak perempuan seolah-olah dihilangkan karena dianggap sebagai properti yang dimiliki laki-laki. Perempuan tidak mempunyai pilihan atas dirinya. Ketika pernikahan diadakan sebagai institusi atas dasar kebutuhan kesuburan, istri jelas sekali menjadi subordinasi suaminya. Selanjutnya, pernikahan dianggap merugikan perempuan karena memanfaatkan keibuan perempuan. Kesubordinasian perempuan terjadi akibat kelemahan fisik perempuan, bukan moral mereka.

Dengan demikian, jelas sudah bahwa laki-laki mempelajari kekuasaannya. Mereka menciptakan dunia sendiri yang baru. Fakta bahwa perempuan lemah dan menjadi inferior dalam kapasitas produksi merupakan akibat dari ketertutupan perempuan akan cara berpikir dan bekerjanya. Ia berada pada batas bahwa dirinya merupakan proses kehidupan yang misterius.

de Beauvoir juga menjelaskan betapa mitos yang dikembangkan dari generasi ke generasi turut membantu perkembangan opresi terhadap perempuan tanpa disadari banyak orang, termasuk perempuan sendiri. Mitos menunjukkan subjek, harapan, dan ketakutan. Perempuan tidak pernah merasa menjadi subjek karena tidak pernah terefleksi dalam mitos. Perempuan tidak mempunyai agama ataupun puisi tentang mereka. Perempuan bermimpi melalui mimpi laki-laki. Dengan demikian, representasi dunia merupakan hasil pemikirna laki-laki sehingga perempuan bingung dengan kebenaran sesungguhnya.

Keraguan laki-laki antara ketakutan dan hasrat, sebagai sesuatu yang ingin dikontrolnya, terlihat pada konsep keperawanan. Ada sebagian yang menginginkan istrinya masih perawan, tetapi sebagian lainnya justru tidak mau. Keperawanan dapat dilihat sebagai kesucian dan juga sebagai tanda akan kebagusan perempuan. Perempuan yang bagus pasti sudah pernah diajak berhubungan seksual dengan laki-laki lain. Bahkan, ada pula laki-laki yang hanya mau menikahi seorang ibu sebagai tanda kesuburannya. Namun, keperawanan merupakan suatu hal yang penting ketika istri ingin dijadikan sebagai properti pribadinya.

Perempuan seringkali diharapkan untuk tampil dengan sempurna berdasarkan persepsi laki-laki. Kemudian, ia dijadikan sebagai idola. Namun, itu adalah idola yang ambigu. Fungsi ornamen yang dikenakan perempuan adalah mendekatkan perempuan secara alamiah dan dalam waktu yang sama justru menjauhkannya dari alam.

Perempuan dihargai sebagai ibu. Semenjak itu, ia hanya dihargai jika berperan sebagai ibu. Laki-laki secara alamiah menjadi cinta perempuan. Akan tetapi, laki-laki berusaha keluar dari situ dan berharap untuk dapat kembali ke sana. Figur perempuan menjadi sesuatu yang penuh spiritual. Santa Maria menjadi idola dan menjadi sosok perempuan baik-baik yang kemudian menjadi standar nilai perempuan.

Standar nilai perempuan baik-baik adalah menerima dominasi laki-laki, menerima idenya tanpa diskusi. Kesuksesan laki-laki adalah ketika perempuan beranggapan bahwa laki-laki itulah yang menjadi bagian dari takdirnya. Hal ini akibat anggapan bahwa laki-laki merupakan orang yang melihatnya dan dapat menilainya, bukan sebagai temannya.

Pada dasarnya, de Beauvoir mengajak perempuan untuk mengenal dirinya sendiri, termasuk organisme perempuan secara keseluruhan. Perempuan harus membuka diri akan cara berpikir dan bekerjanya sehingga perempuan dapat mengembangkan dan mengontrol dirinya sendiri. Mengenali dirinya lebih dalam dan kenyataan yang telah dibentuk oleh laki-laki membuat perempuan menemukan kekuatan sendiri untuk mendefinisikan ulang segala pemikiran yang ada di sekelilingnya yang telah lama didoktrin.

Menurut saya, secara keseluruhan pemikiran de Beauvoir menegaskan eksistensi perempuan sebagai subjek. Ia memberikan kesadaran akan posisi perempuan yang selama ini menjadi pihak yang dirugikan oleh sejarah, mitos, dan agama. Informasi yang diberikannya memberikan kesadaran bahwa perempuan pun sebenarnya sanggup menjadi individu yang berdiri sendiri dan mengidentifikasikan dirinya sendiri.

Begitu mengesankan bagaimana de Beauvoir menjelaskan mitos yang dibentuk laki-laki mengenai keperawanan, standar perempuan baik-baik, dan konsep kesempurnaan pada perempuan. Hal yang selama ini dianggap benar ternyata merupakan hasil perjuangan laki-laki untuk membentuknya. Oleh karena itu, pernikahan, aborsi, hak politik, seksualitas, keperawanan harus didefinisikan ulang dengan menggunakan perspektif perempuan. Semua hal sebaiknya dikaji ulang dengan menaruh rasa curiga akan sudut pandang laki-laki yang menguasainya. Perempuan harus berani unjuk diri dan memberikan sudut pandangnya karena mereka juga mempunyai hak dan kebenaran sendiri yang dibawanya.

Pemikiran de Beauvoir dituliskan secara runut dan sangat detil. Ia tidak membicarakan sesuatu yang mengawang-awang, walaupun ia seorang esensialis. Ia memberikan fakta-fakta dalam kehidupan sehari-hari yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Semua pemikirannya dibentuk sehingga dapat masuk wilayah logika yang dapat diterima dengan mudah.

Namun, segala pemikiran yang diutarakannya masih terkait dengan posisi biner. Ia percaya bahwa segala sesuatu terbagi menjadi dua. Contohnya adalah Yang Satu akan ada jika ada Yang Lain. Dengan demikian, secara tidak langsung, menurut saya, ia meminta perempuan untuk merebut posisi Yang Satu dan menggeser laki-laki untuk menempati posisi Yang Lain. Di sisi lain, posisi biner tersebut seharusnya dihilangkan. Perempuan dan laki-laki sanggup hidup berdampingan tanpa ada predikat Yang Satu maupun Yang Lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar