Kamis, 02 Juli 2009

Simbiosis Mutualisme antara Lingkungan dan Perempuan

Perempuan dianggap mempunyai hubungan erat dengan lingkungan. Seperti yang dikatakan Gadis Arivia (2006, 381) dan Rosemarie Putnam Tong (2006, 359), isu feminis dan ekologi mempunyai hubungan konseptual, simbolik, dan linguistik. Semua hal itu dikaitkan dengan konsep yang seringkali merugikan perempuan dan ekologi, yaitu hierarkis, dualisme, dan dominasi.

Perempuan dilihat sebagai jenis kelamin yang mempunyai simbolik yang sama dengan ekologi. Karen J. Warren mengatakan bahwa perempuan telah dinaturalisasi, sedangkan alam difemininisasi (Tong, 2006, 360). Perempuan dan ekologi dianggap mempunyai nasib yang serupa. Contohnya, anggapan yang menyatakan bahwa lingkungan akan berharga setelah dieksploitasi, begitu pula dengan stereotipe masyarakat akan keberadaan perempuan. Kehadiran perempuan dan ekologi berada di bawah kuasa kapitalisme yang seperti ular berkepala dua dengan patriarki.

Langkah selanjutnya adalah kedekatan perempuan dengan alam dilihat sebagai kodrat yang mengharuskan mereka sebagai penjaga dan perawat. Akan tetapi, hal itu bukan dianggap sebagai kesadaran perempuan yang melakukannya dengan penuh perasaan, melainkan sebagai kodrat. Hal inilah yang diperjuangkan ekofeminis, mengembalikan kedudukan perempuan dan ekologi untuk sejajar dengan laki-laki dan dihargai secara penuh. Kedekatan perempuan dengan ekologi mampu saling menaikkan kedudukan mereka di dunia ini.

Salah satu ekofeminis ternama dan saya kagumi adalah Vandana Shiva. Dalam Tong disebutkan bahwa menurutnya, perempuan mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan dasar-dasar kehidupan ketika ada pihak yang mengancamnya (2006, 394). Menurut saya, ia begitu menghargai feminitas perempuan. Ia sadar betul bahwa perempuan begitu menghargai kehidupan karena ia mengalami proses melahirkan. Kemudian, penghargaan akan kehidupan tersebut begitu dekat dengan ekologi yang mampu menopang hidup manusia. Sementara itu, laki-laki selalu berusaha mengeksploitasi yang merusak lingkungan demi pembuktian kekuasaannya.

Ekofeminisme dapat dipraktikkan di mana pun dan kapan pun karena lingkungan ada di mana-mana. Ekofeminisme tidak terbatas pada pergerakan Dunia Pertama maupun Dunia Ketiga. Mereka semua dapat mengaplikasikan konsep tersebut dengan sadar maupun tidak sadar. Perempuan Indonesia pun memperhatikan hal tersebut.

Dalam Kompas (Senin, 15 Desember 2008) terdapat profil mengenai seorang perempuan yang mampu mengubah limbah. Namanya adalah Hendrati dari Boyolali. Kepeduliannya terhadap lingkungan membuatnya berpikir keras untuk memanfaatkan limbah itu dna mengubahnya ke bentuk lain yang berguna dan menyelamatkan lingkungan dari bahayanya. Ia pun mengumpulkan buah pohon jangkang yang mengotori daerah sekitarnya dan mengubahnya menjadi pajangan. Selain itu, koran-koran bekas pun ia kumpulkan untuk dijadikan kertas daur ulang serta kerajinan yang dapat dimanfaatkan kembali. Setelah itu, ia menjual hasilnya dan mendapatkan pemasukan ekonomi yang mampu membanut menopang hidup keluarganya.

Dari contoh tersebut dapat terlihat bahwa perempuan dapat mengembangkan dirinya dengan bekerja sama dengan lingkungan. Lingkungan tetap terjaga dan perempuan dapat memperoleh keuntungan darinya. Dengan memberikan sumbangsih terhadap perekonomian, perempuan berhasil melakukan satu langkah ke depan untuk menjadi mandiri dan dapat melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap laki-laki. Perempuan dapat ikut berkompetisi dalam perekonomian di tengah-tengah masyarakat yang biasanya dikuasai laki-laki.

Contoh lainnya terjadi pada lingkungan terdekat saya. Ibu saya sedari dulu begitu menyukai tanaman. Sepetak kecil di belakang rumah saya seringkali dijadikan tempatnya untuk menanam dan merawat tumbuh-tumbuhan beraneka jenis. Pada awalnya, ia hanya melakukan itu sebagai hobi. Pada tahun lalu, tanaman berjenis anthurium atau yang lebih dikenal dengan Gelombang Cinta sedang naik daun. Banyak sekali orang yang mencari sehingga harganya meningkat drastis.

Ibu saya pun termasuk salah satu orang yang mempunyai tanaman jenis ini dan sudah merawatnya. Tanaman yang ia punya banyak ditawar dengan harga tinggi orang-orang yang mencarinya. Dengan demikian, ia menjadikan hobinya ini sebagai slaah satu mata pencaharian “dadakan”. Dari sini terlihat pula bahwa kedekatan perempuan dengan lingkungan memang membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Perempuan mendapat pengahasilan dan pengakuan di bidang ekonomi dan lingkungan merasa dipedulikan.
Memang, secara sekilas, perempuan seperti menjadikan lingkungan sebagai objek. Perempuan seolah-olah tidak berbeda dengan laki-laki menjadikan tanaman sebagai “barang dagangan”-nya. Akan tetapi, jika ditilik lebih lanjut, perempuan tidak merusak lingkungan itu sendiri. Perempuan menjualnya untuk dirawat kembali oleh pemilik selanjutnya. Tanaman-tanaman tersebut tidak akan hilang—seperti pohon-pohon di hutan yang diperdagangkan—melainkan tetap berada.

Pemerintah pun mulai sadar akan gerakan ini sehingga mencanangkan suatu kampanye. Mereka menganjurkan perempuan untuk memelihara tanaman di rumah yang dapat membantu kelangsungan hidupnya, seperti sayuran dan buah-buahan. Berbagai spanduk mengenai hal itu terpampang di jalanan-jalanan protokol. Perempuan yang dianggap sebagai pihak paling sadar akan lingkungan diharapkan menjadi penyelamat ketika tidak ada ketersediaan sayuran maupun buah-buahan di pasar. Perempuan dapat kembali menempati posisi penting dalam masyarakat ketika pada nantinya kembali kepada masa mendekati agraris akibat pemanasan global yang semakin menjadi fakta.

Sumber

Arivia, Gadis. Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Kompas (2006).

Lee, Antony. “Hendrati, “Pesulap” Limbah dari Boyolali. Kompas, Senin, 15 Desember 2008, hlm. 16.

Tong, Rosemarie Putnam. Terj. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Oleh Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta: Jalasutra (2006).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar