Kamis, 02 Juli 2009

Thinking the Difference for a Peaceful Revolution

Buku ini berisi empat artikel yang ditulis oleh Luce Irigaray dan biasanya digunakan sebagai bahan narasumber di seminar. Dengan demikian, kadang ia mengulang penjelasan yang telah dijabarkan pada artikel satu di artikel lainnya. Berikut saya paparkan pemikiran-pemikiran yang diusungnya mengenai pembebasan perempuan terhadap opresi yang dialaminya dengan cara damai.

Pada artikel pertama, sejarah yang melatarbelakangi perkembangan teori adalah kecelakaan nuklir Chernobyl. Keadaan alam dan budaya telah rusak akibat kecelakaan nuklir itu. Irigaray berpikir ulang akan keadaan budaya yang telah dibentuk oleh laki-laki. Kebudayaan patriarkal membawa perempuan, anak-anak, dan semua benda hidup menjadi bagian dari pemikiran laki-laki. Menurut Irigaray, kita membutuhkan transformasi budaya.

Laki-laki mencari apa yang menurut mereka benar tanpa mengetahui identitas mereka dan apa yang mereka lakukan. Irigaray meyakinkan perempuan bahwa perempuan adalah sosok yang tepat untuk memberitahukan hal-hal itu. Perempuan tidak terlibat di dalam kebudayaan patriarki sehingga mereka tidak mempunyai tujuan apapun dalam budaya tersebut. Oleh karena itu, mereka mempunyai sudut pandang tersendiri untuk melihat identitas laki-laki dan apa yang terjadi dalam kebudayaan itu.

Salah satu hal yang ditekankan Irigaray adalah partial drives. Hal ini berangkat dari pemikiran perkembangan seksualitas yang dipaparkan oleh Freud. Freud mengatakan tokoh seksual dominan tidak lain adalah laki-laki. Di sisi lain, seksualitas dan spiritualitas perempuan terasa melalui pancainderanya. Akan tetapi, teknologi—salah satu bentuk kebudayaan patriarkal—merusak pancaindera perempuan sehingga mengurangi sensitivitasnya. Sebagai contoh, pendengaran, penciuman, sentuhan, perasaan, dan penglihatan dirusak oleh polusi udara dan suara serta kecelakaan nuklir. Hal itu jelas membuat perempuan kehilangan identitasnya yang dicari melalui spiritualitas dan seksualitas. Penjelasan ini menjelaskan ketidaksetujuan Irigaray akan konsep atau teori yang diajukan Freud sebelumnya.

Menurut saya, Irigaray menganggap identitas perempuan sangat penting. Penekanan akan hilangnya identitas perempuan diulang berkali-kali olehnya. Sama halnya dengan Simone de Beauvoir, Irigaray pun beranggapan bahwa mitos, agama, dan pondasi simbol akan kebudayaan telah dikuasai laki-laki. Perempuan pun tidak tercermin di dalamnya. Hal lain yang tidak tercermin adalah hubungan ibu dan anak perempuannya. Poster, iklan, mitos, hingga cerita agama yang terus berkembang lebih banyak menggambarkan hubungan bapak dan anak laki-laki atau ibu dan anak laki-laki. Padahal, menurut Irigaray, hubungan ibu dan anak perempuan merupakan contoh yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan spesial antara alam dan budaya. Selain itu, hubungan ibu dan anak perempuan juga menggambarkan cinta dan hasrat yang menjadi satu. Kehidupan perempuan yang dipisahkan dari ibunya membuat perempuan seolah-olah tidak diperhitungkan, termasuk dalam pembuatan hukum.

Laki-laki menjalakankan kehidupan bermasyarakat sehingga kebudayaan patriarki ini membuat mereka membentuk hukum yang sesuai dengan kebutuhannya. Laki-laki mengedepankan kesejahteraan daripada penghargaan terhadap hidup dalam hubungan intersubjektif. Bagi laki-laki, kehidupan adalah komoditas; bukan dasar dari identitas untuk diolah sehingga hukum yang ditulis laki-laki sehingga selalu mengedepankan properti dan uang. Sikap yang tidak menghargai alma ini berakibat fatal bagi perempuan. Pembuat hukum—yang sebagian besar berperspektif laki-laki—tidak mempertimbangkan pengalaman perempuan karena mereka tidak mengalaminya, seperti kehamilan, perkosaan, dan objek pornografi. Dengan demikian, perempuan dan pengalamannya tidak dilindungi oleh hukum. Hal itu membuat perempuan seolah-olah tidak dianggap sebagai warga negara karena tidak terwakilkan melalui hukum yang mengatur warga negara secara keseluruhan.

Selain hukum, ilmu pengetahuan juga tidak netral dan tidak menyeluruh. Ilmu pengetahuan selalu mengambil sudut pandang objektif. Ilmuwan selalu sibuk dengan peralatan mereka—terkait dengan teknologi yang mereka junjung tinggi—sehingga melupakan kehidupan mereka. Oleh karena itu, pengalaman subjektif selalu dilupakan. Padahal, perempuan erat sekali kaitannya dengan pengalaman subjektif. Perempuan menjadi tidak tergambarkan dan tidak terwakilkan dalam ilmu pengetahuan. Perempuan menjadi lupa terhadap tubuh dan kebebasan mereka. Lagi-lagi, identitas mereka menjadi hilang.

Hilangnya identitas perempuan juga terlihat dari bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Contohnya adalah bahasa Prancis. Bahasa Prancis membagi kelas-kelas katanya menjadi tiga gender, yaitu feminin, maskulin, dan netral. Namun, segala hal yang esensial, penting, dan besar selalu digantikan dengan kata maskulin, seperti matahari dan Tuhan. Contoh lainnya adalah kata ganti persona terkait dengan pemberian gender di dalamnya. Elle yang merupakan kata ganti feminin hanya bisa digunakan untuk menggantikan perempuan yang masih perawan dan masih sendiri. Jika perempuan dan perempuan lainnya bergabung, mereka digantikan dengan kata ganti ils yang merupakan kata ganti maskulin. Sehubungan dengan agama, Maria yang dikenal sebagai perempuan pun jika digabung dengan Yesus, tetap digantikan oleh ils. Di sisi lain, penggunaan elle justru sebagai penghargaan terhadap ibu maupun sesama perempuan. Dengan demikian, perempuan kehilangan hubungan dengan sesamanya. Femininitas seolah-olah dihilangkan.

Jika dikaitkan dengan teori Freud tentang perkembangan seksualitas pada usia dini, laki-laki sebenarnya mempunyai sosok feminin yang dilihatnya pada sosok ibu. Akan tetapi, sosok feminin itu dihilangkan. Laki-laki memang kehilangan interlocutrix (tempat awalnya), tetapi perempuan kehilangan segalanya yang terlihat dari bahasanya. Dari sini terlihat bahwa peran perempuan sebagai ibu penting sekali, tetapi bahasa telah merusaknya. Perempuan hanya mewakili benda, tidak lagi menjadi subjek. Irigaray mengambil contoh dari kata ganti yang digunakan untuk posisi pekerjaan bagi perempuan. Kata ganti yang digunakan susah disebutkan, bahkan tetap menggunakan kata ganti maskulin. Perempuan kembali kehilangan identitasnya. Begitu pula di dalam keluarga. Ibu tidak ditunjuk di dalam keluarga sehingga anak perempuan kehilangan elle maternal dan elle-nya sendiri.

Hubungan ibu dan anak perempuannya seharusnya ditonjolkan dalam masyarakat sehingga ibu dapat melindungi anaknya. Ketika mendapat perlindungan dari ibunya, anak pun akan mendukung hak ibunya. Hubungan yang erat di antara perempuan dengan sesamanya dapat memperkuat identitas perempuan yang ada di masyarakat dan perempuan yang kehilangan identitas dapat menemukannya kembali. Hal ini dapat diawali dengan melindungi tubuh mereka sendiri, seperti menaruh perhatian lebih kepada keperawanan, kehamilan, melahirkan, menyusui, dan merawat anak. Ketika perempuan mendapatkan hak-hak yang dituntutnya, perempuan akan lebih menjalankan kewajibannya untuk bertanggung jawab.

Jika dikaitkan dengan keadaan masa kini, Irigaray mengatakan bahwa laki-laki menginisiasi perempuann ke dalam cinta. Hal ini laki-laki lakukan berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, laki-laki juga membuat perempuan lupa akan dirinya. Keadaan ini membuat cinta resiprokal dan erotisme hilang. Laki-laki juga menjadi penguasa dalam kehidupan percintaan. Identitas perempuan tidak terkuak dan tetap hilang.

Menurut saya, berdasarkan penjelasan di atas, pada dasarnya Irigaray hanya menekankan hilangnya identitas perempuan. Padahal, hal itu merupakan aspek dasar karena ketika perempuan tidak dikenal, mereka pun akan terlupakan dalam bidang-bidang kehidupan yang lain, seperti hukum, bahasa, seksualitas, dan spiritualitas. Dihilangkannya identitas perempuan merupakan opresi yang besar terhadap perempuan.

Irigaray berusaha memberikan saran-saran dalam tulisannya yang berusaha untuk mengembalikan identitas perempuan di dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, ia mengusulkan agar perempuan menuntut dibuatnya hukum-hukum yang mewakili perempuan sehingga perempuan juga menjadi warga negara. Perempuan sebaiknya menuntut hak aborsi dan kontrasepsi yang erat kaitannya dengan pengalaman subjektif perempuan.

Kedua, berkaitan dengan pengalaman subjektif, perempuan sebaiknya tidak menolak pengalaman subjektif. Perempuan harus mampu bicara dan mengekspresikan diri melalui kata-kata, simbol, dan image. Terkait dengan hal tersebut, perempuan juga dituntut untuk tahu bagaimana cara utnuk berhenti, berefleksi, dan berkontemplasi. Hal ini sama dengan perempuan meminta bentuk penghargaan terhadap tubuh dan kebebasan mereka. Pengalaman subjektif perempuan juga dapat mengantarkan perempuan untuk masuk ke wilayah ilmu pengetahuan yang tidak netral dan objektif.

Ketiga, perempuan membutuhkan perubahan linguistik untuk masuk ke dunia publik. Ketika bahasa berubah, dengan sendirinya perempuan mendapat identitas yang akan mempermudahnya untuk dianggap sebagai warga negara. Hal ini dapat dilakukan melalui penggunaan kata ganti. Misalnya, kata ganti maskulin digunakan selama setahun, setahun selanjutnya menggunakan kata ganti feminin. Dengan demikian, identitas perempuan tetap dihargai. Sehubungan dengan bahasa pula, perempuan dan laki-laki sebaiknya mengkaji ulang hak atribut kepada jenis kelamin masing-masing dan hak mengerti dalam kekuatan hukum. Bersamaan dengan hal tersebut, perlu dilakukan juga perubahan pada sistem simbolik, terlebih pada bahasa, hukum, dan agama.

Perubahan simbol ini bisa dimulai dengan perjuangan perempuan terhadap hak harga diri manusia. Dalam artian, perempuan sebaiknya menuntut untuk mengakhiri iklan atau image yang ada di media massa yang mengeksplorasi perempuan. Selain itu, keperawanan dan kehamilan yang merupakan hak akan identitas manusia juga harus diperjuangkan. Perempuan harus mencari dan menemukan kembali identitas dirinya. Salah satu hal yang penting dilakukan yaitu menonjolkan kembali hubungan ibu dan anak perempuannya. Hubungan antara perempuan dengan sesama perempuan juga harus diperlihatkan dan dijunjung tinggi. Dengan demikian, mereka dapat membela hidup, anak, rumah, tradisi, bahkan agama perempuan.

Seluruh hak-hak tersebut yang berkaitan dengan penemuan kembali identitas perempuan sebaiknya direpresentasikan melalui keputusan sipil dan agama. Tuntutan hak-hak perempuan ini sebaiknya diangkat pula dalam tataran internasional. Dengan demikian, perempuan semakin mempunyai kekuatan untuk menemukan identtiasnya sebagai warga negara dan bahkan warga dunia.

Keseluruhan saran yang diberikan Irigaray memberikan satu benang merah. Perempuan harus berani menampilkan dirinya sebagai perempuan dengan sudut pandangnya sebagai perempuan. Ketika budaya patriarkal sudah mulai merayapi tubuh dan cara berpikir perempuan, perempuan harus segera mencari identitasnya sendiri dan berdiri di depan umum untuk mengumumkannya.

Dalam konteks Indonesia, bahasa yang digunakan memang tidak bergender. Akan tetapi, penggunaan kata ganti untuk posisi kerja perempuan juga terlihat dalam bahasa Indonesia, seperti karyawati, wartawati, peragawati, dan pramugari. Sebagian kelompok linguis tidak setuju akan penggunaan kata-kata ini karena dianggap membedakan perempuan dan laki-laki. Sementara itu, penggunaan kata ganti posisi kerja yang sama antara perempuan dan laki-laki seringkali meninggalkan kesan bahwa itu adalah laki-laki, seperti dokter, pilot, dan supir. Saya pun melihat hal ini sebagai bagian dari proses penghilangan identitas perempuan. Salah satu cara yang digunakan untuk mengidentifikasi perempuan adalah dengan penambahan kata ‘perempuan’ pada kata ganti posisi kerja itu, seperti perempuan dokter, perempuan penulis, dan perempuan manajer. Saya setuju dengan hal ini, tetapi tidak untuk selamanya. Ketika masyarakat sudah sadar bahwa posisi-posisi kerja itu juga bisa ditempati oleh perempuan, penambahan kata ‘perempuan’ pun sebaiknya dihilangkan.

Di sisi lain, perempuan harus lebih berani untuk menampilkan dirinya dalam publik, seperti yang dikatakan Irigaray. Hal ini bisa dilakukan dengan penggunaan kata ‘saya’ dalam penulisan yang dilakukan perempuan. Perempuan harus berani meletakkan dirinya sebagai subjek dalam penulisannya sehingga berkesan bertanggung jawab dengan apa yang diutarakannya. Objektivitas juga akan hilang pelan-pelan dan akan menguatkan pengalaman subjektif yang berciri khas perempuan.

Secara keseluruhan, buku ini memberikan pandangan baru yang berupa hal-hal kecil dan sebenarnya mendasar, tetapi seringkali tidak diperhatikan oleh orang banyak, seperti bahasa dan identitas diri. Walaupun seringkali Irigaray mengulang pemikirannya—yang wajar karena merupakan kumpulan tulisan yang digunakan sebagai bahan seminar, ia mampu memaparkan pemikirannya secara runut. Setiap masalah yang diajukan langsung diberikan saran. Dengan demikian, membaca buku ini terasa selesai, apalagi bahasa yang digunakan juga cukup mudah dipahami.

Pemikiran Irigaray memberikan pandangan mendasar yang penting menurut saya. Secara tidak sadar, perempuan menjadi tidak mengenal dirinya. Mereka diberikan identitas oleh budaya patriarki yang tentu saja didasarkan atas sudut pandang laki-laki. Saya menjadi bertanya-tanya pada diri sendiri mengenai identitas saya sebagai perempuan. Saya mencoba mencari tahu lagi tentang kebutuhan saya dan opresi yang saya alami di berbagai lingkungan sebagai perempuan.

Satu hal yang saya pertanyakan dalam buku ini adalah pernyataan Irigaray mengenai peran perempuan sebagai pengingat laki-laki akan identitas laki-laki dan memberitahukan apa yang mereka lakukan karena laki-laki tidak mempedulikan itu. Dari pernyataannya tersebut, Irigaray mengesankan bahwa perempuan memang tidak mempunyai posisi sebagai pelaku kebudayaan. Perempuan hanya menempati posisi tambahan yang mengingatkan pelaku utama. Saya tahu bahwa Irigaray hanya menegaskan peran penting perempuan. Akan tetapi, bukankah sebaiknya peran penting itu mengubah posisi perempuan dalam kebudayaan patriarkal dan bukan malah mempertegasnya? Pada saran-sarannya yang lain, Irigaray dengan jelas memaparkan cara-caranya yang masuk akal untuk saya, walaupun transformasi budaya seperti itu akan memakan waktu yang lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar