Kamis, 02 Juli 2009

Viktimisasi Perempuan

Laki-laki merasa berada di posisi yang selalu lebih diuntungkan daripada perempuan. Tentu saja,hal ini mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah faktor yang menyebabkan adanya perkosaan. Perkosaan cenderung merugikan keadaan perempuan, sementara laki-laki merasa tidak bersalah, bahkan mampu untuk menikmatinya. Hal itu jelas mempertegas adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan, ketidaksetaraan gender.

Menurut saya, kasus perkosaan yang menarik adalah date rape, perkosaan yang dilakukan pada masa pacaran. Masa pacaran merupakan masa awal ketika perempuan dan laki-laki belajar untuk saling mencintai dan saling menerima hingga akhirnya sanggup untuk memasuki masa pernikahan. Pada masa pacaran inilah mereka sama-sama mencari tahu bagaimana cara memaknai cinta dan menjalaninya. Hal itu cukup jarang diajarkan pada buku-buku sekolah, bahkan oleh orangtua sekalipun. Memaknai cinta dianggap sebagai suatu hal natural yang tentu saja ada faktor lain yang mempengaruhi kita untuk memaknainya, seperti apa yang kita lihat pada lingkungan keluarga dan sosial.

Menurut saya, pemaknaan cinta ini pun juga dipengaruhi oleh ketidaksetaraan gender. Pada masa pacaran, laki-laki sering kali membujuk perempuan untuk melakukan hubungan fisik yang tidak diinginkan perempuan. Namun, mereka selalu berusaha meyakinkan perempuan kalau itu merupakan salah satu cara untuk membuktikan rasa cinta mereka. Pencarian perempuan terhadap makna cinta seringkali menjadi salah—dapat dikatakan salah karena merugikan perempuan—pada akhirnya—karena informasi yang mereka dapat dari laki-laki tersebut. Mereka begitu percaya dengan pasangan laki-lakinya karena mereka tidak tahu harus belajar tentang cinta kepada pasangan dari mana dan atau dari siapa.

Dalam hal ini, laki-laki tidak merasa memperkosa perempuan karena mereka bersumsi atas dasar suka sama suka. Akan tetapi, perempuan sebenarnya tidak mau melakukan hal ini. Ia melakukannya hanya karena tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi dan percaya bahwa berhubungan seksual merupakan satu-satunya cara untuk membuktikan cintanya. Ia takut ditinggalkan dan merasa sendiri; tidak dapat mengidentifikasikan dirinya sendiri. Identitas dirinya berdasarkan pembuktian cintanya, kepuasan orang lain.

Association of American Colleges telah memberikan beberapa solusi untuk mencegah perkosaan. Akan tetapi, hal itu belum banyak terjadi di Indonesia. Lingkungan pendidikan seolah enggan untuk memasuki wilayah itu karena dianggap bertentangan dengan nilai budaya dan agama yang ada di Indonesia. Pandangan inilah yang semakin menutup mata perempuan dan pada akhirnya berpotensi untuk merugikan perempuan. Cara-cara pencegahan itu begitu sederhana dan kadang tidak terpikirkan oleh perempuan. Contohnya adalah belajar mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang memang tidak diinginkan. Biasanya, perempuan mengatakan “tidak” karena budaya mereka mengajarkan seperti itu, walaupun mereka ada keinginan untuk mengatakan “iya”. Laki-laki merasa harus sedikit memaksa perempuan karena itulah yang diinginkan perempuan sebenarnya.

Selain itu, Hyde mengatakan bahwa pornografi memberikan dukungan ideologi budaya terhadap perkosaan. Saya mengerti bahwa pornografi mampu mengembangkan imajinasi dan keinginan pengkonsumsi akan kebutuhan seksualnya. Akan tetapi, di sisi lain, sempat terbesit bahwa pornografi juga bisa menjadi salah satu cara untuk melampiaskan kebutuhan seksual mereka. Dengan demikian, mungkin saja konsumsi pornografi justru membantu laki-laki untuk mengalihkan kebutuhan seksualnya sehingga tidak menjadikan perempuan—terlebih pasangannya—sebagai korban. Memang, saya sadar bahwa pornografi hanya memindahkan objek seksualitas laki-laki dari perempuan yang ada di sekitarnya ke perempuan yang ada dalam majalah, internet, atau televisi. Namun, bukankah hal ini tidak menyebabkan adanya kasus perkosaan? Kendala yang tetap ada adalah perempuan masih saja menjadi korban laki-laki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar