Selasa, 29 September 2009

aku milikmu...

ku berharap abadi dalam hidupku
mencintamu bahagia untukku
karena kasihku hanya untuk dirimu
selamanya kan tetap milikmu


Di atas adalah penggalan lirik dari “Ku Ingin Selamanya” ciptaan Ungu. Salah satu teman saya senang sekali ketika seseorang yang ia suka menyayikan lagu ini untuknya. Katanya, ia merasa dicintai oleh orang itu karena liriknya yang ‘aduhai’. Saya coba cari liriknya dan baca ulang, walaupun nadanya lupa-lupa ingat. Kemudian, saya tidak merasa ada sesuatu hal yang bisa membuat saya “meleleh” dari lirik itu. Malahan, lirik itu membuat saya berpikir ulang tentang relasi kebahagiaan dan kepemilikan dalam berhubungan intim.

Setelah diperhatikan ulang—sekaligus mengingat-ingat kisah cinta pribadi pada zaman dulu, banyak perempuan maupun laki-laki yang merasa tersanjung ketika ada pernyataan “aku milikmu” atau “kamu milikmu”. Bisa-bisa, pernyataan itu membuat kita jadi mabuk kepayang akan cinta. Padahal, pada saat yang sama, sebenarnya kita secara tidak langsung kehilangan diri kita juga. Identitas kita seolah diambil karena menjadi milik—yang katanya—kekasih. Kalau dipikir lebih lanjut, apa iya kita bisa memiliki manusia yang juga mempunyai kebebasan dan kehendak untuk berpikir secara natural?

Dengan memiliki manusia, kita berarti mengambil kebebasannya, mengatur hidupnya, dan membatasi segala gerak-geriknya; sama halnya jika kita memiliki handphone misalnya. Jika memang begitu yang dimaksud para pelaku cinta, bukankah berarti bahagia yang mereka rasa hanya semu? Itu sama saja tidak memberikan ruang untuk mengembangkan diri. Padahal, bagi saya, seumur hidup adalah proses manusia untuk berubah—lebih ke arah mengembangkan diri. Dan, konsep berhubungan intim yang penting adalah merasa nyaman. Jadi, kalau saya merasa nyaman dengan menjadi miliknya (baca: barang) dan berarti melegitimasi keterbatasan saya, bagaimana saya bisa berkembang? Memang, sih, di sisi lain, kenyamanan juga bisa diciptakan.

Bukankan berhubungan intim itu juga bisa direkonstruksi? Pada kenyataannya, kita pun sudah terjebak oleh “ketinggian” kepemilikan dalam berhubungan. Dampaknya cukup membuat suatu hubungan terombang-ambing, sekaligus berwarna. Misalnya, cemburu (karena kamu milik saya, kamu nggak boleh pergi ama siapapun selain saya) dan teror halus (ditelepon dan di-sms terus karena harus menemani si empunya). Kebiasaan yang dirasa sudah menjadi patokan pasti sebenarnya bisa dibicarakan lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebebasan berkembang. Walaupun pada kenyataannya nanti akan ada rasa memiliki yang disadari dan tidak disadari, setidaknya pemikiran untuk mengubah konsep kepemilikan menjadi lebih manusiawi sudah ada dan menuju ke sana.

Dalam berhubungan intim, kedua orang itu sebaiknya saling menghargai dengan tetap menganggap individu. Ada baiknya dua orang itu tetap menjadi “aku dan kamu”, tidak melulu menjadi “kita”. Dua subjek, bukannya satu menjadi “subjek” dan satu menjadi “yang lain”. Sebenarnya, konsep itu tidak sulit kalau mau keluar dari belenggu “romantisme pasaran”. Kalau mau kasih lagu, coba dibaca lagi lirik “Gabriel” dari Lamb atau “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” dari Efek Rumah Kaca. Siapa tahu, siapa tahu lho, bisa cocok. Bagi saya, kedua lagu itu tetap menghargai individu amsing-masing. Melakukan sesuatu untuk pasangan bukan karena keharusan—yang dilakukan untuk si empunya—tetapi karena kemuan berdasarkan rasa.

(30 September 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar