Selasa, 29 September 2009

Laporan Diskusi Film Bulanan Paradise Now (September) Rabu, 9 September 2009



Ledakan dua bom di Kuningan, Jakarta pada Juli lalu mengejutkan masyarakat dan dunia internasional. Kemudian, pemerintah mendapat desakan kuat untuk mengusut dan menangkap pelaku. Terkait dengan kejadian itu, PSHK mengadakan diskusi film tentang isu terorisme. Namun, kami ingin melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang pelaku. Oleh karena itu, film yang kami pilih adalah Paradise Now.

Cerita dari Palestina dan Israel
Film ini mengisahkan dua sahabat dari Palestina, yaitu Said dan Khaled. Mereka direkrut oleh kelompok ekstrimis yang melakukan serangan teroris di Tel Aviv dengan meledakkan dirinya sendiri. Kemudian, beberapa hal tidak berjalan sesuai dengan rencana dan mereka harus pisah di perbatasan. Salah satu dari mereka melanjutkan dengan pasti tujuan serangan tersebut, satu lainnya menetap karena meragukan serangan itu.

Paradise Now lebih menitikberatkan cerita kepada tokoh yang bernama Said. Said lahir di kampung penampungan. Ayahnya dieksekusi sebagai seorang kolaborator Israel ketika Said berusia 10 tahun. Kesedihan Said yang mendalam tampak ketika ia berbicara berulang-ulang akan penghinaan dan kemaluan yang dirasakannya karena posisi ayahnya. Ia juga percaya bahwa Israel berhasil meyakinkan dunia bahwa mereka adalah korban dalam konflik dengan Palestina. Menurut Said, salah satu cara untuk melawan opresi adalah dengan membunuh orang Israel sebanyak-banyaknya. Namun, dalam perjalanannya, Said juga mengalami banyak konflik batin.

Surga di Dunia
Mohamad Guntur Romli sebagai narasumber dalam diskusi ini menegaskan bahwa Paradise Now merupakan film pilihan terbaik dalam pembahasan lebih lanjut mengenai aksi terorisme. Dari film ini, kita bisa melihat sudut pandang yang berbeda dari sisi pelaku. Sudut pandang seperti apa yang dimaksud Guntur Romli?

Aksi terorisme sering kali dikaitkan dengan agama fundamentalis. Kalangan radikal dari suatu agama seolah-olah menjadi satu-satunya kemungkin tersangka sebagai pelaku. Stereotip yang berkembang di masyarakat adalah pelaku bom bunuh diri pasti seseorang yang fanatik terhadap ajaran agamanya, berpakaian yang mencirikhaskan agama tersebut, dan mempunyai pola pikir yang selalu bertujuan kepada surga—kehidupan setelah kematian.

Akan tetapi, film ini menunjukkan calon pelaku bom bunuh diri tidak seperti yang ada dalam stereotip itu. Kedua calon pelaku ini berkehidupan dengan sangat manusiawi, bahkan dapat dikatakan jauh dari menjalankan agama dengan fanatik. Mereka tetap merokok, berpakaian selayaknya anak muda di sana, bahkan berciuman dengan lawan jenis. Dengan demikian, timbullah pertanyaan lanjutan. Faktor apa yang membuat mereka mau melakukan aksi bom bunuh diri?

Tidak ada harapan dalam hidup dapat menjdi salah satu alasan untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Mereka bisa saja menganggap hidup di dunia tanpa harapan atau meninggal tidak akan ada bedanya. Apalagi, saah satu aktor dalam film tersebut beserta keluarganya selalu mendapat cemoohan dari masyarakat sekitar karena bapaknya menjadi kolaborator. Hal itu pun yang mungkin menjadi alasannya, yaitu ia ingin membalas dendam kepada Israel atas apa yang mereka lakukan kepada ayahnya. Ia juga merasa sudah menanggung malu selama masa hidupnya.Ia beranggapan satu-satunya cara melakukan perlawanan atas apa yang telah ia terima selama ini adalah dengan ikut aksi bom bunuh diri.

Selain itu, rasa cinta terhadap negaranya juga bisa menjadi alasan yang lain. Rencana peledakan bom itu dianggap sebagai salah satu bentuk pengorbanan kepada negaranya—yang dalam konteks film ini adalah Palestina. Hal itu merupakan salah satu cara—bahkan kadang dianggap satu-satunya—untuk melakukan perlawanan terhadap Israel. Keinginan untuk menjadi pahlawan begitu besar dalam jiwa mereka.

Begitu manusiawi alasan-alasan mereka untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Bahkan, ritual agama hanya hadir satu hari sebelum mereka direncanakan untuk meledakkan dirinya. Hal itu menunjukkan stereotip bahwa gerakan bom bunuh diri yang kental dengan agama fundamentalis tidak sepenuhnya benar. Ada faktor lain selain agama yang tidak kalah kuat untuk meyakinkan seseorang melakukan aksi bom bunuh diri. Mereka mau melakukan aksi bom bunuh diri untuk merasakan surga di dunia.

Kepentingan Politis Dibalik Terorisme
Guntur Romli mengkaitkan faktor-faktor pendorong yang ditemukannya dengan penelitian Robert Pape. Menurut hasil statistik Pape, aksi-aksi terorisme yang dilakukan dari 1980 sampai 2003 cenderung dilakukan bukan dengan alasan agama fundamentalis. Aksi terorisme itu cenderung dilakukan dengan tujuan strategis, yaitu memaksa negara lain untuk keluar dari wilayah negaranya. Aksi terorisme itu dilakukan agar negara penyerang menganggap negara itu berbahaya dan segera meninggalkannya.

Penelitian itu pun masih dapat dikaitkan dengan kejadian di Paradise Now. Peserta diskusi pun sepakat akan hal itu. Akan tetapi, bagaimana dengan aksi terorisme yang terjadi di Indonesia?

Aksi terorisme di Indonesia tidak dapat disamakan dengan dengan aksi terorisme yang terjadi di film itu. Kondisi politik dan sosial-budaya di dua negara ini juga sudah berbeda. Sayangnya, diskusi itu tidak sampai pada kesimpulan apakah aksi terorisme di Indonesia dapat dipastikan karena agama fundamentalis seperti yang diberitakan di media atau ada faktor lain seperti yang dipaparkan dalam film itu. Namun, selepas diskusi ini, kami menjadi lebih terbuka bahwa agama fundamentalis bukanlah satu-satunya alasan aksi terorisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar