Jumat, 06 Februari 2015

Kalau mau Hitung-hitungan, Seberapa Adil Kesenian?

“Creative Court develops art projects and reflects on peace and justice from The Hague, seat of government and international city of peace and justice. Creative Court operates from the understanding that art has the ability to incite reflection, empathy and eventually peace.” ­ Mission of Creative Court 

Kamis, 5 Februari 2015, saya hadir dalam presentasi Creative Court di ISS, Den Haag*. Salah satu artis dan juga kurator, Bradley McCallum, bicara tentang kegiatan yang mereka lakukan. Presentasinya diawali dengan lukisan-lukisan super besar yang terpampang di galeri yang terlihat mewah. Lukisan itu dibuat berdasarkan foto-foto yang diambil dari International Criminal Court di Den Haag.

Hasilnya mencengangkan, apalagi dia juga cerita soal prosesnya yang memakan waktu tidak sebentar. Proses itu juga diperlihatkan dalam rentetan lukisan yang tidak sepenuhnya menyerupai foto asli, melainkan ada pula yang pewarnaannya membentuk peta-peta terkait perjuangan hak asasi manusia. 

Karya dan proses pembuatan Ai Wei Wei menarik perhatian saya. Dia hanya menggunakan kamera dalam telepon genggam pintarnya saat berkeliling dunia. Foto yang diambil adalah jari tengahnya dengan latar belakang bangunan sebagai simbol kekuasaan yang merenggut keadilan, seperti White House, Menara Eiffel, dan Great Hall of the People. Itu adalah salah satu bentuk protesnya yang bisa memancing partisipasi dari siapa saja dan di mana saja yang merasa punya kepedulian yang sama untuk turut serta, pun kepedulian sekarang rasanya juga sudah hambar.

Melihat rangkaian di awal presentasi McCallum, saya merasa canggung. Entahlah, saya beranggapan selama ini bahwa keadilan (atau hukum atau politik atau sebangsanya) selalu dianggap berjarak dengan orang-orang kebanyakan. Itu dilihat sebagai “obrolan” kaum eksklusif. Dan, kegiatan Creative Court yang pada misinya bilang bahwa seni mampu merangsang untuk berefleksi dan berempati malah merekonfirmasi jarak itu. Karya yang grande membuat saya sebagai audiens terintimidasi. Berempati mungkin, tapi kemudian mengambil jarak bahwa itu milik para elit, apalagi melihat tempatnya yang perlu setelan pakaian rapi untuk hadir di sana, mungkin kecuali seniman yang dilihat sebagai individu atau kelompok bebas dalam berpakaian, toh mereka sudah punya sesuatu di luar penampilannya.

Namun, bagi orang-orang seperti saya, rasanya perlu berpenampilan terbaik untuk bisa menyamakan frekuensi identitas di ruang seperti itu. Tempat itu sendiri sudah menyaring orang-orang yang bisa melihat karya. Perlu usaha lebih untuk datang, melihat, bahkan merasa diundang dalam pameran semacam itu di tempat seperti itu. Sayangnya, karya sejenaka dan se-“low profile” Ai Wei Wei ketika dipajang di tempat semacam itu kerap menciptakan jarak kembali. Tentu saja, anggapan ini saya ambil dengan melihat kebudayaan berkesenian dari sisi penikmat di Indonesia. Karya besar dan tempat mewah bagi saya adalah bentuk eksklusivitas, walaupun mungkin itu adalah pencapaian bagi para seniman.

Setelah bersabar sebentar, McCallum menunjukkan satu instalasi menarik. Saya jatuh cinta. Public listening. Ada instalasi di pinggir jalan berupa tiang kurang lebih 1,5 meter. Jika didekati, ada audio kesaksian di pengadilan. Audiens seakan dibisikkan tentang proses peradilan keadilan di tengah kota yang bising. Apalagi, sekarang, berapa banyak orang yang Anda kenal masih mau mendengarkan karena ingin mendengarkan dan bukan karena sedang menunggu giliran berpendapat? Ya, bisa juga teknologi komunikasi dan media sosial yang sudah mempermudah banyak hal ikut campur tangan dalam mengurangi pengalaman orang dalam “mendengar”. Saya suka ini, membayangkan orang-orang yang menunggu janji pertemuan untuk bersandar pada tiang itu sambil mendengarkan daripada sibuk dengan telepon genggam pintarnya. Apalagi, ini ada di pinggir jalan. Tidak ada penyaringan untuk menikmati karya ini. Siapa saja bisa menikmati. Kemudian, pertanyaan baru muncul, apakah seni ada untuk semudah itu? Jangan-jangan, seni memang diperuntukkan bagi orang-orang yang mau usaha karena proses pembuatannya juga sungguh tidak mudah. Saya tahu, ini bertentangan dengan argumentasi saya di atas, tapi ini patut juga dipertanyakan. Bagi saya, kesadaran bahwa masih bimbang dan disampaikan cukup adil. Bukan begitu?

Karya menyentuh hati lainnya adalah Rwanda20years. Prosesnya luar biasa. Ini tentang proses minta maaf dan memaafkan atas kejadian genocide di Rwanda. Seberapa memaafkan Anda? Maaf pun ada ukurannya bagi mereka. Dan, mungkin memang benar. Pun, apa-apa yang ada ukuran sedang saya curigai. Ini tidak perlu panjang-lebar karena lamannya sudah menjelaskan dengan lebih baik.

Semua karya yang ditampilkan McCallum tentang keadilan begitu miris. Karyanya luar biasa satu hal. Namun, saya melihat adanya kemarahan dalam semua karya, keputusasaan juga kepasrahan karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Semua miris dan menyedihkan. Apakah jika bicara tentang keadilan, semua terasa begitu miris? Dan juga eksklusif? Saya sebagai orang yang masih percaya akan keadilan (mohon jangan diukur tingkat kepercayaan saya terhadap keadilan saat ini) merasa ini tantangan tersendiri. Saya awalnya mengira seni justru bisa merangsang harapan bahwa keadilan masih mungkin terjadi atau dialami. 

Toh, ketidakadilan munculnya dari keadilan. Dari lemanya saja, kita bisa tahu, tanpa keadilan, ketidakadilan tidak bisa muncul. "Ketidakadilan" hanya menambahkan "tidak" untuk menjadikannya satu lema baru. Saya tahu, sebagian akan berpendapat bahwa ini seakan dukungan akan posisi binari; hitam-putih; benar-salah. Saya juga tidak menyangkal sama sekali adanya keadaan di antara, pun belum ada lema yang mewakilkan, bukan berarti itu tidak ada dalam mental model. Coba dilihat masa ketika ketidakadilan dirasa lebih merajalela. Saya melihatnya kemunculan "keadilan" sebelum "ketidakadilan" sebagai bentuk  optimisme. Keadilan masih ada, pun tersembunyi. 

Tapi, karya-karya yang ditampilkan oleh Creative Court justru memperlihatkan pola pacaran antara si seni dan si keadilan malah bikin masa depan melempem; realitas tanpa bisa disiasati. Dalam keadaan semacam ini, saya ogah mendengar celoteh orang yang bilang, “Nah, kan?”.


*Saya lebih suka pakai Den Haag daripada The Hague.
**Dan, saya juga sadar, seorang teman akan adu pendapat dengan bilang, "Seni, kan,--salah satunya--hanya untuk memotret keadaan sosial dan kadang bukan bentuk 'standing point' seniman. Dampaknya terhadap audiens tidak bisa dikontrol oleh seni itu sendiri, apalagi seniman. Dan, rasanya,  anggapan bahwa itu eksklusif sekaligus miris tidak dialami semua orang. Jangan generalisasi pengalamanmu dengan banyak orang lain." Selanjutnya, nanti bisa kita sambung sambil jalan di kota bising sambil minum teh botol atau bir.
***Mungkin, yang satu lagi akan bilang begini, "Bagaimana kalau semua karyanya kita taruh di media sosial sehingga lebih mudah dijangkau orang? Toh, tidak pernah ada yang bisa menjangkau "semua orang". Orang yang dimaksud tentu sudah ditargetkan dan dipersempit jangkauannya." Untuk yang ini, saya juga mau ajak atau diajak jalan-jalan di kota penuh kenangan sambil merokok, mungkin.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar